23

13.6K 771 15
                                    

Kesalahpahaman dalam keluarga Zidane akhirnya terselesaikan. Mereka bisa hidup seperti keluarga pada umumnya. Zidane juga sudah belajar untuk menerima kenyataan pahit itu.

Hari ini hari pernikahan ayahnya dengan wanita itu. Pernikahannya meriah dan banyak orang penting yang menghadari acara itu.

Orang tua Angel yang kebetulan juga rekan bisnis ayahnya datang menghadiri acara itu. "Saya baru tau kalau putri saya dekat dengan anak rekan kerja saya," kata Aldo sambil tertawa pelan.

"Saya juga baru mengetahuinya. Padahal Angel beberapa kali pernah datang ke rumah saya," terang Andrew.

"Kebetulan yang sangat mengejutkan."

Angel dan Zidane terlihat sedang duduk di luar gedung, menikmati angin sepoi-sepoi yang menemai mereka.

"Angel, makasih ya. Lo ngajarin gue banyak hal selama gue deket sama lo. Dan karena lo juga gue bisa baikan lagi sama papa."

"Zidane, ingat ya bukan gue loh yang buat lo sama papa lo baikan. Tapi itu lo sendiri, kalau bukan karena kemauan lo sendiri, lo ga bakal ngelakuin. But congratulations, Zidane!"

Zidane memeluk Angel erat. "But still, thank you."

"Zidane lo tau ga jantung gue lagi berdebar kencang loh. Mungkin bisa aja keluar dari posisinya," bisik Angel.

"Gue bisa ngerasain kok. Tenang aja ga bakal keluar dan kalau keluar pun bakal gue sambut," bisik Zidane tepat di telinga Angel.

"Iyain aja deh, biar seneng. Mau sampai kapan lo peluk gue?"

"Sampai kapan-kapan. Gue gamau lepasin dan gaakan pernah lepasin." Pipi Angel memerah mendengarnya.

Angel melepas pelukan mereka, menatap Zidane lama. "Zidane lo ingat tentang omongan lo waktu lo nginap? Lo serius ngomongnya?" tanya Angel ragu.

"Gue ga pernah ga serius sama omongan gue. Tapi kalau lo ga percaya sama gue, ga masalah sih. Yang penting kan lo udah tau perasaan gue."

"Zidane! Jadi orang jangan terlalu blak-blakan gitu kenapa? Terus jadi cowok romantis dikit napa? Susah ya kalau dulunya es terus jadi meleleh." Zidane tertawa.

Tak ada perubahan di diri Angel sejak pertemuan pertama mereka. Masih tetap bawel, tidak bisa diam, dan alay. Tapi Zidane bersyukur bisa bertemu dengan Angel.

"Yaudah kita coba jadi romantis." Zidane berdeham.

Zidane menghela nafasnya. "Ah! Tapi gue gabisa. Gue bukan tipe cowok romantis nih. Jadi gimana dong? Terima gue apa adanya aja ya? Yang penting kan gue sayang sama lo."

Angel tertawa pelan. "Zidane, gue penasaran deh lo bisa bahasa apa aja. Lo coba ngomong dalam segala bahasa yang lo tau, bilang lo cinta gue," tantang Angel.

Zidane menaikkan sebelah alisnya. "Yakin lo mau tau? Gue tau cukup banyak bahasa loh." Angel mengangguk semangat.

"Saya cinta kamu."

"I love you."

"Ti amo." (Italia)

"Ek het jou lief." (Afrikaans)

"Unë të dua." (Albanian)

"Soro lahn nhee ah." (Cambodian)

"Ik hou van jou." (Dutch)

"Mahal kita."

"Apa? Kita mahal? Emang sih, gue emang mahal." Zidane mengetuk pelan dahi Angel.

"Emang bahasa Filipinanya gitu, mau gimana?" Angel terkekeh pelan.

"Lanjut ga?" Angel mengangguk cepat.

"Je t'aime." (French)

"Ich liebe dich." (German)

"S'agapo." (Greek)

"Hum Tumhe Pyar Karte hae." (Hindi)

"Aishiteru." (Japanese)

"Sarangheyo." (Korean)

"Wo ai ni." (Mandarin Chinese)

"Doo-set daaram." (Persian)

"Eu te amo." (Portuguese)

"Te iubesc." (Romanian)

"Seni Seviyorum." (Turkish)

"Tôi yêu bạn." (Vietnamese)

"Phom rak khun." (Thai)

"Apa lagi ya? Lo mau bahasa apa deh?" tanya Zidane.

Angel menatap Zidane takjub. "Udah, udah cukup. Makasih." Zidane terkekeh.

"Udah yuk masuk ke dalam aja kita. Katanya sih ada ice cream."

"Zidane, tunggu. Gue baru ingat satu hal. Zidane yang bawel dan hangat lebih asik dari yang dingin kemarin ya? But still, I love both."

"And now you're my coldest boy."

Zidane menarik tangan Angel, memakaikannya gelang. "Wah cantik banget, thank you!"

Zidane menggenggam erat tangan Angel seakan tak ingin melepaskannya. Zidane berjanji tidak akan pernah melepas gadis itu.

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan comment-nya ya, saran dan kritikan kalian juga sangat dibutuhkan, buat lanjutin cerita lain!😉

Sincerely,
Fiona

My Coldest BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang