Prolog

255 24 5
                                        

Bagaikan mimpi yang telah kuraih untuk sekarang. Memasuki sebuah gerbang besar disertai dengan seragam lengkap baru untuk tiga tahun ke depan. Tak hanya aku. Banyak anak lain juga tentunya merasakan hal yang serupa. Kehangatan suasana di dalam didukung oleh cuaca yang cerah berawan semakin membangkitkan semangat kami di pagi buta.

Tik! Tuk! Tik! Tuk!... suara ketukan sepatu pantovelku terdengar jelas di lantai koridor sekolah. Senyum riang menghiasi wajahku di pagi yang cerah ini. Aku merasa sangat bersemangat. Yeah, karena ini adalah hari pertamaku mengikuti KBM di SMA ternama, Edinburgh. Sudah sejak dulu kuimpikan untuk mendapatkan tiket memasuki SMA ini.

Kakiku melangkah menuju kelas Sains X A yang berada di pojok koridor sebelah ruang BK. Walaupun kelas baruku cukup dekat dari gerbang sekolah, tetapi rasanya seperti ada yang mengganjal ketika ruang BK berada persis di sebelahnya. Perasaanku sedikit canggung karena di koridor ini, hampir semua kelas terdiri dari kelas XI kecuali kelasku. Syukurlah, senior di sini tidak killer seperti dulu di SMP.

"Hello Eleonore! I chase you from earlier!" sapa Margaretta terengah-engah.

"Okay. Come on Retta!" balasku singkat.

Aku dan Retta berjalan bersama menuju kelas. Brakk! Tiba-tiba sesorang membuka pintu dengan cukup keras dari kelas Sains XI I. Ia berlari dari kelasnya menuju lapangan futsal. Aku cukup terpana saat melihatnya. Dari wajahnya, dia terlihat seperti blasteran antara Inggris-India. He is handsome!. But, ini bukan kali pertamanya aku melihat cowo tampan seperti dia.

"Lena, ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat sedikit gugup?" tanya Margaretta.

"Its okay. Aku hanya sedikit terkejut." Jawabku. Margaretta bingung. Namun, ia menyadari apa yang telah aku rasakan. Ia hanya tersenyum. Seakan-akan tahu, apa yang ada di pikiranku.

****

Seminggu telah berlalu, hari-hariku di sekolah semakin padat. Crystal, salah satu teman motivatorku, telah membuatku nyaman di sini. Aku mengenalnya sejak MOPD. Dia terlihat sangat asing bagiku. Dingin, dan tak peduli. Namun, tak lagi seperti itu. Es dalam dirinya mulai terlihat mencair ketika kami mengikuti pengkaderan music club di sekolah.

"Lena, Ayo! Kita tidak boleh terlambat!" seru Crystal seraya menarik tanganku. "Sampai saat ini aku masih heran. Mengapa music club harus diadakan pengkaderan. Bukankah, ini merupakan bakat dari masing-masing siswa yang berminat?"

Aku tersenyum mendengarnya. "Mungkin mereka (senior) ingin membuat kita lebih percaya diri ketika bermain musik."

Lima hari kedepan. Sebuah perjuangan awalku di sekolah.

****

Five days later,

Kubuka mataku perlahan seraya membuka gulungan kertas kuning yang berada di tangan kiriku. 'major organ player', kubaca teks singkat itu. Seketika aku ingin sekali berteriak. Sesuai perjuangan dan doaku. Menjadi pemain organ utama di music club.

"Bagaimana? kau terlihat sangat senang..," sahut Crystal di belakangku.

"Of course! Aku menjadi pemain organ utama!. How about you?"

Crystal tersenyum. Ia menunjukkan kepadaku sebuah kertas biru dengan tulisan 'major guitar player'. Aku tersenyum lebar disertai mata berbinar-binar. Dia memang pantas mendapatkannya.

Hari ini, pengkaderan music club telah selesai. Sara, seniorku sekaligus ketua music club tahun ini. Ia menyuruh kami berkumpul sebentar di ruang musik. Seperti pertemuan biasa. Pertemuan pertama kali ini hanya berisi tentang motivasi-motivasi untuk kedepannya.

"Keep excited! See you later!" salam Sara. Ia membawa buku-buku fantasi dan meninggalkan ruang musik bersama seseorang di belakangnya.

Brukk!!, "I'm sorry. I'm not look you....," tak sengaja aku menabrak sesorang di belakang Sara. Beberapa buku tebalnya jatuh ke lantai.

"No problem. Kau Eleonore Naendra?" tanyanya sambil mengambil beberapa buku sastra dibantu olehku.

"Yup. You can call me Lena. And... you??" keringat dinginku keluar. Aku tak tahu nama seniorku. Bila saja ini masih di SMP, pasti makian sudah terlontar dari mulut mereka.

"Monnarosa L. E. You can call me whatever you want," jawabnya lirih disertai senyuman lembut. Dia kembali pergi meninggalkan ruang musik yang cukup luas ini. Rambut ikal cokelat kemerahannya terkibas angin perbukitan, bagaikan kain sutera tipis yang tertiup.

01.27 p.m. Langkah terakhir dari sesorang yang meninggalkan ruang musik hari ini. Yes, its me. Dan esok harilah.... ceritaku dimulai dari gedung sekolah tepi bukit ini. (Januari 2007, Edinburgh, Skotlandia)

Rain in EdinburghWhere stories live. Discover now