Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Chapter 1: Mushola

47 5 4
                                        

Ruangan luas itu terlihat sumpek dan panas, padahal semua jendela telah terbuka, untung saja Ali dekat dengan sebuah kipas angin, walaupun berukuran kecil tapi ini dirasa sudah cukup membantu  memudarkan rasa gugupnya.

Sekarang di gedung aula Sekolah Menengah Kejuruan Teknik sedang diselenggarakan tes perekrutan untuk calon karyawan di sebuah pertambangan emas terbesar di indonesia saat itu,

Bukan hal mudah tentunya mengalahkan para pesaing yang notabene lulusan SMK jurusan mesin, bangunan dan akuntansi.

Dulu anak smk dengan jurusan itu memiliki pandangan istimewa dan dicap sebagai murid yang benar-benar pintar.

Dari tujuh ribu pendaftar akan di saring dengan test tulis menjadi seribu peserta kemudian di saring kembali melalui tes fisik hingga terdapatlah lima puluh peserta.

Setelah itu mereka akan menjalani seleksi terakhir yaitu interview dan hanya dua orang yang akan di terima sebagai karyawan.

Ali kini sedang memperhatikan mading, disana memajang nama-nama peserta yang lolos ke tes berikutnya, tiba-tiba ia tersentak melihat namanya berada di posisi ke dua dari lima puluh peserta.

Dia memang anak pintar dan cerdas, teman-temannya pun sudah tak heran bila Ali akan lolos sampai babak terakhir seleksi prekrutan karyawan yang paling sulit di tahun ini.

Semua peserta berkumpul ke aula untuk mendengarkan arahan selanjutnya.

Jadwal interview di umumkan oleh seorang pria berwajah kokoh serta memakai jas rapi tentunya, terlihat dengan jelas bahwa dia pasti memiliki jabatan lebih tinggi dibanding orang-orang yang mendampinginya, dengan wajah tak kalah seram mereka sedikit menundukan kepala saat dia bapak ketua pelaksana berbicara, seperti ingin terlihat bahwa 'mereka akan selalu patuh pada atasannya itu'

"Besok bersiaplah untuk hari yang besar, kami mencari calon pekerja yang profesional, kuat mental, dan taat peraturan"

Tegasnya dengan suara yang agak tinggi, Bapak itu terlihat sangat misterius, mimik wajahnya sulit dibaca.

***

Ali bergegas bangun dari kasur kapuknya, waktu menunjukan pukul 4.00 subuh, ia langsung menyambar handuk dan bergegas mandi.

Tidak biasanya ibunya telah menyiapkan air panas untuk ia mandi, agar tidak masuk angin ujarnya dan karena ini hari yang besar untuk Ali.

Setelah mandi, dengan mengenakan celana hitam dibalut sarung dan atasan baju putih polos, Ali pergi ke Masjid untuk shalat subuh berjamaah.

Selesai shalat dia kembali kerumah untuk sarapan, di meja makan telah tersedia segelas susu sapi murni tanpa gula baunya memang agak sedikit anyir karena memang ini benar-benar susu sapi yang baru di perah dan langsung di hangatkan, serta dua butir telur rebus ayam kampung yang sangat jarang Ali makan,

***

Sesampai nya Ali di tempat interview ia terkejut melihat teman-teman seperjuangannya yang tampak sedikit berbeda, kali ini begitu rapi dan wangi, beberapa ada yang menggunakan pomed dirambutnya, hingga terlihat kelimis agar tampak berwibawa, menggunakan sepatu hitam dari kulit hewan yang nampak lebih mengkilat dari biasanya, dan ada pula yang berpenampilan biasa saja seperti Ali saat ini.

Masing masing peserta diberi satu tempat duduk, berjajar sesuai nomer urut interview, Ali mendapatkan giliran ke empat puluh dua, selama menunggu ia berusaha tenang dan terus berdoa.

Sesekali melirik keadaan sekitarnya, ada yang terlihat begitu gugup, terus mengayunkan tumitnya dengan ritme yang cepat, ada juga yang menggenggam sapu tangan bersulam nama pemiliknya sudah pasti dirajut oleh orang terkasih, sesekali digunakan untuk mengelap ingus dan keringat yang terus bercucuran.

Suasana gedung ini sekarang sangat lengang tidak seperti hari pertama seleksi, tapi udara begitu panas karena ketegangan yang terasa berkali-kali lipat.

Satu jam berlalu, nama Ali sebentar lagi dipanggil, terhitung sudah ada tiga puluh orang lebih telah di interview dalam waktu singkat, hanya masuk beberapa menit dan kemudian keluar dengan wajah payah.

Semua peserta yang masih menunggu giliran semakin tertekan dengan keadaan itu, tidak sedikit pula teman-temanya yang selesai dari sana sampai menangis atau menitikan air mata, padahal semua peserta adalah laki-laki entah karena bahagia atau apa, Ali dan yang lainnya hanya bisa melihat dari jauh.

"Ali Suherman, silahkan masuk ruang interview" panggil seorang  panitia.

Ali menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan kemudian menepuk-nepuk dadanya dengan tangan seraya berkata,

"Semua akan baik-baik saja, Bismilah"

Langkah Ali telah sampai di depan pintu ruangan interview, kemudian ia mengetuknya lantas dipersilahkan masuk dan duduk di depan enam orang berjas rapi, seperti biasa lagi-lagi bapak berwajah kokoh itu ada, dan berpenampilan lebih mentereng dari yang lainnya.

Pertanyaan demi pertanyaan dijawab Ali dengan yakin, sudah lima belas menit ia berada diruangan itu, ya lebih lama dari pada peserta yang lain, terlihat semua orang di depan Ali tersenyum puas bertanya ini dan itu.

"Ali Suherman.. Selamat anda kami terima di perusahaan ini, soal gaji anda tak usah risau, dan walaupun di pedalaman fasilitas disana sangatlah lengkap, dari lapangan golf sampai rumah pribadi juga ada, jika ada fasilitas yang kurang kami akan buatkan khusus untuk anda, jadi.. apakah ada pertanyaan untuk ini?" jelas Bapak ketua panitia, wajahnya kini berbeda terlihat sedikit ramah

"Ya saya ada pertanyaan untuk fasilitas, apakah disana ada masjid atau jika tidak ada bolehkah saya dibuatkan sebuah mushola?"

Mereka terdiam sejenak, memandang Ali lamat-lamat.

Entah mengapa, pertanyaan Ali itu membuat suasana menjadi berbeda, mereka yang tadi terlihat sedikit ramah, kini terlihat sebaliknya. risih, marah, atau tersinggung, ia tidak tahu apa yang salah dari pertanyaannya itu.

Ruangan hening beberapa detik, suara jarum jam begitu membuat atmosfir ruangan itu menjadi lebih menyeramkan.

Bapak berwajah kokoh itu angkat bicara.

"Tidak ada lagi yang anda ingin katakan? Terima kasih telah mengikuti interview ini dengan baik, hasil kelulusan akan kami kaji ulang silahkan keluar dari ruangan ini" ujarnya dengan nada bicara sedikit tinggi dan kesal namun wajahnya tetap kembali ramah.

Ali pun keluar dari ruangan interview,  dalam keadaan masih bertanya-tanya dan bingung, tadi ia begitu bahagia telah diterima diperusahaan itu, lalu tak lama semua berubah oleh satu pertanyaan.

"Siapa yang salah? Apa yang salah? mereka mencari calon pegawai yang profesional, kuat mental dan taat aturan, aku masih tak mengerti aturan mana dan siapa yang harus ditaati, apa menurut mereka  mentaati aturan manusia dan mengabaikan aturan Allah sang pemilik alam raya? Begitu tak masuk akal." Ujar Ali dalam hati, ia masih tak paham akan kejadian tadi.

***

Dua hari setelah itu Ali dinyatakan gagal dengan alasan tak masuk akal, seharusnya ada dua orang yang mewakili kota untuk menjadi pegawai disana, tapi yang satunya yaitu Ali gugur karena masalah administrasi.

Tapi ia tidak menyesal atau marah, mungkin memang bukan rezeki bagi Ali, ia percaya bahwa segala keputusan itu berasal dari Allah, manusia hanya bisa menerima dan kembali berusaha.

Author phov
Ini adalah pengalaman yang sering Ali ceritakan pada anak-anaknya, ia selalu menitipkan pesan sederhana bahwa

"Dalam hidup ini uang dan jabatan tidak selalu menjadi nomer satu"











~~ Holaaa.. ;) ~~
Ini cerita pertama aku di wattpad, sebelum nya udah pernah sih bikin cerpen tapi gak aku terusin karena males haha moody..

Oh iya maaf yah kalo ada typo typo bertebaran atau ada kalimat yang kurang merenah.

Aku masih proses belajar menulis, jadi aku butuh bangt komen kalian ocekay ;D

Thank for reading
Salam kenal
W.denim

VERLEDEN Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang