Needed Me (Prolog)

21 3 8
                                        


FLASHBACK

(Author POV)

Terlihat dua orang remaja sedang berkejaran di lorong-lorong kelas yang sepi. Perempuan yang dikejar itu namanya Jeanne, siswi kelas 10 Sains A. Sedangkan yang mengejar adalah Vino, siswa kelas 11 Social C. Karena Jean perempuan, tentu saja tenaganya sudah terkuras habis karena dikejar Vino yang tubuhnya tinggi dan besar. Sekuat tenaga ia melarikan diri dari Vino, tetapi tetap saja ia akan tertangkap.

Dari jarak yang lumayan dekat, akhirnya Vino dapat menjangkau Jeanne. Dengan cepat ia meraih tubuh Jeanne dan segera memeluknya dengan erat. Tapi yang dipeluk justru berusaha melepaskan diri.

"Jean, dengarkan aku dulu!"

"Apalagi yang ingin kau katakan, bagiku itu semua sudah cukup. Jangan ganggu aku lagiiii!", teriak Jean sambil menangis dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Vino.

"Tolong maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi tidak semua yang kau dengar dari mulut-mulut sialan itu benar."

"Lepaskan aku, Vino!!!"

Jeanne tetap bersikeras untuk melepaskan tangan Vino yang melingkar di leher dan pinggangnya. Hingga akhirnya ia benar-benar kehabisan tenaga dan berdiam pasrah didalam pelukan Vino.

"Tolong maafkan aku Jean." Kata Vino dengan lembut.

"....."

"Aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mau memaafkanku. Sekali lagi aku minta maaf. Tapi tolong jangan jauhi aku. Aku mencintaimu. Ini sungguhan. Aku benar tulus mencintaimu, Jean."

"Vin, tolong lepaskan aku." Ucap Jean dengan lembut.

FLASHBACK END

(Jeanne POV)

"Halo Tania, apakah kau sibuk hari ini?........Bisakah kita bertemu? Aku sangat rindu dengan sahabatku ini........Jam10?.....Ok, di 23 Street ya.......Daaah!!"

Uuuuh, senangnya setelah 2 bulan aku tidak bertemu dengannya. Tania memang orang yang sibuk. Pagi sampai sore, dia kerja. Malamnya harus mengurus Luna, anaknya yang baru berusia 4 bulan.

Senang rasanya jika aku mendengar teman seperjuanganku dulu, sekarang sudah sukses dan berkeluarga. Berbeda denganku yang terlalu pekerja keras hingga lupa jika umurku sudah 26. Waktu yang pas untuk menikah. Tapi it's okay, aku percaya jika jodoh akan datang dengan sendirinya.

(10.14 at Cafe 23 Street)

"Aku tahu kau lebih tua dariku Jean, tapi setidaknya tolong dengarkan nasehatku."

"Hmm?"

"Umurmu sudah cukup untuk menikah, menikahlah Jean."

Sudah berpuluh-puluh kali Tania menasehatiku seperti itu. Tapi tetap saja tak ku hiraukan. Jujur saja, sebenarnya aku juga ingin menikah. Tapi dengan siapa? Tidak ada laki-laki yang mau menikahi perempuan egois dan tertutup sepertiku. Pacar saja tidak punya.

"Oh Taniaku sayang, aku lapar. Bagaimana kalau kita memesan beberapa makanan?"

"Jangan mengubah pembicaraan!! Kau selalu seperti itu."

"Iyaa, aku tahu. Aku juga ingin seperti kau yang sudah bahagia bersama Sam dan Luna. Tapi....", aku sudah lelah untuk menjawab pertanyaan Tania.

"Vino bagaimana? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya." Lanjut Tania seakan-akan menyindirku.

"...."

***

Haii terima kasih sudah mau membaca :) Maaf kalau bahasanya sekiti membingungkan.

Sangat senang apabila kalian mau meninggalkan vote dan comment :)


Needed MeBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin