Danella adalah Daniel dan Stella. Kisah dimasalalu, kisah yang begitu menggebu dan masih mengalir bersama denyut nadi rindu.
Dan Shilla? Gadis yang tidak tahu-menahu perihal hubungan keduanya menjadi korban yang membisu dengan tangis yang berderu. L...
Sang mentari sudah berada diatas peredarannya, sampai cahayanya menerobos celah-celah jendela jua menembus hangat tebalnya kaca.
Sedangkan sang Tuan pemilik bilik tersebut tengah merebahkan tubuhnya tanpa gangguan, tertidur dengan tenang. Mengabaikan cahaya yang menggelitik tubuhnya.
Semakin siang mentari sangat terasa mengusik lelapnya, si Tuan terusik karena sebuah kelancangan sang mentari mengganggunya.
"Mampus gue udah jam setengah delapan, hari ini pelajaran bahasa Indonesia mati mati mati gue!!!" si Tuan berlari tunggang-langgang, membanting ponselnya sembarangan sehabis menatap sekilas siapa saja yang menghubunginya.
Dalam tempo sesingkat-singkatnya, dalam lima belas menit ia selesai dengan ritual kamar mandinya. Selepas menuntaskan segala pergulatannya mempersiapkan diri untuk sekolah. Ia membaca satu persatu pesan yang masuk kedalam ponselnya.
Vero Jimy ____________ Dimana lo? Udah bel masuk Dan! Dimana lo taek! Sekolah kagak?! Heh somplak udah jam tujuh ini, Bu Nadin bentar lagi masuk. Abis mata pelajaran kali ini pasti dapet minus 25 sekaligus lo Dan! Daniel!!!!!!!!!!! Bales Anjeng!!! Ngehe terserah lo deh!
Si rese Derea! _______________
Bang hari ini ada kejutan di sekolah, lo dimana? Belum berangkat?
1 panggilan tak terjawab 082234527xxx
Daniel Adimi Prakasa, terkikik pelan membaca pesan masuk yang dikirimkan sahabat dari masa kecilnya. Namun seketika mengernyit heran melihat pesan sang Adik kembarnya yang menjengkelkan itu. Dan satu panggilan tak terjawab dari nomer baru yang belum ia ketahui.
Seketika Daniel kembali dalam dunianya, dunia yang sedang dalam masa tegang-tegangnya.
Terlambat.
"Mampus!" ucapnya selepas melihat jam didalam ponselnya.
Mengambil kunci motor diatas nakas, ia pun sedikit berlari keluar dari kamarnya yang bernuansa hitam putih mendominan. Catur kayaknya, tapi gak ada gambar kudanya sih.
Menuruni anak tangga satu persatu bagai berjalan diatas aspal, ia tidak memikirkan kecepatan yang harus ia sesuaikan saat turun dari anak tangga ini.
Pegel gua turun tangga, besok besok bikin lift disini satu aja! Sepi lagi ini rumah pasti udah pada berangkat, bodolah.
Daniel pun memasuki bagasi guna menunggangi kuda besi yang berukuran besar dengan merk Ninja nya. Motor sport kebanggaannya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sekejap saja ia berkutat dijalanan kota Karawang, kini ia sudah memarkirkan motornya diparkiran sekolah. Untung saja Pak Agus satpam penjaga gerbang itu tidak menghadangnya, kalau menghadang pun pasti Daniel sogok pakai kopi, pakai rokok, pakai segala hal yang mampu meluluh-lantakkan hatinya. Toh lagian siapa yang berani berurusan dengan Daniel?