Tidak semua orang suka mengawali kisahnya dengan "matahari pagi yang cerah bersinar..." atau "pada zaman dahulu..." yang sangat klise dan membosankan. Alurnya bahkan bisa ditebak dari tiga alfabet pertama yang terangkai: segera-jadi-putri yang hidup sengsara, peri kecil bertelinga lancip yang menyulap keajaiban, seorang pangeran wajah tampan dan super-sempurna, akhir bahagia, blah blah. Itu dongeng anak kecil! Bahkan bocah enam tahun sekarang jauh lebih memilih kisah Romeo yang mengorbankan segalanya demi Juliet daripada Upik Abu yang menggosok lantai dengan kain bau. Kisah tragis adalah kisah yang menyenangkan, bung; happiness is overrated.
Ini sedikit memalukan tapi Jehan adalah satu dari sekian banyak orang yang memiliki pikiran (yang disebut-sebut) edgy dan sangat-keren itu. Secara fisik maupun mental dia tidak bisa terhitung remaja lagi—mental mungkin, sedikit—dengan angka yang mengisi data dirinya tahun ini. Dia sudah dewasa dalam banyak aspek, terutama dari segi umur. Hanya saja, bisa jadi dia terlalu malas keluar dari zona nyamannya yang selama ini berpikir bahwa sengsara itu indah; dasar masokis. Sebab itulah yang bisa membuatnya hidup sampai sekarang.
Atau lebih tepatnya, sampai delapan minggu empat hari yang lalu.
Akshara Jehan; pelukis, duapuluh-sesuatu tahun, frustrasi.
Seharusnya, berdasarkan teori yang diyakininya sejak dulu—ya, teori bahwa "kegelapan" itu indah dan hal-hal sejenisnya—dia masih hidup saat ini. Makan steik daging sapi dengan saus dan merica bersama rekan-rekan sejawatnya dalam balutan pakaian formal yang rapi dan bersih. Atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan dari balik kamera dan mikrofon seraya dia tersenyum memandangi pameran mahakaryanya. Atau dicari-cari sampai ke pelosok dunia untuk dimintai detail mengenai semua goresan tangannya; dikagumi, dipuja. Itu terdengar seperti rencana yang sangat menarik. Bahkan, mari jujur saja, Jehan sebenarnya sudah membuat daftar makanan apa saja yang akan disantapnya tiap akhir pekan di restoran-restoran bintang lima.
Sayangnya, rencana berima dengan wacana dan Dewi Fortuna sedang butuh bahan tertawaan. Teori tidak selalu benar—mungkin saja lintasan orbit-orbit planet ini sebenarnya berbentuk segitiga atau persegi, tapi Kepler menganggap itu tidak cantik untuk digambar sehingga merubahnya menjadi elips, kita tidak akan pernah tahu, kan? Maka, Jehan juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa ketika ia berusaha menggores pensil tetapi kanvasnya menolak untuk bekerja sama atau ketika telepon rumahnya berdering setiap empat jam sekali dari nomor yang sama menanyakan bagaimana perkembangan lukisannya untuk bulan ini sebelum akhirnya dia menyerah dan tidak menghubungi Jehan sejak seminggu lalu. Jehan baru saja melewatkan kesempatannya untuk menggelar ekspo pribadi demi menjawab rasa penasaran para penggemarnya dengan tangan yang hanya melayang di atas kanvas.
Jadilah yang dimakannya bukan sepiring steik daging sapi piring panas dengan saus dan merica, namun hanya kentang rebus dan sedikit garam. Yang dipakainya bukan pakaian formal yang rapi dan tegas, melainkan hanya kaus kedodoran yang sudah molor dengan cat di sana-sini dan celana pendek yang baru dicucinya setelah lima hari. Yang dijawabnya bukan pertanyaan-pertanyaan dari wartawan-wartawan berbulu mata lentik dan berbibir merah, tetapi hanya sisa-sisa pertanyaan apakah dia masih hidup dan melukis (Jehan ingin sekali berteriak kalau tidak, dia sudah tidak hidup dan tidak lagi melukis). Agak menyedihkan, sebenarnya, kalau tidak mau hiperbolis dan disebut-sebut tragis. Jehan lebih suka memanggilnya "Balada Pelukis Galau" ketika ia mengunyah kentangnya dan memandangi jalanan dari jendela rumah kecilnya. Mungkin sebentar lagi dia benar-benar akan mengalahkan Shakespeare dengan membuat lakon berjudul itu; membanting setirnya dari penggambar kanvas menjadi penulis sandiwara.
Kalau itu, bukan hanya Dewi Fortuna yang akan tertawa. Seluruh dunia juga. Tuhan mungkin juga, sampai perut-Nya sakit karena terlalu banyak mengejek Jehan.
YOU ARE READING
renjana
RomanceDari skrip milik Tuhan, kedua anak manusia tidak pernah sejalan. Malaikat Cinta mengerutkan dahi ketika melihat nama mereka di daftar miliknya, ada apa dengan dua belas langkah yang mereka rancang sendiri ini? Hanya dengan keputusan sesederhana itu...
