Masalah hidup Rhea hingga umurnya menginjak enam belas tahun adalah insecurity yang parah dan penghinaan secara terang-terangan oleh teman-temannya.
Hidup menjadi orang jelek itu menyebalkan. Salah sedikit akan menjadi bulan-bulanan dan candaan mema...
Ini berdasarkan kisah nyata, bagaimana standar kecantikan menuntut kita menjadi sempurna.
🥀🥀🥀
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Mulai di umur belasan tahun, kamu akan merasakan bagaimana tidak adilnya perlakuan manusia.
Tidak percaya? Coba dengar kata mereka.
Kalau kamu tidak memiliki tubuh semampai dengan perut rata, jangan harap kamu bisa bergerak dengan leluasa. Perempuan itu harus singset, tapi jangan kekurusan. Nanti jelek, katanya. Harus proporsional, ya? Jangan terlalu kurus, jangan terlalu gendut. Yang sedang-sedang saja.
Kalau kamu tidak memiliki gigi rapi, putih, dengan gusi merah muda, jangan harap kamu bisa tertawa lebar-lebar tanpa cercaan. Kalau kamu mau lepas dari hinaan, pakai behel dong! Minimal, harus sikatan rajin biar gigimu terlihat putih cemerlang. Kata mereka, jadi perempuan itu kalau tertawa jangan sampai bikin orang berlarian ketakutan. Memangnya kamu sedang cosplay jadi suku pedalaman yang belum kenal sikat dan pasta gigi? Buat yang senyumnya manis boleh tertawa lebar, kalau nggak manis mending tertawa sambil tutup mulut saja, ya?
Kalau wajahmu punya minyak berlebih dan ditumbuhi jerawat, pasti susah sekali untuk percaya diri mengunggah foto di instagram tanpa kekhawatiran. Kolom komentar begitu jahat untuk dibaca. Ada yang bilang harus jaga kebersihan, ikut program perawatan, sampai tanpa berpikir dua kali mengetik kata, 'jelek sekali'. Akhirnya kamu menutupi semuanya dengan menggunakan berbagai filter aplikasi edit foto supaya wajahmu terlihat lebih sempurna. Begitu pun masih salah menurut mereka. Ah, ini mah menipu namanya!
Kalau kulitmu keseringan terpapar sinar matahari, hingga belang-belang dan warnanya tidak rata. Setengah kuning langsat setengah cokelat tua, pasti ada saja yang menyuruhmu luluran untuk memberantas tumpukan daki. Bahkan beberapa orang menanyaimu sehari mandi berapa kali. Katanya perempuan tidak boleh panas-panasan. Harus jaga diri supaya kulit tidak terbakar.
Perempuan harus cantik, tapi cantik natural. Kalau pakai make up namanya kebohongan. Kalau pakai skincare namanya pemborosan. Pakai yang murah-murah saja. Bedak bayi dan sabun cuci muka sudah cukup sepertinya. Jangan berlebihan! Ke mana-mana pakai alas bedak memangnya nggak capek? Di rumah bergelut dengan sepuluh tahap perawatan diri ala cewek Korea memangnya nggak sayang uang?
Masih mending, sih.
Kalau muka jelek dari lahir, itu lebih susah. Mau didandani berjam-jam juga tidak akan berubah menjadi bidadari. Gonta-ganti perawatan wajah tidak ada pengaruhnya. Ujung-ujungnya disalahkan dan dicerca karena tidak bisa merawat diri.
Heh, itu karena kamu kurang bersyukur!
Masa iya? Udah bersyukur, tuh. Cuma lingkungan sekitar nggak ada ampunnya bikin insecure.
Jadi orang jelek itu menyebalkan. Sungguh, rasanya seperti berada di kasta terbawah kehidupan. Kesempatan tidak akan datang kalau tidak jatuh bangun mengejar. Kadang-kadang sudah berusaha sekuat tenaga pun ditendang karena dinilai kurang rupawan. Kalau Tuhan adil, seharusnya semua perempuan terlahir cantik, 'kan?
Cih, menyebalkan.
Rhea lelah diatur oleh standar kecantikan yang entah diciptakan oleh siapa. Penghinaan-penghinaan tidak berperikemanusiaan itu tak kunjung membuat kupingnya terbiasa. Rhea hanya gadis berumur tujuh belas tahun yang ingin bebas memakai baju apa saja. Menikmati masa-masa remaja dengan berekspresi sesuka hatinya. Masa putih abu-abu, sesulit itukah untuk dijalani bagi mereka yang tidak dianggap jelita?
🥀🥀🥀
Karena banyak dari pengalaman pribadi, kemungkinan ini akan update setiap hari. Semoga suka!! Jangan lupa tinggalkan jejak, ya?