Prolog

742 62 13
                                        

Semesta mengangguk saat muncul keinginan laki-laki pemikir itu untuk pergi mengasingkan diri. Seakan Tuhan juga merestui dan mempermudah rencana tersebut, hingga dengan mudah ia berhasil meretas jarak ribuan mil dari puaknya, sebuah sudut kecil di kabupaten Mojokerto, si tuan rumah onde-onde.

Lima tahun ia bersembunyi dalam himpit keramaian the venice of the north, ibukota negeri kincir angin, Amsterdam. Sembunyi dari siapa? kenapa? Jawabannya terletak pada seorang gadis periang yang dikenalnya tujuh tahun lalu, seseorang yang mampu membuatnya kalah telak hingga menjadi alasan ia memantapkan hati untuk pergi mengasing. Hanya karena seorang gadis? Alasan yang terlalu gila untuk sebuah perjalanan hidup yang besar, tapi begitulah kenyataannya.

Ada yang pergi, ada yang kembali. Di Amsterdam ia duduk membaur dengan orang-orang berambut pirang sambil menikmati secangkir teh di sore hari, berpikir betapa berhasilnya persembunyian menguntungkan ini, ia memperoleh gelar dan pekerjaan yang bagus. Sementara dibelahan bumi yang lain, di pekarangan puak yang tak dapat ia pungkiri betapa dirinduinya, ada orang lain yang berhasil kembali tepat saat gadis itu jatuh dan begitu rapuh. Ia datang bak kesatria siap melakukan apa saja demi mengembalikan senyum diwajah Lily, ya nama gadis itu adalah Lily. Sekuntum bunga yang tak pernah kehilangan seri-nya.
_________________________________________

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, ya meskipun ada yang sedikit beneran. 😅
Apabila ada kesamaan nama dan tempat, saya mohon maaf, anggep aja kebetulan... 😁
Dah, gitu aja😅😅
Baca terus, awalnya emang gak asik, selanjutnya tambah gak asik lagi sih😅😂
Happy reading
*Vote nya boleh kali😅

LILY (Lil, I Love You)Stories to obsess over. Discover now