1 - First Meet

22 7 22
                                        

1 - First Meet

Hari ini, aku ingin sampaikan sebuah dongeng. Bukan dongeng seorang putri yang tertidur menunggu pangerannya datang dengan sebuah ciuman, bukan juga seorang putri yang mempunyai rambut sangat panjang dan tinggal di sebuah menara yang menunggu pangeran datang menyelamatkannya. Melainkan cerita tentang diriku, seorang putri yang jatuh dari langit.

Kenapa? Tidak percaya? Sama aku juga. Tanyakan saja pada pangerannya nanti. Eh salah, dia bukan pangeran, hanya seorang laki-laki biasa yang tidak ada hebat-hebatnya. Oh iya, perkenalkan namaku Nia Rahmadhani. Bukan Ramadhani, kalau Nia Ramadhani itu nama artis. Ingat namaku Nia Rahmadhani, ada "h" nya.

Mulai saja, saat itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA di suatu sekolah di kota yang cukup indah. Hari itu cuaca sedikit mendung, udaranya cukup dingin. Aku sedang naik mobil angkot saat itu, hanya seorang diri, mungkin karena aku murid baru jadi aku berangkat harus pagi agar nanti tidak dicap sebagai siswi buruk. Bagi yang tidak tahu mobil angkot, angkot itu semacam mobil angkutan umum yang sudah ada jurusan-jurusannya bisa antar desa, atau pun kota.

Terlihat sekolahnya sudah dekat, aku bersiap untuk turun. "Kiri... Kiri...." turunlah aku dari mobil angkot dan membayar ongkosnya. Di seberang jalan, terlihat ada Sarah. Sarah itu teman sekelasku, kami dekat banget, bisa dibilang teman curhat. Lihat kanan-kiri lalu aku jalan menyebrang.

"Nia, hari ini gak bawa tas jinjing?" tanya Sarah.

"Eh iya! Sarah tadi aku bawa. Jangan-jangan ketinggalan di angkot tadi." Aku panik tidak karuan.

"Itu angkotnya masih kelihatan." Menunjuk ke arah angkot yang tadi.

"Mas! Angkot berhenti!"

Sangat disayangkan, angkotnya tetap berjalan dan pergi menjauh. Aku mulai pasrah akan keadaan itu. Isi tas itu hanya buku-buku tugas se- "Aduh! Buku PR fisika ada di tas itu! Gimana ini Sar!" ujarku tambah panik mengingat buku fisika yang ada di tas itu. Guru fisika di sekolahku tegas, tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan PR. Aku panik apalagi aku siswi baru, baru sebulan sudah dapat masalah saja.

Seketika ada sebuah motor berhenti di depan kami berdua, rupanya dia siswa dari sekolah kami. Cowok, lumayan lebih tinggi dariku. Memakai jaket hitam dan helm hitam dengan motornya yang hitam, pokoknya serba hitam.

"Eh, ini tolong nih! Buku-bukunya dibawa angkot," ujar Sarah yang tiba-tiba berbicara seperti itu ke cowok di depan kami.

"Ayo naik."

"E-eh serius?!" tanyaku dengan muka masih panik.

"Ikut saja."

Aku yang tanpa memikirkan apa-apa karena panik langsung saja ikut dengan cowok yang membawa motor hitam itu. Aku melirik ke arah Sarah, dia menggangguk dengan senyum dan jempol tangan ke atas, apa sih maksudnya.

Kalau diingat, ini pertama kalinya aku dibonceng dengan laki-laki lain selain ayah, teman atau keluargaku. Maksudku, pernahlah sama tukang ojek tapi itu kan tukang ojek, emang kerjaan dia mengantar orang lain. Tapi ini cowok lain yang belum kukenal, aku saja tidak mau kalau di ajak pulang bareng sama teman cowok yang kukenal.

"Mobilnya yang mana?" tiba-tiba dia bertanya kepadaku.

"Ya-yang biru!" jawabku spontan.

"Iya emang angkot disini kan warnanya biru, maksudnya yang seperti apa?" tanya dia lagi.

"Gak tahu! Emang ada orang yang perhatikan angkot dengan detail?"

"Ada."

"Siapa?"

"Supir angkotnya."

Aku senyum-senyum sendiri. Apa dia mencoba untuk membuatku tidak panik, ya iya lah supir angkotnya pasti memperhatikan angkotnya, sama saja ketika kita punya barang dan selalu menjaganya agar tetap awet. Ya kuakui itu membuat panikku sedikit berkurang. Untungnya, mobilnya terlihat olehku.

Falling PrincessHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora