"DION itu yang mana sih?!" seru Ara untuk kesekian kali. Jelas banget dia jengkel, apalagi untuk yang kesekian kali pertanyaan itu masih juga disahuti ketawa penuh arti kedua temannya.
Sial, gerutunya dalam hati. Ini dia susahnya bergaul sama dua orang ini. Mereka suka ketawa tanpa alasan, bikin kita setengah mati nebak-nebak apa artinya. Bisa aja artinya Dion itu cowok ber-BB (dan kalau ini bener, Ara bener-bener tobat). Atau mungkin nggak ber-BB tapi ber-BJ, alias bau jempol (idem-tobat). Atau mungkin nggak punya masalah bau-bauan tapi soknya selangit, jadi mendingan nggak usah naik kelas aja sekalian, daripada mesti memohon-mohon ditularin pinter barang secuil... Atau bisa juga itu cowok jeleknya minta ampun, terus ntar ngejar-ngejar Ara siang-malam karena kepalang naksir... Hhhh, merinding mikirinnya.
Itulah susahnya jadi murid bego yang nekat sekolah di sekolah yang motonya "jadi murid mesti pinter" ini. Nilai jeblok dikit aja, langsung kena penalti. Mesti ikut mentoran-wajib, yang bahasa kerennya program belajar-mengajar. Itu lho, program masang-masangin murid pinter dan murid bego untuk belajar bareng sepulang sekolah. Ribet. Dan sekarang Ara cuma bisa ngeliatin teman-temannya sambil ngurut dada, nunggu mereka selesai ngeringin gigi.
"Enak ya bisa ngetawain gue?" sindir Ara beberapa saat kemudian.
"Sori banget, Ra," ujar Kimi di sela ketawanya. "Abis lucu banget sih nasib lo. Udah mempermalukan diri di teater sekolah kemaren, nilai jeblok, diputusin cowok, eh sekarang dapet mentor yang... amit-amit!" Tangan Kimi yang dikepal bergantian ngetuk-ngetuk bingkai papan pengumuman dan perutnya.
Melihat itu kerut di dahi Ara makin dalam.
"Eits! Siapa bilang gue diputusin? Gue yang mutusin, asal lo tahu aja! Dan itu karena dia mata keranjang! Tapi, be-te-we, yang namanya Dion beneran segawat itu, ya?" tanya Ara, mulai waswas.
"Gawat wat! Tapi lo tenang aja, ada Monik. Dia sempat naksir cowok itu. Jadi kalo lo butuh profil pribadinya, tanya aja dia!"
"Hah? Masa sih? Kirain Monik cuma bisa naksir Alexander Septian, si cowok baik hati yang tampangnya imut dan senyumnya bisa bikin iman rontok itu. Kok gue nggak pernah tahu Monik naksir Dion?!" Ara memandang Monik yang tiba-tiba berhenti ketawa dan malah melongo kayak kulkas yang pintunya dibiarin nganga lebar.
Tanpa menggubris tatapan Ara, Monik langsung protes. "Kok kamu gitu sih, Kim? Bohong, Ra, aku nggak pernah naksir Dion!"
"Pernah, hayo! Nggak ngaku, lagi!" ledek Kimi sambil mulai senyum-senyum. "Dia pernah naksir cowok itu, Ra. Bukan cuma naksir, tapi kesengsem. Cinta pada pandangan pertama, gitu judulnya. Sayang pas pandangan kedua, cintanya beku kena sengat tatapan gunung es!" Kimi ketawa. Tangannya dengan penuh semangat mendorong-dorong bahu Monik yang masih bengong, nggak percaya rahasianya dibocorin dengan enteng dan tanpa perasaan bersalah.
"Kok kamu gitu sih, Kim?"
"Jadi kalian mulai rahasia-rahasiaan di belakang gue, ya?"
Monik dan Ara langsung kor bareng. Tapi Kimi belum juga berhenti senyam-senyum nggak jelas. Akhirnya Monik dan Ara berpandang-pandangan, trus ngangkat bahu. Nyebelin banget siiiiih!!!
"KIMI!!!" bentak mereka.
"Tenang, tenang, selalu ada alasan di balik tindakan gue," ujar Kimi akhirnya. Dengan sorot mata senang dipandanginya kedua temannya yang jelas-jelas sebel. Dia menarik napas dalam-dalam, trus masang wajah serius.
"Pertama, Mon, rahasia cinta lo itu udah lewat tiga bulan umurnya. Artinya udah kedaluwarsa, jadi boleh dibocorin!" Diangkatnya tangan kanannya waktu Monik mau protes. "Dan Ara sayang, kami bukan main rahasia kok. Seperti gue bilang tadi, si Monik naksirnya cuma itungan detik. Abis itu dia nyesel, jadi nggak bisa diitung rahasia."
YOU ARE READING
SECRET LOVE (edisi revisi)
Teen FictionBuat Ara yang selalu ceria, Dion si cowok pinter lebih mirip arca daripada manusia. Mana ada sih manusia yang pasang ekspresi datar dalam segala situasi? Bahkan setelah denger Ara ngasih julukan-julukan aneh buat dia, Dion cuma mengernyit kecut dua...
