Chapter One-Pertemuan.

83 41 41
                                        

Aku duduk terdiam di meja makan sambil termenung melihat ke arah luar jendela dan menyantap sereal warna-warni yang dibeli Ibu di minimarket berjarak 10 rumah dari kediaman kami, warnanya tampak norak dengan percampuran warna hijau, kuning dan merah yang lebih mirip dengan warna lampu lalu lintas di pinggir jalan. Kuaduk sereal menggunakan sendok silver sampai makanan itu berubah warna menjadi pucat . Kemudian aku mengalihkan pandangan ke Ayah, tepat di samping kanan dan menyibukkan diri dengan membaca koran harian pagi yang beritanya berisikkan tidak jauh dari kerusuhan atau kasus korupsi di Ibukota. Terlalu klasik.

Kemudian ia menatap ke arahku dengan tatapan yang dapat ku tebak sebagai tatapan hendak menanyakan sesuatu hal yang berhubungan dengan kehidupanku yang sebisa mungkin aku tutup rapat dari Ayah dan Ibu, sebelum mereka merasa cemas tentang kehidupan anaknya yang buta akan pergaulan dunia.

"Apakah kau tidak akan menghadiri pesta kelulusan yang diadakan Stacey dirumahnya nanti malam?" Dia melirik ke arahku dengan kacamata yang merosot dari batang hidungnya.

"Dari mana Ayah mengetahui hal itu?" Tanyaku balik sambil menyendok sereal.

"Oh ayolah Hannah, Ayahmu ini juga pernah muda. Kamu pikir Ayah tidak mengetahui tentang ritual tiap tahun kelulusan itu?"

"Entahlah, aku masih disibukkan dengan mempersiapkan semua barang yang akan aku bawa ke universitas kelak, masih berdus-dus jumlahnya." Walaupun aku bukan tipe kutu buku yang selalu di bully di dalam kelas, tetapi semenjak lulus dari SMA aku memutuskan untuk menjauhi segala bentuk omong kosong masa remaja yang membuatku harus menipu diri selama hampir 17 tahun hidupku dengan bersoasialisasi akan menjamin ketenangan hidupmu. Langkah yang kuambil pertama kali adalah mencoba melangkah jauh sedikit demi sedikit dari kehidupan yang ada di kota ini.

"Oh baiklah." Ayah melanjutkan membaca koran.

Beberapa saat setelah percakapan canggung ini, aku mendengar suara langkah sepatu berhak tinggi dari luar rumah diikuti bunyi gagang pintu yang dibuka oleh seseorang.

"Hannah, apakah kamu sudah menghabiskan sarapan milikmu?" Ibu bertaya lantang dari ambang pintu sebelum ia melepaskan sepatunya dan duduk di kursi terlebih dahulu.

"Sedikit lagi bu." Jawab ku lirih karena sudah tidak mampu lagi untuk menghabiskan sereal ini.

Setelah ia menutup pintu dan membuka sepatunya, Ibu menghampiri kami berdua di meja makan lalu menciumi pipi Ayah dan menghelus kepalaku , kemudian ia duduk di samping Ayah sambil menuangkan teh ke dalam Mug besar berwarna putih yang bertuliskan "Morning Spirit" miliknya.

"Tidakkah kau percaya Herman, jika Bu Kana telah merubah sistem pembagian hasil di organisasi mitra dagang kami dengan keputusan sepihak yang tentu saja membuat kami terkejut pada rapat dadakan tadi."

Dan pagi itu tanpa henti, ia menceritakan hal tersebut kepada Ayah dan ia hanya merespon dengan kata-kata iya, benarkah, atau dengan anggukan saja yang mengisyaratkan jika ia memperhatikan segala ucapan Ibu walaupun secara keseluruhan tidak. Karena tau hal ini akan berlanjut lebih lama aku memutuskan untuk menyelesaikan sarapan pagi ini dan segera masuk ke dalam kamar.

Aku menyeret langkah menaiki tangga menuju kamar dan segera menenggelamkan diriku diatas tumpukan bantal pada kasur yang memberikan kenyaman tiada tara. Kutatap langit-langit kamar berwarna kelabu karena tidak pernah dicat ulang menambah kesan suram kamar ini. Angin berhembus lembut melewati jendela menyelundup halus masuk ke dalam tiap sela kekosongan yang ada di hidupku. Itulah kebahagiaan yang sejatinya.

Tetapi bunyi suara dari panggilan handphone yang terletak diatas meja membuatku harus terbangun dari atas tempat tidur dan mengambil handphone segera, ternyata Audrey yang menelponku. Audrey, teman di sekolah yang hanya satu-satunya kuhargai keberadaanya karena jarang sekali memalsukan diri demi harga diri seperti yang orang lain lakukan.

Zeit-portalStories to obsess over. Discover now