01

36 12 1
                                        

"Dengar, gue lagi bokek. Jadi dengan hati yang tinggi, gue mohon sama lo pada buat bayarin bakso gue." kata Kenio dengan wajah tengilnya dan meletakkan semangkuk bakso di atas meja kantin.

Farel mengerutkan keningnya, matanya menatap Kenio dengan protes. "Lo pikir duit gue banyak. Gue gak mau ah, bayarin bakso lo."

"Bener, ini salah lo juga gak hati-hati bawa mobil. Kan jadi masuk bengkel." sambung cowok di depan Kenio dengan nada kesalnya. Mimik wajahnya seperti mengingat-ingat kejadian kemarin saat Kenio membawa mobil dengan kecepatan tinggi.

Katanya kalau mengendarain apapun, dirinya selalu merasa bahwa dia adalah saingat terberat Valentino Rossi.

Kemarin, ketiga cowok itu pulang dari cafe. Kenio lah yang membawa mobil, dengan kecepatan yang hampir mendekati kecepatan cahaya-menurut Alan-. Tak ayal, baru 10 menit mengendarai mobil, Kenio tak sengaja menabrak bus sekolah.

Bus itu selamat dan sehat walafiat, tetapi, tidak dengan mobil Kenio. Keadaannya mengenaskan, sedikit merubah bentuk aslinya. Tak ingin Bundanya tau, karena sudah jelas akan diberi ceramah gratis hingga telinganya pecah, cowok itu membawanya kebengkel sendiri dan terpaksa memakai uang jajan bulanannya.

"Kan, lo pada kok gitu sih. Lo gak ingat jasa-jasa gue sama lo?" tanya Kenio dengan nada terluka. Alan dan Farel menghela napas. Masing-masing kedua cowok itu mengeluarkan dompetnya dan memberikan cowok itu uang selembar 50 ribuan.

"Nah gitu dong." Kenio tersenyum sumringah dan mengambil uang itu. "Lo berdua emang the best."

"Hah, bas-best-bas-best. Serah lo." dengus Alan dan memakan mie gorengnya. Yah, walau itu salah Kenio dan terpaksa harus merepotkan dia dan Farel tapi sebenarnya keduanya tak keberatan.

"Mantan gue kemarin nge-chat gue." kata Farel sambil menopang kepalanya dengan tangannya. Alan mengangkat sebelah alisnya. Menunggu kelanjutan cerita Farel. "Ngajak gue nonton."

"Halah, mantan lo apa elo yang ngajak nonton. Gue hapal banget sama elo bangke." sambar Kenio sambil menunjuk Farel dengan garpunya.

Cowok berambut cepak itu mendengus, Kenio memang selalu hapal dengannya. "Lo bicarain si Bela kan?" tanya Kenio lagi dengan mata menyipit.

"Iya. Kok lo tau sih? Lo cenayang ya?" Farel menatapnya dengan menyelidik. Namun cowok itu menyengir polos, Alan juga tertawa padahal tak ada yang salah.

"Gue kemarin ngecek hp lo. Gak sengaja deh." pantas saja, dasar bandit!

"Sialan lo berdua! Terus lo bedua tau apa lagi?"

"Bela nya nolak!!!! Hahahaha!!!" itu adalah tawa sadis Alan dan Kenio yang begitu merusak telinga. Tak lucu sama sekali bagi Farel.

"Gak lucu anjing." dengusnya kesal. Dia meminum es teh manis dingin, untuk meredakan hatinya yang sedang panas.

"Idih, sok-sok an lagi bilang Bela ngajak nonton. Malu lo." ejek Kenio dengan geli, tawanya mulai mereda. Dia kemudian memakan bakso yang masih tersisa 3 buah lagi.

"Kalau boleh tau, lo sebenarnya putus karena apa sih?" tanya Alan ketika sudah selesai makan. Farel menghela napas.

"Sepele doang masalahnya. Karena gue gak ingat hari jadian kita." jawabnya lesu. "Gak ngerti dah gue."

"Sabar aja dek, nanti dapat lagi kok." kata Kenio dengan bijak.

Kenio melanjutkan makannya, namun sebuah teriakan dan pukulan dari belakang membuatnya memuntahkan bakso terakhir yang paling besar. Kurang aja.

"KENIO!!!"

"ANTO SIALAN! KURANG AJAR LO ANJIR!" balas Kenio dengan kesal dan menoleh kebelakang mendapati si Anto sedang menyengir.

The Girl On The PaperStories to obsess over. Discover now