Hari sudah malam dan jalanan di luar sudah gelap, begitu juga kamarnya. Sengaja ia tidak menyalakan lampu, karena berharap gelap bisa menyembunyikan dirinya yang kecil. Ia meringkuk ketakutan di lantai, tepat di bawah meja belajarnya. Tubuhnya tidak hanya kecil, tetapi juga ringkih, kini menggigil dan bergetar hebat, karena ketakutan yang amat sangat.
Ia masih bisa mendengar jelas suara-suara yang ada di bawahnya, walaupun ia sudah menutup telinganya dengan rapat. Suara-suara itu sangat keras dan besar, tetapi yang lebih mengerikan adalah suara tawa yang dikeluarkan, karena bisa menggetarkan lantai dan dinding di kamarnya.
Waktu berlalu sangat lambat baginya. Tubuhnya sudah mulai lelah dan ia mulai mengantuk. Sampai kemudian didengarnya, derap langkah tiga pasang kaki yang menaiki anak tangga satu persatu. Matanya kembali terbuka dan tubuhnya terjaga. Dilipatnya kedua kakinya semakin dalam, hingga ia bisa memeluknya.
Kini tubuhnya bergetar jauh lebih hebat, tangisnya makin menjadi, ketakutan merajalela dalam diri. Dipejamkannya kedua mata sangat rapat, dengan suara lirih dan tersendat, ia memanggil nama-NYA yang ada di langit, meminta segala keajaiban.
Terdengar pintu kamar terbuka, deritnya membuat panik dirinya. Sebuah tangan yang sangat besar membelai kepalanya dan berkata, "Hai manis ... ayo kita main, yah, ngapain ngumpet di situ, hahaha ...." Dan tubuh kecilnya ditarik ke luar dengan sangat mudah, diiringi derai tawa para iblis.
***
"Alice ... hei ... mimpi buruk?" tanya seorang pria muda yang duduk di sebelah Alice.
"Alan ...." Alice terjaga dari tidurnya dan menatap sendu pria yang dipanggilnya Alan. Alice menegakkan sandaran kursi dan melihat keluar melalui kaca jendela bis.
"Hmmm ... sepertinya mau sampai, yah?" tanya Alice.
"Ya, sebentar lagi. Kamu masih ingat jalan pulang ke rumah, 'kan?" tanya Alan. Alice menatap Alan dengan sayang, ia memberikan anggukan kepala sebagai jawaban.
Bis yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di terminal terakhir. Hari sudah sore dan keduanya sudah melakukan perjalanan selama dua hari, satu malam. Kelelahan jelas nyata di wajah keduanya, tapi mereka bertekat untuk tetap sampai di tujuan.
Setelah bergonta-ganti menggunakan angkutan kecil dan bertanya ke sana-sini, akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah bertingkat dan bercat putih. Halamannya begitu asri dan tertata indah, membuat Alice tersenyum menikmati keindahannya. Angin sore berembus lembut membawa harumnya tanah berbaur aneka bunga yang ditanam.
"Sepertinya berubah," gumam Alan dan kembali Alice hanya menganggukan kepala dengan senyum lebar.
"Apakah kalian akan menginap?" tanya seorang wanita paruh baya, yang berdiri di ambang pintu. Senyumnya sangat kaku, bahkan terlihat dingin. Rambutnya panjang dan diikat sembarangan, sangat tidak rapi juga terkesan berantakan
Seketika ekspresi Alice berubah. Ia terlihat khawatir bahkan kemudian menjadi takut. Wajahnya memucat, bibirnya bergetar dan ia menggigil. Alan dapat merasakan perubahan pada Alice, digenggamnya erat tangan Alice dan di bisikannya kata. "Kita akan baik-baik saja, Sayang."
"Ya, kami akan menginap," jawab Alan kepada si wanita.
Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah. Alice mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Ada perubahan besar di rumah itu. Perabotan di ruang tamu tidak terlalu banyak tapi sangat bersih dan tertata apik. Dinding penuh foto-foto dengan beragam ekspresi dari orang-orang yang tak dikenalinya.
"Itu foto para tamu," ujar si wanita yang sudah berdiri di balik meja resepsionis. "Kami, menjadikan rumah ini sebagai penginapan sejak suami saya meninggal."
YOU ARE READING
LAKON
Short StoryHanya kumpulan cerita singkat dari kisah-kisah mereka di luar sana. Bergenre : * Thriller * Misteri * Horor * Sosial * Romance Selamat menikmati 😊
