'Fate' dan Setengah Manusia (1) : Kau Juga

52 3 0
                                        

"...."
Pria itu bisa merasakan lirikan yang siambil sembunyi-sembunyi oleh wanita yang bertingkah ganjil di belakangnya itu. Ia kemudian menghela nafas sambil menoleh ke arah si pelaku, membuat wanita itu tercengir salah tingkah.
Sambil menghela nafas, pria itu meletakkan iPad yang dipinjamnya itu di atas pangkuannya.
"Aku bersungguh-sungguh mencari kerja, kau tahu itu?" Ucapnya. Cengiran wanita itu berubah menjadi wajah tidak nyaman.
"Uh, ya, aku tahu. Maaf."
Si pria diam dan menatap wanita itu tanpa berpaling, membuat wanita itu berusaha mencari kesibukan lain. Seperti menekan tombol lampu dapur, misalnya.
Si pria tersenyum tipis (super samar) dan memindahkan iPad dari pangkuannya. Ia kemudian berdiri.
"Lalu, ada apa?"
Wanita yang ditatap itu menghela nafas sambil mengusapkan tangan kananya di leher. Kepalanya menunduk sedikit, tampak sedang menimbang-nimbang apakah dia akan menjawab pertanyaan dari pria itu atau tidak. Poninya hampir menutupi seluruh daerah mata saat dia menundukkan kepala seperti itu.
Pria itu hampir terkekeh geli.
Selama 17 tahun ini, kebiasaan wanita itu saat sedang ragu tidak pernah berubah. Selalu konstan dan mudah ditebak. Atau mungkin hanya mudah bagi pria itu. 17 tahun mengawasi dan bersama itu cukup untuk mengingat kebiasaan kebiasaan wanita yang mencuri hatinya itu.
"Kau tidak perlu buru-buru, untuk cari kerja, maksudku. Karena- uh-"
Wanita yang masih sibuk menekan nekan tombol lampu itu terlihat lucu dimata pria itu. Kebiasaannya yang seringkali membantu tanpa alasan dan... terlalu impulsif itulah yang membuat si pria sedikit khawatir.
Tapi wanita itu ingin membantu dirinya.
Tindakan impulsif itu ditunjukkan pada dirinya, dan ia sudah senang. Terlalu senang, malah.
Kenyataan bahwa wanita itu sadar bahwa ia berdiri dihadapannya itu saja sudah mampu membuatnya sangat bersyukur.
"Aku tidak buru-buru. Aku hanya... sedikit bersemangat."
Wanita itu memicingkan sedikit matanya. Tampak sekali bahwa dia penasaran.
"Semangat? Kenapa?" Yang ditanya melangkah maju dan bersandar di meja panjang mini pembatas antara ruang tamu dan dapur.
"Aku ingin segera memiliki penghasilan dan membeli rumah." Pria itu berkata sambil menatap keluar jendela di sisi kiri si wanita. Ia bisa merasakan sedikit kekecewaan di wajah wanita di hadapannya itu. Tapi kemudian, wanita itu hanya tersenyum kecil.
"Semoga beruntung, kalau begitu. Nanti aku mampir, ya...ha...ha-" Wanita itu tercengir lagi. Merasa bahwa perkataannya yang barusan itu bodoh.
Pria itu tahu. Kate -begitulah wanita itu berbohong soal nama aslinya- masih tidak percaya pada dirinya. Tidak percaya kalau pria itu adalah orang yang mencintainya. Ia menolak untuk 'kemungkinan' itu dan mengubris pernyataannya waktu itu. Menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak riil karena 'mereka' baru bertemu untuk yang pertama kalinya.
Tapi perasaan pria itu pada Kate bukan omong kosong. Perasaannya selama 17 tahun bukanlah hal yang runtuh hanya karena sekali penolakan.
"Kau bicara apa?"
Kate tersentak pelan. Dengan bingung. Ia menatap pria itu.
"...'nanti aku mampir, ya'?" Ulang Kate lagi. Pria itu tersenyum.
Ia tidak peduli berapa tahun lagi harus ia lalui sampai wanita itu mau percaya padanya. Ia akan membuatnya percaya. Seberapa lama pun itu.
"Kau bicara apa, sih?

Nantinya kau juga akan pulang ke rumah itu bersamaku."

Random Shorts : A World Where You Stay With MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang