1.Adibah dan Nida: Bagian Pertama

2.9K 34 0
                                        

Pagi ini Allah SWT, tidak merencanakan sesuatu yang lebih berbeda dari biasanya – dan akupun mengetahui akan hal itu dengan mensyukuri setiap tarikan dan hembusan nafas yang ia anugrahkan kepadaku, lebih tepatnya kepada kami, Hambanya.

Ketika bunga tidurku berhakhir pada bagian dimana aku merasakan bagaimana hangatnya pelukan seseorang wanita yang kuanggap sebagai ibu, anehnya akupun sontak tiba-tiba terbangun sebelum sempat melihat wajahnya.

Aku membatin dengan penuh tanda tanya"Mengapa?" apakah ada yang salah dengan mimpi itu?" apakah aku memang tidak akan dipertemukan dengannya, bahkan dalam...... " sekelibat makian kecil itupun terputus dan pecah menjadi tetesan air mata yang membasahi kedua pipiku.

Akupun membenamkan wajahku kedalam selimut dan secepatnya mengusap air mata itu berharap agar tidak ada yang mengetahui kesedihanku, termasuk teman se-kamarku sekaligus teman terbaikku, Nida. Namun setelah kulirik sebentar kesebelah kupikir ia masih tertidur pulas, terlihat dari kantung matanya yang tertutup rapat—

Aku tidak dapat tidur dan masih terjaga setelah terbangun karna mimpi tadi, dan berniat agar menunggu saja sampai Adzan subuh berkumandang untuk melaksanakan Solat Subuh berjama'ah seperti biasa di Masjid, bersama Nida dan anak Panti Asuhan NuruSyifa lainnya.

Tidak lama setelah itu, Adzan Subuh pun berkumandang dan aku yang tidak seperti biasanya yaitu bangun lebih awal dari pada Nida, kali ini malah aku yang harus membangunkannya yang masih tertidur di sebelahku. Namun seketika akupun melamun dan berfikir "Bagaimana cara membangunkannya dengan keterbatasanku seperti ini?" aku tidak dapat berbicara sepatah kata pun terlebih lagi memanggil namanya. Tidak seperti dia yang dapat membangunkanku dengan memanggil "Adibah" dengan suara yang lembut, atau lebih tepatnya seperti ini "Adibah, ayo bangun sudah waktu subuh". Ya, namun inilah aku "Adibah Ainun Nissa" anak yang di berikan suatu keistimewaan tersendiri oleh Allah SWT, yaitu seorang tunawicara sejak dilahirkan— setidaknya itulah yang dikatakan oleh Umi Hani, Ibu panti yang merawat kami semua disini.

Tiba-tiba...

"Adibah, kamu sudah bangun ya?" suara Nida memecahkan lamunanku. Aku dapat memahami setiap kata dalam pembicaraannya dengan baik karena setelah pemeriksaan di Rumah Sakit dulu pada saat usiaku 1 bulan, aku di diagnosa hanya sebagai seorang tunawicara bukan tunawicara-tunarungu. Aku berharap dapat membalas ucapannya dengan mengatakan "Ya" namun yang dapat kulakukan hanya menggenggam telapak tanganku dan mengayunkannya ke atas-ke bawah, menggunakan bahasa isyarat yang diajarkan oleh Umi Hani yang bearti kata "Ya".

Nida, juga memahami apa arti dari bahasa isyarat tersebut karena kami sudah sejak lama diajarkan saling berinteraksi satu sama lain ketika kami dipasangkan dalam satu ruangan kamar yang sama. Mungkin agar dapat mempermudah kami ingin menyampaikan sesuatu pembicaraan, tentunya.

Lalu, Nida pun beranjak dari tempat tidur kami sepertinya ke toilet, tidak lupa setelah membereskannya terlebih dahulu.

"Aku mandi duluan ya!" ia berseru sambil mengambil handuk yang tergantung di gantungan pakaian.

Aku mengangguk, sambil menengadahkan tanganku dan menunjuk ke arah toilet.

Seperti biasa dia tahu apa maksudku— Berdoa sebelum masuk toilet

Kemudian dia tersenyum dan berkata " Terimakasih, telah mengingatkan".

Setelah itu Aku, Nida, Umi Hani dan teman-teman Panti Asuhan lainnya pun pergi untuk melaksanakan Solat Subuh berjama'ah di Masjid "Subhanallah" Kukira aku beruntung hidup dalam lingkungan yang mengajariku akan suatu arti yang sangat bermanfaat di sisa-sisa ke hiruk-pikukkan kehidupan, hal yang patut diteladani oleh seluruh umat islam di seluruh belahan dunia yaitu, meninggalkan urusan pribadi sejenak dan meluangkan waktu untuk melakukan ibadah bersama.

Seusai solat berjama'ah kami pun pulang kembali ke Panti Asuhan NuruSyifa.

Di jalan pulang aku memperhatikan Umi Hani, menghampiriku dan mengangkat tangan menandakan huruf "A" kanan sambil ibu jarinya di kenakan pada tepi dahi kanan lalu digerakan ke depan. Namun aku tidak memahami apa maksudnya? Apa arti bahasa isyarat itu? itu belum diajarkan sama sekali olehnya refleks akupun mengangkat bahu tanda kebingungan.

"Itu artinya Assalamualaikum, Adibah " Umi Hani menerangkan.

"Subhanallah" kataku dalam hati, "ternyata salam dalam islam pun dapat dituangkan ke dalam bahasa isyarat, aku penasaran bagaimana aku dapat menjawabnya dalam hal yang sama.

Nida, yang memperhatikan hal tersebut juga pun ikut bicara.

"Oh. begitu lalu bagaimana Mi, jika Nida ingin mengucapkan Wa'alaikumsalam dalam bahasa isyarat?" Rasa penasaranku terbayarkan oleh pertanyaan Nida kepada Umi Hani.

"Itu mudah" Jawab Umi.

"Seperti ini" Lanjutnya sambil mempraktikan dengan tangan kanan menandakan huruf "W" sambil jari telunjuk di kenakan pada tepi dahi kanan lalu digerakkan ke depan.

Aku pun Membuka telapak tangan kanan dengan tapak kedalam lalu dikenakan pada bibir dan digerakkan ke depan—

"Iya, Sama-Sama" Umi Hani mengangguk ke arahku dan Nida.






A/N : HALOHAIIIIIIIIIII, ini cerpenku yang bertema islami :)

Semoga kalian suka dan dapat bermanfaat,

Hope  like it :)


Lanjuttt??????


-AMA

Kumpulan Cerita Pendek Bertema IslamiDes histoires addictives. Découvre maintenant