Prologue

136 15 10
                                        

Angin menerpa surai tiga namja dengan kuat, membuat tiga namja itu merasakan ketenangan dan sedikit kesejukan di saat sinar matahari yang terik menusuk tubuh ketiganya.

Hening. Hanya terdengar suara rerumputan yang ditiup hembusan angin sejuk. Mereka bertiga menutup matanya, menikmati hembusan angin yang mungkin saja tak akan mereka dapat rasakan lagi.

Mereka bertiga berdiri pada posisi di tiap sudut yang membentuk sebuah segitiga, dengan posisi ini mereka dapat melihat satu sama lain dengan sangat jelas.

Di padang rumput yang luas, jauh dari keramaian, mereka bertiga menunggu. Menunggu sang harapan datang. Datang untuk menyelamatkan mereka.

Tiba-tiba saja teriknya sinar matahari tidak dapat tubuh mereka rasakan lagi, awan gelap menutupi sang mentari, membuat kegelisahan timbul lagi pada pikiran masing-masing.

Satu diantara mereka memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya. "Sebaiknya kalian pergi duluan," kedua namja lainnya memandang sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya. "Aku akan menyusul kalian," kedua namja tadi menggeleng dengan yakin.

"Pabo! Tentu saja, kami tidak akan meninggalkanmu!" Bentak namja berkulit putih pucat dengan mengepalkan telapak tangannya, merasa geram akan sikap sahabatnya itu.

"Tidak! Kita harus pergi bersama-sama hyung, kalau perlu kita terkutuk bersama saja!" Tegas namja satunya lalu memalingkan wajahnya dan gigi kelincinya mengigit bibirnya, menahan tangisnya yang ingin pecah.

Namja yang dipanggil pabo dan hyung itu menggeleng, tidak terima akan keputusan kedua sahabatnya. "Tidak! Kalian harus pergi! Jangan pedulikan aku, kalian harus menjaga tanah air kita!"

Namja berkulit putih pucat menunduk, "Tanpa kau, aku dan Jungkook tidak akan lengkap, Jimin!" Kemudian ia menatap Jimin, sedangkan Jimin yang ditatap langsung mengalihkan pandangannya pada yang lain.

"Yoongi hyung, Jungkook, ku mohon pergilah!" Jimin tetap bersikeras menyuruh kedua sahabatnya itu untuk pergi tanpa dirinya.

"Tidak akan Jimin hyung! Aku dan Yoongi hyung akan pergi jika bersamamu, kita harus percaya pada Ryuna!" Jungkook tersenyum, menunjukkan gigi kelincinya tapi matanya sudah tidak kuat membendung air-air itu hingga terjatuh, dengan cepat ia menghapus airmatanya yang sudah terjatuh.

Yoongi mengangguk, "Benar, kita harus percaya pada Ryuna! Yeoja itu pasti akan datang, hanya dia yang bisa menyelamatkan kita." Yoongi menarik kedua ujung bibirnya, ia mencoba tersenyum saat keadaan seperti ini.

Jimin yang sudah berani untuk menatap Yoongi ikut tersenyum dan mengangguk yakin.

Sebuah suara muncul, ketiga namja itu saling menatap satu sama lain, mencoba mencari asal suara itu, suara deru nafas yang memburu.

Seorang yeoja datang sambil berlari, ia berhenti di depan Jimin. Dengan kepayahan yeoja itu mengeluarkan suaranya, "Aku baru saja menemukannya," yeoja itu memakaikan sebuah kalung dengan permata berwarna putih ke leher Jimin. "Maafkan aku,"

"Tidak apa," Jimin mengusap kepala yeoja itu dengan lembut. "Terimakasih, Ryuna." Jimin memegang pipi Ryuna dan mengusapnya.

Tangan Ryuna menggengam tangan Jimin, membuat Jimin berhenti mengusap pipinya, Ryuna menurunkan tangan Jimin dari pipinya kemudian menggenggam tangan itu erat dengan kedua tangannya. "Jadi, apa kalian akan pergi?" Ryuna menatap Jimin, Yoongi dan Jungkook bergantian.

Mereka bertiga mengangguk pelan, membuat Ryuna menghembuskan nafasnya kasar lalu melepaskan tangan Jimin. Ryuna berjalan ke inti segitiga ketiga namja itu, ia berputar-putar untuk dapat melihat ketiganya. "Selamat jalan!" Ryuna tersenyum dengan matanya yang sudah menjadi bendungan air.

Dengan kepayahan Yoongi, Jimin dan Jungkook membalas senyum Ryuna. Mereka bertiga menggengam permata pada kalung masing-masing, menutup kedua mata dan tenang. Kemudian keluarlah wings dari punggung mereka, wings dengan warna yang sama dengan permata pada kalung masing-masing. Yoongi wings berwarna merah, Jimin wings berwarna putih dan Jungkook wings berwarna biru.

Ryuna membulatkan matanya, ia hampir tidak percaya bahwa yang dilihatnya saat ini benar-benar nyata.

Yoongi, Jimin dan Jungkook mulai mengepak-ngepakan wings. Lalu mereka mulai naik ke atas perlahan-lahan.

Ketiganya melambaikan tangan pada Ryuna. "Selamat tinggal, Ryu-"

Ucapan mereka terpotong karena tiba-tiba saja mereka terjatuh, ada sebuah kilat muncul, langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap, sangat gelap.

"Kita terlambat hyung!" Teriak Jungkook dengan penuh kecemasan.

"Kalian, apa yang terjadi?" Ryuna panik melihat tubuh Yoongi, Jimin dan Jungkook yang mulai berubah dari ujung kakinya.

"Ryuna, hanya kaulah yang dapat menyelamatkan kami!" Yoongi, Jimin dan Jungkook berucap bersamaan sembari memberdirikan tubuh masing-masing.

"Ta-tapi, ba-bagaimana bisa, aku?" Ryuna semakin panik, wings mereka pun berubah warna menjadi hitam gelap.

"Darah,"

"Keringat,"

"Dan airmata."

"Aku tidak suka darah, keringat dan airmata! Aku takut 3 hal itu!" Teriak Ryuna sambil mengacak-acak rambutnya.

"Hanya darahmu, keringatmu dan airmatamu yang dapat menyelamatkan kami!"

***

Ini fanfic pertamaku yang mengandung unsur fantasy.

Kira-kira ada yang minat baca ga nih?

Sampaikan pendapat kalian di comment, ya? Terimakasih😆

Jangan lupa vomment-nya chingu😉

-Adistia Apriyani-
[17/05/12]

Blood, Sweat and Tears [Fantasy]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora