1 | Kelana

85 3 0
                                        

"Kamu di mana?" Aku mengetik pesan singkat. Sudah dua puluh menit aku menunggumu. Dengan perasaan cemas, tentu. Aku berpikir tentang cara untuk memulai percakapan saat kamu datang nanti. Aku takut lidahku akan tiba-tiba kelu.

Ah, kenapa pula sehari sebelumnya aku harus bertemu teman perempuanmu itu? Maksudku, temanmu yang kini jadi temanku juga, sebab sialnya saat itu aku mengajaknya berkenalan. Dia menceritakanmu, Kelana. Perkenalan yang awalnya kuharap sebagai kabar baik malah berujung tanya. Selepas perkenalan, otakku dipenuhimu. Bagaimana bisa orang lain mengetahui rahasiamu lebih dulu dibanding aku?

"Tunggu sebentar, Karin." Kamu menjawab. Ah, selalu begitu. Aku gelisah, tidak tahu harus menunggu berapa waktu lagi. Aku rapalkan doa, semoga malam ini tak berujung petaka.

Akhirnya kamu datang. Kamu mengenakan jaket hitam bekas bapakmu. Aku tidak tahu baju warna apa yang kamu kenakan saat itu. Dengan celana jeans belel, kamu berjalan di teras rumahku, lantas mengetuk pintu. Aku mengintipmu di balik jendela. Aku tak mau buru-buru membuka pintu, sebab otakku masih harus bekerja keras memikirkan kalimat pertama yang akan kukatakan saat menatap matamu. Kulihat kamu begitu gelisah. Rambutmu yang semakin gondrong kau garuk--yang kuyakin tidak gatal sama sekali. Kubuka pintu. Kamu pasti tahu betul ke mana orang tuaku hari itu. Kelana, kamu terlambat empat puluh menit dua puluh sembilan detik!

"Akhirnya kamu datang. Ayo masuk!" Kataku, dengan senyum pura-pura. Kuharap kepura-puraanku saat itu tak kentara. Kamu mengusap wajahmu, lantas mengikutiku masuk ruang tamu. Aku menyuruhmu menunggu sebentar--kali ini giliranku yang membuatmu menunggu. Kamu duduk, aku masuk membuatkan minuman jeruk. Kelana, aku tahu saat itu kau curi-curi pandang ke arahku. Tenanglah, minumanmu takkan kucampur sianida. Aku hanya menambahkan tiga buah es batu. Barangkali dengan itu, guratan gelisah di wajahmu akan lebih menyegar.

Aku menemuimu dengan segelas minuman jeruk yang telah siap. Lantas, aku duduk di hadapanmu. Hanya ada meja dan minuman jerukmu yang menghalangi kita. Aku biarkan keheningan menyergap ruang tamuku beberapa detik. Ah, rasanya aku ingin menenggelamkan diri saja. Sebab kutahu, dengan kuundang kamu datang ke rumahku malam itu, berarti pula aku mengorek lukamu dan membiarkannya semakin menganga.

"Kelana, aku hanya ingin kamu menjelaskan," kataku memulai percakapan. Aku menelan ludah. Tenggorokanku tercekat. Baru kali ini lidahku benar-benar kelu saat bicara denganmu. Wajah gelisahmu semakin membuat aku ingin mati saat itu. Kelana, kamu berhasil membuatku gila.

"Penjelasan apa?" Akhirnya kamu bersuara. Penjelasan apa, katamu? Ayolah, Kelana, ceritakan padaku!

"Kemarin aku bertemu temanmu. Ya, walau pada akhirnya jadi temanku juga..." aku menunduk. Tak sampai hati aku melihat raut wajahmu.

"...dia bilang dia sekelas denganmu," aku melanjutkan. "Sayangnya, kudapati berita tak baik tentangmu. Kelana, ada apa?" Sengaja suaraku kulembutkan, berharap kamu tak merasa tertekan malam itu.

"Aku tahu kau pasti akan membahas itu, Karin. Jangan-jangan ibuku juga ada di sini." Nyatanya kamu sudah tahu. Pandanganmu terpencar pada tiap sudut rumahku. Kejadian enam bulan lalu ternyata begitu membekas di hatimu. Sekarang, kau mengira ibumu ada di rumahku. Tenanglah, Kelana. Kejadian itu jugalah yang membuat aku begitu takut bicara denganmu.

"Ibumu? Tidak, Kelana. Hanya ada aku dan kamu saat ini. Aku bahkan belum menceritakan ini pada ibumu. Aku ingin mendengar penjelasan darimu. Selepas itu, aku bisa menceritakannya pada ibumu, itu pun jika kamu mau..." Aku meyakinkan. Kuberanikan diri menatap matamu. "...sebenarnya ada apa, Kelana?" lanjutku. Kamu masih terdiam, menunduk.

"Kamu tidak usah bertanya lagi. Kabar tentangku sudah cukup jelas, bukan?" Kamu menarik napas panjang, kemudian merogoh saku celanamu. Sebungkus rokok menyembul di sana. Kamu mengambilnya satu, lantas mencoba merogoh pemantik api dari saku yang lainnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 06, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

KelanaWhere stories live. Discover now