Mengenal Dengan Gita

20 2 0
                                        

Usianya baru saja menginjak tujuh belas tahun, siswi SMA kelas dua belas, dan belum dewasa.

Maksud dari belum dewasa disini adalah belum dewasa dalam artian sebenarnya.

Seperti, tingginya yang tidak pernah meningkat semenjak kelas satu SMP, berhenti pada angka 147 cm. Tubuhnya yang dibungkus oleh daging tipis dan tulang kurus. Menjadikan Gita gadis paling mungil di kelas. Atau, mungkin, satu sekolah. Tetapi, itu bukan masalah utamanya.

Masalahnya–sebenarnya, Gita malu dan benci mengakui ini–payudaranya belum tumbuh. Bukan terlalu kecil, tetapi memang tidak ada yang menonjol di sana. Sama sekali. Dadanya benar-benar rata seperti dinding yang baru diampelas. Pinggulnya pun tidak melekuk indah seperti milik teman-teman perempuannya.

Gita bahkan belum mengalami menstruasi pertama.

Orang-orang bilang Gita tidak normal. Namun, Kak Tama dengan suara lembut nan menenangkan selalu bilang, “Mungkin belum waktunya.”

Sejak dulu, Gita menanti masa-masa itu. Masa-masa pertumbuhan. Masa-masa puber. Masa-masa perubahan dari seorang gadis kecil menjadi remaja dewasa. Menanti dan menanti.

Namun, masa itu tidak pernah tiba. Entah sampai kapan.

Hingga, suatu ketika, setiap malam menjelang, Gita bertanya kepada diri sendiri. Adakah yang bisa menerimanya dalam keadaan seperti ini?”

Gita selalu pesimis mengenai jawabannya.

Selalu pesimis... hingga saat itu, sekitar empat tahun lalu, sore hari sepulang sekolah, gerimis, di lapangan di samping sekolah, Gita dan beberapa teman sekelasnya duduk di salah satu kios makanan jalanan di sekitar lapangan.

Ini selalu menjadi ritual teman-temannya. Mereka duduk di sana, memesan es teh yang di bungkus dengan plastik sedang, di tambah gorengan bakwan hangat dan berlagak elegan, menyaksikan cowok-cowok dari SMP yang sama dengan mereka tengah bermain sepak bola di lapangan, dan berusaha keras menahan jeritan girang setiap kali tatapan mereka bertemu dengan cowok yang mereka sukai.

Sebagaimana remaja kebanyakan, mereka jelas sedang memasuki masa-masa remaja, jatuh cinta, dan berharap cinta itu berbalas.

Sementara Gita, untuk jatuh cinta pun ia khawatir. Khawatir tidak ada yang bisa menerima keadaannya, tetapi ia ingin. Jadi, satu-satunya cara adalah Gita harus terus menyimpan rahasia ketidakdewasaannya itu. Tidak boleh ada yang tahu.

Namun, saat Gita berpikir demikian, pada detik yang sama, Gita melihat bola di lapangan ditendang dengan sangat kencang, tidak melambung tinggi, tapi memelesat begitu cepat ke arah Gita dan teman-temannya. Para anak laki-laki berteriak dari kejauhan. Awas, bola!” Dan yang dapat Gita rasakan kemudian adalah hantaman keras bola yang basah di dadanya. Tubuh Gita terpelanting ke belakang, lalu jatuh karena kehilangan keseimbangan.

Kakinya menggantung di kursi panjang, kepalanya menyentuh tanah basah. Pening.

Lalu, yang Gita lihat setelahnya adalah teman-temannya yang mengerubunginya.

Beberapa murid cowok juga.

Namun, mereka bukannya lekas membantu Gita berdiri, justru mereka malah tertegun menatapnya, seolah mendapati sesuatu yang salah, dan beberapa dari mereka mengernyit.

Catching FeelingsStories to obsess over. Discover now