Coret...
Coret...
Seorang gadis kecil terlihat sibuk dengan dunianya, tangannya yang kecil sedang berusaha menggambar sebuah keluarga beranggotakan 3 orang antara lain; ayah, ibu, dan dirinya.
Gadis kecil itu hanya mengenal Mamanya tapi tidak dengan ayahnya, bahkan wajahnya pun ia tak tahu.
Mama-nya sering bercerita bahwa ayahnya sudah berada di surga, saat itu dia bertanya kenapa ayah bisa di sana? Ibunya menjawab karena ayah sedang melakukan misi besar demi keselamatan mereka, ayahnya harus melawan monster yang sangat kuat dan ganas.
Ayahnya adalah seorang pahlawan, dan dia yakin dengan cerita ibunya—penuh kebanggaan.
15 menit berlalu...
Gadis kecil itu selesai menggambar keluarga kecilnya—dia terlihat riang dan bersemangat.
Penampilannya berantakan, dan wajahnya terlihat jejak coretan tinta.
"Mama—mama lihat! Celia menggambarnya dengan baik!"
Celia berkata begitu bangga, dia mengangkat dagunya ke atas sambil menyerahkan kepada mamanya yang sangat cantik.
Mama Celia mendengar panggilan putri kecilnya, dia menoleh dan tersenyum kaku.
Ini sudah gambar ke-59, keluarga berisi tiga orang; dia, putri, dan suaminya. Memang benar keahlian putrinya meningkat dari gambar garis-garis biasa—sekarang sudah ada mata, hidung, mulut, baju, rumah, pemandangan, dan beberapa bentuk aneh lainnya.
Tapi melihat putri kecilnya yang bertingkah sombong dan ingin pujian—siapa ibu yang tidak bisa menahan untuk mencium putrinya yang menggemaskan itu.
"Aduh tuan putri siapa ini? Biarkan pangeran ini menciummu!"
Mama Celia melayangkan ciuman bertubi-tubi sampai gadis kecil itu mengeluh.
"Mama berhenti! Wajah Celia basah!"
Celia mendorong wajah mamanya, dia memiliki ekspresi jijik tapi setelah itu tertawa geli.
"Hehe..."
Mama Celia terlihat kecewa—bibirnya maju dan mengerucut.
"Aku ini seorang pangeran, bukan Mama. Jadi, biarkan pangeran ini menciummu lagi, Tuan Putri kecil!"
Mamanya protes dan mencoba menipunya, Celia melepaskan diri lebih dulu.
"Mama akan membuat Celia menjadi seekor monster slime—berlendir dan jelek!"
Mama Celia tertawa mendengarnya dan ia akhirnya angkat tangan dan menawarkan diri membaca dongeng tidur, mengingat ini sudah pukul 9 malam.
Celia tentu saja setuju, dia tersenyum cerah dan gigi susunya yang bersih terlihat.
Celia bukanlah anak kecil yang menyusahkan, dia tahu cara membersihkan hasil kekacauannya.
Waktu berlalu cepat, dan Celia tersenyum puas melihat semuanya bersih.
Mamanya memberi acungan dua jempol.
Celia tertawa cekikikan meminta mamanya menggendong dia.
Sebelum menuju tempat tidur, dia harus menyikat gigi, mencuci wajah dan kakinya.
Yang terakhir ibunya akan selalu mendandani putri kecilnya dengan gaun tidur yang lucu dan jangan lupa bando kelinci.
Mama Celia memiliki mata merah, dia merasa bahwa ini terakhir kalinya.
"Mama ingin menciummu lagi."
Sebelum Mama Celia mencium pipi putri kecilnya, dia jauh lebih cepat menutup wajahnya.
YOU ARE READING
Drazard
Fantasy--->Cerita ini murni dari imajinasi saya dan kepada semuanya membaca dengan bijak dan jangan melakukan tindakan terlarang dengan menyalin cerita saya dan menganti namanya. Itu benar-benar buruk kawan, mari kita berdiri di luar, dan saling menunju...
