#Jungkook POV
"Argh.., sial! sial! sial! kenapa semuanya jadi seperti ini?!"
Drap drap drap..
Derap langkahku, bukan! Langkah kami terdengar nyaring saat menyusuri lorong gelap ini.
Hah.. hah hah..
Hembusan nafas bersahut-sahut layaknya sedang lomba lari, tak ada yang mau mengalah.
"Cepatlah kalian semua! Kita harus pergi dari sini! Cih payah!" teriak Yoongi-hyung. Terselip nada marah, kesal sekaligus pasrah disana.
"Ho-Hobie-hyung.. ." kudengar seseorang menggumamkan sesuatu, sangat lirih. Itu Jimin-hyung, karena hanya dia yang memanggil Hoseok-hyung, Hobie-hyung.
Aku mencoba untuk melihat Jimin-hyung yang berada di samping kananku tepatnya berlari di belakangku, kulihat dengan samar matanya berkilat basah. Ingin rasanya aku menangis saat itu juga, akan ku dekap ia sambil menenangkannya, sekaligus menenangkan diriku sendiri. Tapi kami tak punya waktu untuk itu semua. 5 pasang kaki ini harus berlari menjauh darinya dan secepatnya keluar dari sini. Ini sangat memuakkan!
Krincing..
DEG!
Seketika jantungku seperti diremas pelan. Bunyi itu, aku mencoba untuk menajamkan telinga tanpa menghentikan langkahku. Kurasakan udara di sekelilingku menjadi berat. Ugh.. aku merasa mual, rasanya sesak, siapa yang mengambil oksigennya? Rasa sesaknnya membuat kakiku lemas.Tolonglah terus berlari demi diriku dan hyungku.
Krincing..
Suara itu lagi. Bunyi gemerincing dari rantai besi yang diseret. Memecah paduan suara napas kami. Kami semua menoleh takut ke belakang, memastikan bunyi itu, memastikan sesuatu. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh kami. Suatu kesalahan yang membawa kami pada situasi menyebalkan seperti ini. Aku tak menyukainya.
Aku merasa seseorang sedang mengikuti kami dari jauh, perlahan tapi pasti, 'dia' mengejar mangsanya, tertawa kecil melihat betapa ketakutannya kami dengan wajah pucat pasi, betapa bingungnya kami mencoba mencari cara untuk lepas dari jeratan rantai yang telah 'ia' jadikan perangkap, bagai ranjau, dan kami adalah mangsanya. Aku bahkan seperti bisa melihatnya sedang tersenyum mengerikan. Lengkungan itu menghiasi mukanya, dimulai dari satu sisi pipi ke sisi yang lainnya.
Eh, kenapa aku beranggapan seperti mengetahui apa 'itu'?, mengetahui seperti apa rupanya. Ha! Bodoh sekali, hanya dengan mendengar suara rantai itu saja sudah membuat kami berlarian, terbirit-birit.
Krincing..
Huh..
Tidak-
Tidak!
Suara itu semakin mendekat. Sial, kumohon jangan mendekat, jangan mengejar kami! Dadaku terasa panas, napasku tercekat. Rasanya tangan itu mencekik leherku. Tapi aku tak boleh berhenti di sini, kita harus selamat!
"H-hyu-hyung, bagaima-" aku mendengar Tae-hyung bicara tergagap, suaranya penuh kekhawatiran, ketakutan, kepasrahan, dan pengharapan.
"Terus berlari, Taehyung," sela Jin-hyung ,"Kau harus terus berlari, jangan menyerah. Hah-Kita pasti akan selamat dan berkumpul lagi-Hah hah-saat istirahat makan siang di kantin seperti biasanya" Kudengar suara yang Ia coba untuk keluarkan saat terengah-engah, Jin-hyung mencoba menenangkan kepanikan Tae-hyung. Padahal aku tahu, sama seperti kami Jin-hyung juga ketakutan, terlihat dari kekalutan matanya yang bergetar, bergerak-gerak mencari cahaya keluar.
Kutatap Jin-hyung, wajahnya sudah memutih, bibirnya tak lagi menunjukan rona pink, keringat dingin sudah membanjiri wajah tampan dan tengkuknya.
Di malam itu, batin kami berdoa pada Tuhan.
'Tuhan, tolong selamatkanlah kami'
Tbc
Fuahh.. XD my first ff jadi
Entah apa yang kalian rasakan saat baca ini, semoga perasaanku bisa tersampaikan dengan baik. Ekhem
Jadi next chap, bakal ada flashback dulu.
Btw mohon kritik dan sarannya. I know, mungkin cerita ini ga menarik, ga bagus atau bla bla bla..
But yeah, i will try to fix it
Semoga ceritanya menarik minat kalian untuk membaca dan mengikuti ceritanya <3
Salam hangat
Ciao~
YOU ARE READING
That time...
Horror"Arghhh..., sial! sial! sial! kenapa semuanya jadi seperti ini?!" - Jungkook "Apa menurutmu ini real?" - Hoseok aka Hobie "Pfftt omong kosong.." - Namjoon "Hey, aku tantang kau untuk masuk ke sana dan coba untuk membuktikannya. Kau tak takut kan...
