"Sorry, gue boleh duduk disebelah lo?"
laki-laki bertubuh tinggi itu tiba-tiba menghampiri Sesa yang sedang sibuk menggunting dan melipat bunga-bunga kertas untuk big-project angkatannya.
Hari itu adalah tepat D-1 Big Project yang merupakan rangkaian akhir ospek jurusan. Disaat semua orang sedang riweuh dengan tugasnya masing-masing, laki-laki tadi justru datang dengan santainya.
"Oh, duduk aja" Sesa masih sibuk menggunting semua dekorasi, ia bahkan tidak sempat melihat dengan jelas siapa laki-laki yang sekarang duduk disebelahnya, yang pasti dia teman satu jurusan juga, pikirnya.
"Gue bisa bantu apa?" tanya laki-laki tadi
sambil fokus pada guntingnya Sesa menjawab
"semua udah dapet tugasnya masing-masing, emangnya tugas lo udah kelar?" Lagi-lagi ia tidak memalingkan wajahnya pada orang disebelahnya
"Gue bahkan gak tau dapet tugas apaan, gue baru pertama dateng ke sini. Gue gak ikut rangkaian acara sebelumnya" laki-laki itu dengan santainya menjelaskan tanpa peduli Sesa mendengarkannya atau tidak.
"oh, nama gue Ilham" tambahnya
Mata Sesa terbelalak, ia memalingkan fokusnya pada laki-laki yang sedari tadi duduk disebelahnya. Wajahnya memerah. Ia seperti menyimpan dendam
"Oh jadi lo yang namanya Ilham?! Bener-bener lo ya nyusahin angkatan tau gak!" Sesa jadi marah-marah. Padahal ia baru mengenal Ilham
"Ya makanya gue dateng hari ini, buat bantuin angkatan, tapi waktu gue dateng orang-orang kayaknya gak ngenalin gue deh" Jelas Ilham
"Ya gimana mereka mau kenal sama lo sih, lo aja baru dateng hari ini, tanpa basa-basi. Sebulan yang lalu kita sibuk kenalan satu-satu, dan lo bahkan gak ada!" Sesa melepas gunting yang sudah ia pegang sejak tadi pagi.
"Lo gak tau sih! Gara-gara kita gak ada yang bisa menjangkau keberadaan lo, kita malah dapet konsekuensi minggu lalu. Terus lo dateng tanpa merasa bersalah gitu? " Tambahnya
"iya, gue udah tau ceritanya. Jadi gue bisa bantu apa, Sa?" tanya Ilham dengan cepat
"Sa? kok lo tau nama gue?" tanya Sesa heran.
"nametag lo" Mata Ilham seraya menunjuk arah nametag yang menggantung di leher Sesa.
*
Sudah sejak jam 6 pagi tadi kesibukkan di ruangan itu berlangsung, ruangan disekitaran student centre yang dipinjam khusus untuk melakukan persiapan big-project besok. Bertepatan dengan Hari Anak Nasional, project ini akan mengundang anak-anak SD, yang nantinya akan diisi dengan wahana karya untuk edukasi dan juga hiburan. Dekorasi dibuat se-menyenangkan mungkin. Flyer , bunga kertas dan balon warna-warni melengkapi dekorasi lapangan kampus hari esok.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sebagian sudah pulang kerumah dan kost-annya masing-masing untuk istirahat mempersiapkan fisik dan mental untuk esok hari. Sedangkan Sesa dan Ilham sejak tadi masih dalam posisinya. Tidak berubah.
"Lo gak mau balik dulu, Ham?" Tanya Sesa
"Lo sendiri?" Ilham balik tanya
"gue nginep disini, nemenin Indah sama Decky. Mereka masih harus mastiin panggung berdiri sebelum jam 2 pagi nanti." jelas Sesa
"yaudah, gue juga disini" jawaban yang tidak terduga dari Ilham. Dasar anak cuek.
"ngapain?" tanya Sesa yang justru heran
"emang gak boleh? Gue pengen bayar hutang atas ketidak hadiran gue sebelumnya"
Begitulah malam itu, Indah dan Decky sibuk mengatur panggung di lapangan basket kampus. Sedangkan Ilham dan Sesa masih sibuk menggunting dan meniup balon di ruangan tadi. Ilham adalah tipikal laki-laki yang cuek namun pintar membawa suasana. Meski hari itu adalah pertemuan pertamanya dengan Sesa, suasana tidak terasa canggung. Sesekali Ilham memancing Sesa untuk bercerita atau membuat guyonan-guyonanan ringan. Ya, setidaknya mereka seperti sudah kenal sejak lama.
Hanya satu yang membuat Sesa janggal.
Tadi pagi ruangan ini penuh sama satu angkatan. Dari puluhan mahasiswa lain, kenapa Ilham memilih untuk menghampiri dan duduk disebelah Sesa?
YOU ARE READING
AOZORA
Teen FictionLangit tidak melulu tentang biru dan putih, juga tidak selalu terang benderang
