Bagian 1

259 11 8
                                        


"Aku mau kopi, Bertha!"

Keduanya tengah berada dalam persaingan kontes tatap mata. Bertha memandang July persis seperti tatapan Ibu yang melihat kegagalan anaknya. Penuh rasa kecewa. Sementara July balik menatap Bertha dengan air muka yang letih karena semua semangat hidupnya telah tersedot ke dalam lembaran-lembaran tugas kuliah di dalam tas. Tidak ada lagi yang tersisa. Energinya telah dihabiskan untuk menulis kalimat-kalimat kosong tak berkesudahan yang bahkan tidak bicara tentang apa-apa, kecuali teori-teori dan sedikit sekali proses pengamatan.

"Akan ku buatkan. Tunggu sebentar." Jawab Bertha masih dengan nada kecewa.

July duduk di meja paling pojok ruangan. Tubuhnya yang kecil disandarkan ke dinding. Kepalanya tidak terlihat. Menghilang tertutup rimbun tanaman hias tropis yang sengaja diletakkan untuk memperindah ruangan. Dari jarak agak jauh, July hanya akan tampak seperti gumpalan mantel musim dingin yang tebal dan terabaikan. Jika dilihat oleh orang yang memiliki gangguan mata, maka July hanya akan tampak seperti tumpukan pakaian kotor yang kumal dan menyedihkan. Sangat kasihan.

Orang yang datang ke kafe itu tidak akan pernah menengok dua kali untuk memberinya perhatian. Karena tidak ada yang mau berteman dengan kemalangan. Tidak ada yang ingin bangun pagi dan menemukan wajah mereka di cermin sambil berpikir, aku tampak menyedihkan seperti July.

Maka pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya, July duduk sendiri dengan pikirannya yang kalut dan tubuhnya yang semakin lama semakin kurus. Ia telah berhasil menyelesaikan makalahnya yang menumpuk dalam waktu semalaman. Tanpa tidur. Dan tanpa pikir panjang, dalam artian sebenarnya.

Tapi ia jelas mengerjakan semua makalah sialan itu dengan keringat dan usaha yang tidak mudah. Karena saat ia merasakan sensasi aneh di kulit tempat sidik jarinya berada, July tahu bahwa jarinya telah bercinta dengan keyboard semalaman penuh tanpa jeda. Setidaknya, itu yang bisa ia banggakan. Dan ia merasa berhak untuk mendapat nilai belas kasihan!

Tapi rasa lelah kadang memang menyerupai bisikan setan. Ia membuat July tertidur dan melewatkan jam pertama kuliah. Sekarang makalah-makalah itu hanya akan tersimpan di dalam tasnya. Tidak sempat disetor ke dosen karena alasan keterlambatan. Harusnya July tahu bahwa pengajarnya tidak akan menerima berbagai alasan keteledoran.

Dan semua makalah itu, yang telah ia kerjakan dengan penuh perjuangan, hanya akan mengendap, menjamur, dan terus-menerus hadir sebagai pengingat pada kegagalannya sebagai mahasiswa. Ketidakberdayaannya pada nasibnya sendiri. July tidak suka! Ia ingin membuang semuanya ke dalam tempat sampah atau mengubahnya jadi kertas bungkus gorengan. Atau apa saja. Ia tidak peduli!

Tiba-tiba segelas kopi sudah berada di hadapannya dengan cara meletakkan yang tampak lebih menyerupai seperti gertakan. "kamu terlambat lagi, July." Bertha menunjuk jam seolah berusaha memperkuat argumennya. July muak. Kalau bisa, ia ingin menelan Bertha dan angka-angka di jam itu sekaligus. Karena ia tidak butuh lagi orang lain untuk terus mengingatkan kesalahannya!

Terimakasih banyak, pikir July.

"Katanya mau lulus empat tahun, tapi minggu ini sudah dua kali skip kelas."

Luar biasa. July merasa sedang dipaksa duduk di ruang tamu keluarga untuk mendengar ceramah tentang betapa pentingnya kuliah. "Aku akan lulus empat tahun, ok? Tolong, ladeni pembelimu yang lain!"

Mendengar itu, Bertha pergi dengan rasa kecewanya yang semakin menjadi. Tapi Bertha terlihat baik-baik saja. Faktanya, semua orang terlihat baik-baik saja di mata July, kecuali dirinya sendiri.

Ia merasa seperti sebongkah mayat yang terus bernafas hari demi hari, dan entah bagaimana, berhasil melewati tahun demi tahun dan masih terus bernafas hingga sampai pada titik terendahnya saat ini. Dan pada detik ini juga, July sudah merasa tercekik. Tidak lagi bernafas lewat hidung dan paru-paru, tetapi lewat ginjal, empedu, usus, atau apa saja yang tetap membuatnya bernafas seolah ia memang ditakdirkan lebih lama hidup untuk merasakan penderitaan. Karena meski semua semangatnya telah luntur, July tetap tidak mati. Ia hanya semakin kurus dan semakin loyo. Tapi tidak pernah mati.

July tidur. Menyandarkan kepalanya di meja. Sekarang, ia nampak persis seperti bongkahan mayat.

Di ruang gelap dalam alam tidurnya, July melayang, merasakan beban tubuhnya yang teramat ringan. Ia lupa pada dunia nyata yang selama ini tidak pernah berhenti merongrong untuk menagih kewajibannya. Hingga suara ketukan di meja membuatnya setengah sadar dan lepas dari khayal.

Meski teramat bodoh dalam berbagai hal, July yakin kali ini bukan Bertha yang mengetuk meja. Ia tidak tahu kenapa, tetapi instingnya yang payah mengatakan demikian. Lagipula tangan Bertha tidak memiliki daya untuk melakukan kelembutan. Ia selalu mengerjakan segalanya dengan kasar. Sementara ketukan yang baru saja ia dengar lebih menyerupai dentuman tuts piano yang ditekan penuh dengan kehati-hatian.

Tok. Tok. Tok.

July tetap tidak peduli. Ia tidur lagi.

"permisi, saya boleh duduk di sini?"

Benar, bukan Bertha! July melihat wajah lelaki asing tengah berdiri tepat di hadapannya dan menjulang tinggi seperti menara. Ia sempat tercengang untuk beberapa saat, sebelum rasa ketidakpeduliannya memilih untuk mengabaikan. Dan kembali terlelap.

"Hm, permisi?"

July bangun setelah tidak tahan. "Hah?"

"boleh saya duduk di sini?"

Setelah beberapa lama hanya diam dan melirik ke seluruh ruangan untuk melihat apakah semua meja memang telah diisi atau pria ini hanya datang untuk berbasa-basi, July akhirnya menganggukkan kepala. Belum sempat pulih dari kantuknya, dengan sangat cepat Si Tinggi itu telah duduk di hadapannya. Menyeruput kopi. Membenarkan kerah kemeja. Membolak-balikkan catatan kecil yang ia keluarkan dari dalam tas. Melihat angka di jam tangannya cukup lama. Sebelum akhirnya berdeham dan menawarkan perkenalan.

Bagai disambar petir, July merasakan kursi yang ia duduki bergoyang.

"Raka" katanya,

"July" jawabnya. 

10:59Where stories live. Discover now