Video game, anime, husbando menjadi teman.
Sebuah senyum yang tidak berwujud.
Sebuah sentuhan yang tidak mampu di rasakan.
Hanya sebuah suara yang nyata, itu pun terasa jauh.
Nyatanya, Ia kesepian. Kata Tidak, adalah sebuah topeng, sebuah kebohongan yang menutupi.
Pernah berpikir alasannya? Dari pada hanya mencela karena pandangan yang berbeda. Hanya bisa berkata gila tanpa tau kebenaran.
Ku sarankan kalian berhenti.
Berkata aneh pada sesuatu yang berbeda, atau terlalu terbelenggu pada sebuah ikatan. Karena itu semua tidak ada yang akan membawa kalian pada kebahagiaan. Hanya menyeret pada penderitaan tidak berujung.
.
.
***
Assasination Clasroom tetap milik Yuusei Matsui sensei Semua cerita demi kesenangan tidak kurang, tidak lebih, saya sebagai penulis tidak mengambil keuntungan apa-apa.
< Human Koro Sensei x Reader >
***
.
.
Tik
Tok
Waktu terus berjalan. Perlahan. Sedetik, semenit, sejam, lalu semua berlalu.
Semilir angin bergerak pelan, menyusuri daun-daun pepohonan, bangunan yang berdiri kokoh serta rambut seorang gadis yang terurai. matahari kian menyembunyikan diri, mempergelap keadaan, menampakkan cahaya redup dari benda langit malam hari.
Sebuah benda tajam menyentuh seutas benang hitam rapuh, mengoyak dengan perlahan hingga terputus.
Satu, dua... Semakin lama semakin banyak.
Suara benda tajam terdengar, menemani senja serta air yang mengalir perlahan, mengikuti arus yang bergerak membawa sekuntum daun di atasnya.
Tenang, tenang berakhir berkuak.
Gelembung-gelembung datang berlalu, meletus di permukaan. Membawa sesuatu ke dalam kegelapan, kesengsaraan dan mimpi indah namun mematikan.
'Aku senang kau datang menemaniku. Meski hanya sebentar.'
.
"Gila... Dasar perempuan gila." seseorang menarik rambut gadis yang kini sudah tersungkur di tanah, gadis itu merintih sakit, merasakan perih pada kulit kepala dan bibir kecilnya bergetar takut, ia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
Tampak tubuh gadis itu sudah lebam, meninggalkan bekas merah, biru bahkan ungu. Mengikuti bajunya yang sudah terkoyak dibeberapa bagian di tambah lumpur serta debu yang membekas pada baju putihnya.
"Kau menyeramkan, selalu berbicara sendiri. Apa kau tidak malu? Apa kau masih waras?" tatapan tajam di terimanya. Bukan dari satu orang atau dua. Tapi cukup banyak, mungkin lima.
Kelima gadis itu berdiri sebaris, menutupi jalur gadis malang itu agar tidak pergi ke mana-mana. Tas yang menjadi miliknya dilempar dengan asal. Tepat mengenai kepala, dan sedikit menggores kulit wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nijikon Last Diary
FanfictionBukan tanpa alasan, tapi penderitaan yang menuntutnya. Tidak ada yang lebih waras di dunia dari seorang penyendiri. (Setidaknya itulah yang ku dengar dari seorang penyendiri menjijikan). Tapi gadis itu terlalu jauh memerankan bagiann...
