Dia datang.
Tya terpaku diam ketika melihat seseorang yang bertamu di rumahnya. Genggaman tangan pada tas belanjaannya terlepas begitu saja. Dia datang lagi?, tanyanya dalam hati. Dan seseorang itu menatapnya dengan tatapan dingin seperti biasanya. Seseorang yang dibencinya.
Seseorang yang pergi tanpa kabar.
Seseorang yang tiba-tiba menghilang.
Seseorang yang pertama kali membuatnya sakit hati. Karena dia tak suka menunggu. Namanya Harditama Len.
Selintas berbagai kenangan melayang diingatannya. Kenangan manis yang tidak akan pernah dia lupa sampai sekarang. Dia tahu. Dia paham, seharusnya kenangan itu dia buang saja. Tapi hatinya berkata lain. Mengunci rapat-rapat kenangan itu agar tidak dilupakan.
Namun sekarang, dia menyesal. Seharusnya dari dulu kenangan itu dia lupakan dan buang jauh-jauh dari otaknya. Dia sadar dan menyesal mempertahankan kenangan itu. Karena setelah dipikir-pikir, untuk apa mempertahankan kenangan jika yang dikenang pergi meninggalkannya?
"Lo siapanya Tya?" tanya Ardi tiba-tiba kepada kekasihnya, Mario, yang berada disampingnya.
Tya bahkan tidak sadar bahwa Ardi kini berada didepannya. Sebelum Mario menjawab, Tya duluan membuka suara, "Dia pacar gue. Kenapa?"
Seketika mata Ardi menyalang marah, rahangnya mengeras, dan dia menggerutukkan giginya. Dia menatap Tya dengan tajam, "Kamu pacaran sama orang lain, sedangkan kamu masih berstatus sebagai pacar aku? Tega kamu, Tya."
Tya membalas tatapannya dengan tak kalah tajam, "Lalu lo apa? Membuang ceweknya sendiri ditengah hubungan. Tegaan lo atau gue?"
Lalu air muka Ardi melunak, "Aku sayang sama kamu. Aku nggak pernah berniat ngebuang kamu. Aku pergi mendadak, Tya. Ada yang harus kuurus."
Tya tertawa sinis, "Lo pikir gue akan percaya sama omongan lo itu? Lo dengerin gue baik-baik, gue udah anggap hubungan kita selesai sejak DUA TAHUN lalu. Sejak lo pergi ninggalin gue tanpa sebab."
Mendengar itu, Ardi menatap tajam kearah Tya lagi. Tapi tidak membalas ucapan Tya. Dia mengalihkan tatapannya kearah Mario yang hanya terdiam mendengarkan perdebatan dua insan ini. "Gue mohon sama lo, tolong tinggalin dia. Jujur ini memang salah gue karena udah ninggalin dia. Tapi semua itu ada sebabnya. Gue nggak mungkin ninggalin orang yang gue sayang tanpa sebab. Gue sayang banget sama Tya," pinta Ardi dengan memohon.
Tya mendelik dan menatap tajam Ardi, "Apaan sih lo. Sampai kapan pun gue nggak bakal mau balikan sama lo." ucapnya dengan tajam.
"Kamu masih sayang kan sama dia?" tandas Mario tiba-tiba. Mario tidak benar-benar diam mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi Mario berpikir mengenai hubungannya yang dia jalani kurang 6 bulan ini.
Tatapan Tya melembut kearah Mario, "Yo, aku nggak mungkin masih sayang sama dia. Dia udah ninggalin aku selama 2 tahun. Yo, percaya sama aku. Aku sudah move on dari dia."
Mario menggeleng, "Mata dan hati kamu nggak berkata seperti itu, Tya." Dia tersenyum getir. Kemudian dia menunjuk dada Tya, "Hati kamu nggak sependapat sama omongan kamu. Aku tahu kalau selama ini dihati kamu masih ada seseorang. Tapi aku nggak tahu siapa itu. Aku juga tahu kalau kamu terima aku dengan terpaksa. Kamu nggak bisa bohongin perasaan kamu sendiri, Tya. Dan kamu jangan terlalu maksain diri kamu untuk mencintaiku. Karena semakin kamu memaksanya, semakin perasaan itu nggak akan tumbuh. Aku rela ngelepas kamu sama dia, asal kamu bahagia. Lihat kamu bahagia, aku juga ikut bahagia."
Perlahan air mata Tya mengalir. Semua yang dikatakan Mario adalah kebenaran. Bukannya dia tidak mencintai Mario selama ini, tapi hatinya belum menerimanya. Berbagai cara sudah dia lakukan untuk menerima Mario. Tapi nyatanya tidak ada yang berhasil. Sekarang dia merasa bersalah. Dia menganggap dirinya sendiri telah menyakiti perasaan cowok sebaik Mario. "Jadi sekarang kamu mutusin aku?" tanyanya disela air matanya turun dengan deras.
Mario mengangguk perlahan, "Bahagia kamu bukan sama aku. Bahagia kamu sama dia." Dengan perlahan Mario memeluk cewek itu dengan lembut sebelum akhirnya mereka berpisah ditempat. Ini bukan perpisahan biasa. Ini adalah perpisahan perasaan antara mereka.
Tya semakin menangis saat Mario memeluknya. Mario sudah tahu semuanya, tidak ada lagi yang harus dia tutupi dari cowok ini. Tidak seharusnya dia menerima cinta Mario. Mario memang lebih pantas dengan cewek yang baik, bukan dengannya.
Tidak berapa lama kemudian Mario melepaskan pelukannya dan mengalihkan tatapannya kearah Ardi. "Jaga dia baik-baik," ucapnya sembari menepuk pundak Ardi. Kalimat terakhir itu membuat Tya tak mampu berkata-kata.
Setelah punggung Mario tak terlihat dari pandangan mata, kali ini Tya menatap Ardi dengan marah, "Puas lo sekarang? Lo udah bikin hubungan gue sama Rio putus. Dulu lo buang gue, sekarang lo hancurin hubungan gue. Mau lo apa sih, Di?"
Ardi maju selangkah. "Jangan maju. Selangkah aja lo maju, gue nggak akan maafin lo selamanya," tahan Tya.
Ardi pun kembali mundur selangkah dan menatap Tya. Dia menghembuskan nafasnya, "Aku nggak buang kamu, Tya. Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak buang kamu. Aku sayang sama kamu. Mana mungkin aku meninggalkan orang yang kusayang tanpa sebab? Aku pergi karena ada urusan."
"Urusan apa?" Tanya Tya langsung.
Ardi langsung terdiam seribu bahasa saat Tya menanyakan itu. Hati dan egonya saling bersuara. Sehingga dia bingung harus memilih apa. Hati atau ego?
Namun saat dia hendak memantapkan pilihannya, Tya tertawa sinis, "Nggak bisa jawab kan lo?" ucapnya dengan tajam, "Lo pernah janji sama gue untuk nggak ninggalin gue. Tapi nyatanya apa? Lo ninggalin gue. Lo pergi tanpa jejak. Lo pergi disaat gue lagi sakit keras. Sampai gue sembuh dari penyakit gue, lo nggak muncul dihadapan gue. Kalo lo nggak cinta sama gue, jangan lakuin ini kepada gue, Di. Lo jujur sama gue, bukannya menghilang tanpa kabar."
Ardi sadar. Ardi tahu pada saat itu dia telah melakukan kesalahan besar. Seharusnya dia tidak melakukan itu kepada Tya. Namun apa yang dia lakukan ini demi Tya. Sebenarnya Ardi tahu apa yang dia lakukan untuk meluluhkan hati Tya kembali, namun dia rasa cara itu malah membuatnya sakit. Bukannya meluluhkan hati Tya, tapi malah membuat cewek itu merasa kasihan. Tidak. Dia tidak suka dikasihani. Lebih baik cewek itu tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Tya, dengerin aku dulu. Kamu salah paham."
"Salah paham gimana maksud lo? Gue sakit hati, Di. Lo adalah cowok pertama yang buat gue jatuh cinta. Lo, cinta pertama gue. Dan lo juga adalah cowok pertama yang buat gue sakit hati. Sekarang gue minta sama lo untuk pergi dari rumah gue dan jangan pernah balik lagi kesini."
Pada akhirnya Ardi pasrah ketika Tya menyuruhnya pergi. Dia menurut dan pergi dari rumah Tya tanpa menjelaskan apapun lagi.
Seandainya kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi, Tya, apakah kamu mau bertahan demi aku? Seperti aku yang mencoba mempertahankan cinta kita.
Dan dia sepertinya dia tahu apa yang terjadi selanjutnya.
*****
HEYHOOO....
ADUH DEG-DEGAN GUE MEMPUBLISHNYA :v
SEMOGA KALIAN SUKA CERITA PERTAMA GUE :)
JANGAN LUPA TINGGALKAN VOMENT YAAA
MAKASIH SEBELUMNYA :) LOVE YOU GUYS :*
Shawn Mendes - A Little Too Much
YOU ARE READING
Come Back
Short Story"Lo adalah cowok pertama yang buat gue jatuh cinta. Lo, cinta pertama gue. Dan lo juga adalah cowok pertama yang buat gue sakit hati." -Chintya Putri. "Aku nggak buang kamu, Tya. Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak buang kamu. Aku sayang sama...
