Prolog: Kita dan Waktu yang Tak Sempat.
---
"Kalau ada satu hal yang kusesali di dunia ini...
Itu adalah saat aku terlambat menemukanmu, terlambat mengenalmu..."
Ken memacu kudanya secepat angin, seolah hendak mengalahkan takdir. Jantungnya berdetak tak karuan, dan setiap tarikan napas terasa seperti belati menusuk rongga dadanya. Dunia di sekitarnya melesat kabur, tapi rasa takut itu semakin jelas—menggerogoti benaknya tanpa ampun.
"Pangeran... Cendekiawan C..." bisiknya, lirih dan pecah.
Raupan udara yang masuk ke dalam paru-parunya terasa sempit. "Semoga aku masih sempat... semoga masih sempat..."
"Seandainya waktu dapat diputar kembali, mungkin aku tak akan kehilangan kesempatan untuk menyatakan perasaanku padamu..."
Langit seakan menghitam saat hujan anak panah menghujani dari kejauhan. Satu per satu anak panah menembus punggung Pangeran Davian, seolah mencabik bukan hanya tubuh, tapi seluruh takdir yang pernah ia genggam. Darah muncrat dari bibirnya, merah segar, seperti janji yang gagal ditepati.
Davian jatuh terhempas ke tanah. Namun yang dia pikirkan bukanlah dirinya sendiri. Matanya menatap jauh ke depan, menggigil dan nanar, pada sosok yang tak lagi bergerak.
"Dan aku tak akan membiarkan dirimu mati seperti ini..."
Tangannya merangkak, berusaha menjangkau tubuh gadis yang telah lebih dulu roboh—bersimbah darah, terkulai sunyi di atas tanah yang dingin.
Dan dalam hening itu, cinta yang tak sempat diucap pun ikut terkubur.
"Seandainya waktuku masih panjang, aku bersumpah akan terus menjagamu..."
Tiga anak panah kembali menghantam tubuhnya—lebih dalam, lebih kejam. Suara napasnya mengerang tertahan. Sesuatu di dalam dadanya seolah hancur, dan perlahan... hidup mulai menjauh darinya.
"Maafkan aku... Clusiana..."
Erangan tertahan di bibirnya, dan air mata yang nyaris tak pernah tumpah, akhirnya jatuh juga. Kesedihan menemukan tempat di wajahnya—luruh perlahan seperti musim gugur terakhir.
"Namun jika kita terlahir kembali, maukah kau kembali mengenalku?"
Tubuhnya perlahan mati rasa. Menghirup udara terasa seperti mencuri napas dari langit. Sementara kenangan itu berputar dalam benaknya, seperti lentera kecil yang berusaha menyala di tengah badai. Di antara itu, ia bisa melihat senyumnya... Senyum kecil dari gadis yang kini telah membeku...
Sedetik lagi... mungkin dia akan menyusul. Dan untuk pertama kalinya, kematian terasa sangat dekat. Dan sangat menyakitkan.
"Maukah kau mengulang kembali apa yang telah kita lalui bersama?"
Ken menghentikan kudanya mendadak. Hatinya menegang. Matanya menangkap pemandangan di kejauhan—dan seketika lututnya lemas. Langkahnya patah. Dunia kehilangan warna.
Tubuh Davian dan Clusiana terhampar diam dalam pelukan darah dan sunyi. Seolah waktu telah selesai menulis takdir mereka.
"Tidak, aku... terlambat."
Tangannya mengepal. Matanya gemetar. Sementara dalam hatinya, ratapan tak bersuara itu menggema.
"Aku hanya tak ingin... menyesal untuk kedua kalinya..."
Namun, sesal tak pernah berjalan seiring waktu, ia hanya menunggu di ujung—di mana harapan telah berhenti bernapas.
---
YOU ARE READING
The Kingdom of Returning Souls
Historical FictionKen Aoki, si playboy nyentrik yang gemar berlagak bagai ksatria berkuda putih, tak menyangka bahwa mimpi liarnya justru menyeretnya ke dunia yang tak tertulis dalam nalar. Bukan sebagai pahlawan gagah bersenjata, melainkan... Seorang pengawal lusuh...
