POV Arnita
Hai namaku Arnita Graviella, umurku 16 tahun, aku baru saja pindah dari bandung ke jakarta. Oh ya aku mempunyai mamah asli dari jakarta dan papahku dari bandung.
Ketika para remaja mungkin sedang menikmati cinta yang membuatnya sakit menurutku, aku hanya belajar tanpa perduli dengan asmara, yaps aku punya kenangan buruk tentang cinta. Aku dulu seorang gadis yang ceria dan selalu tersenyum tetapi semenjak ku mengenal cinta hati ini sering terpuruk, beberapa kali aku jatuh cinta pada seorang lelaki tetapi selalu saja hati ini ditinggal pergi, ups sudah dulu sepertinya cerita tentangku.
"Nita cepat sayang, ini hari pertamamu sekolah," teriak Mamahku.
"Iya sebentar Mah," ujarku.
"Yasudah aku berangkat ya mah," kataku.
"Iya sayang hati-hati ya, Papahmu sudah ada dimobilnya," kata Mamahku begitu lembut.
"Iya Mah," kataku.
"Iya sayang," katanya.
*Mobil*
"Sayang semoga kau mendapatkan banyak teman ya sayang," kata Papahku.
"Iya Pah," kataku. Aku berharap sebaliknya Pah ucapku dalam hati.
"Kamu jangan terlalu dingin sayang," ujar Papahku.
"Iya Pah," kataku.
"Sudah sampai take care ya sayang," kata Papahku.
"Iya Pah," kataku.
*Sekolah*
"Hey cantik"
"Wow ada anak baru tuh sepertinya"
"Ih bisa kalah saing nih"
Begitu ucap para siswa-siswi disini. Tetapi aku tetap tak memperdulikan.
"Hey cantik mau diantar ke ruang kepala sekolah," kata seorang siswa.
"Tidak," kataku dengan nada datar.
"Wow wow baru kali ini ditolak seorang perempuank" ucapnya.
Aku hanya diam.
"Sudahlah pergi itu didepan juga ruangan kepala sekolah," ucapku mengusirnya dan lalu berlenggang pergi.
*Ruang kepala sekolah*
"Permisi Pak," ucapku.
"Iya ada apa ya?" Tanyanya.
"Saya anak baru Pak," kataku.
"Oh kamu anak baru itu," kata Kepala Sekolah.
"Iya Pak," kataku.
"Ayo saya antar," katanya.
*Ruang Kelas*
"Permisi Bu, Ini saya ingin mengantar anak baru yang hari masuk dikelas XI IPA 2," kata Kepala Sekolah kepada seoramg Guru yang sedang mengajar.
"Oh iya Pak biar nanti saya perkenalkan," kata sang Ibu guru.
"Baik saya tinggal permisi," kata Kepala Sekolah dan sambil berjalan keluar.
"Diam anak-anak," ucap ibu Tari yang kulihat di name tag-nya,dan memang sejak aku masuk murid dasini begitu berisik. "Ayo kamu perkenalkan diri," lanjutnya.
"Namaku Arnita," kataku begitu datar
"Cantik kok jutek si"
"No-nya berapa?"
"Id line apa"
Begitulah yang kudengar dari para murid disini dan aku hanya diam.
"Ayo kamu duduk ditempat yang kosong," ujar Bu Tari.
Aku hanya berjalan ketempat kosong dan tanpa menjawab.
Tiba-tiba bel berbunyi.
"Yasudah anak-anak sekian terimakasih," ujar Bu Tari.
"Hai gw cowok yang ketemu sama lo tadi, nama gw Arcello panggilannya sayang," ujarnya memperkenalkan diri.
"Kita istirahat yu," katanya.
Aku hanya terdiam.
Sudah beberapa hari ini arcel mendekatiku dan aku hanya diam tak menjawab tetapi dia tak bosan-bosan. Sebenarnya aku ingin membalas pembicaraannya tetapi aku takut.
"Lo kenapa si diam terus, Setau gw lo bisa ngomong," kata Arcel.
Dan lagi-lagi aku hanya diam.
Hari berikutnya pun dia selalu mengikutiku, bahkan saat diperpus dia tetap mencoba mengajakku berbicara, tetapi tetap aku hanya diam.
Terus seperti itu kemanapun aku pergi di lingkungan sekolah, dia selalu mengikutiku.
*Rumah*
Aku membuka aplikasi line.
Arcello add you.
Arcello : (999+)
Sita : (5)
Dan masih banyak lagi, yang ku heran mengapa si arcel itu tau id lineku.
Sita : Beps kamu punya teman gak disana???
Sita : Kamu gak ngabarin aku
Sita : Apa perlu gw spam sampai banyak baru lo balas
Sita : R kali
Sita : Nyerah
Aku tersenyum melihat sahabatku satu-satunya yang tak pernah lelah dengan sikapku.
Me : Iya kenapa sit?
Sita : Alhamdulillah mukjizat lo bales
Me : Lebay
Sita : Udah biasa gw mah ngetik panjang dibalas 1 KATA doang
Me : Biasa aja kali jangan di caps
Sita : Udah lah gw cuman mau tau disana lo baik-baik aja kan?gaada yang jahatin lo kan?punya teman baru kan?
Begitulah sahabatku ini sangat cerewet.
Me : Iya, gak , gak
Sita : Sabar gw mah, udahlah chatan sama lo buat darah gw naik yang terpentik gw udah tau keadaan lo gimana!!!
Just Read
Arcello : Huh cantik gw udah nge spam berapa banyak
Arcello : R kali
Arcello : Kamu udah makan
Arcello : Huh
Me : Diam atau gw block
Arcello : Iya gw diem
Just Read
Hari-hari terus berlalu, bahkan sampai naik ke kelas XII arcel tetap berusaha mengajakku berbicara.
Dikelas XII aku masuk sekelas dengan Arcel yaitu IPA 1.
"Ah kita memang berjodoh," kata arcel.
Aku hanya diam.
Waktu terus berlalu perlahan, aku sudah mau berbicara dengan arcell. Dia yang ceria bisa membuatku seperti dulu yaitu ceria kembali dan lagi-lagi aku merasakan hal seperti dulu tetapi aku selalu menyangkalnya.
Perlahan tapi pasti memang.
"Ta kenapa si dulu lo diem banget," kata Arcel.
"Gapapa kok," kataku.
"Gw lebih seneng lo yang kaya gini ceria,sering senyum dan gak datar," ujarny sambil tersenyum.
"Hehehe," tawaku.
"Tuhkan seneng deh lo senyum," ujarnya.
"Biasa aja kali cel," kataku.
"Coba lo kaya gini dari dulu," ucap Arcel.
"Emang kenapa?" Tanyaku.
"Karena lo bisa punya banyak teman," katanya.
"Huh gaperlu banyak teman, kalau semuanya fake," kataku.
"Iya juga si," katanya. "Nanti jadi kan kita nonton," lanjutnya.
"Jadi kok," kataku.
"Siip cantik," katanya.
Hari-hari berikutnya Arcel selalu ada dihidupku, begitulah aku sudah mulai nyaman dan hati ini sudah mulai tumbuh rasa tak biasa.
"Ar dikit lagi kita lulus," kata Arcel.
"Iya cepat juga ya," kataku.
*Hari perpisahan*
Aku mencari-cari Arcel, tetapi aku tetap tak menemukannya. Dimana Arcel.
"Selamat sayang kamu lulus dengan tertinggi kedua," ujar seorang perempuan.
"Iya makasih sayang," ucap seorang lelaki yang kukenal. "Makasih kamu datang dari jauh," lanjutnya.
"Apapun buat kamu sayang," kata sang perempuan.
Tak terasa air mataku mulai menetes, aku tak sanggup lagi berada disini dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
*Taman*
"Mengapa dia jahat tuhan, mengapa diriku selalu jatuh cinta dengn orang yang salah," Kataku berbicara sendiri.
"Ar," suara lelaki yang kukenal.
Aku mecoba pergi tetapi ditahan olehnya.
"Tunggu kamu harus dengerin dulu Ar," katanya.
"Di...am kam...mu," ucapku dengan penuh isakan.
"Dengerin dulu," katanya.
" Apa yang mau aku dengar lagi, menurutku apa yang kudengar itulah yang paling benar, Jangan kau memberi harapan jika hatimu sudah milik yang lain," kataku penuh dengan isak tangis.
"Aku gaada maksud seperti itu," kata Arcel.
Aku lari darinya.
Aku membenci cinta mengapa dia mendekatiku teralu dalam dan memberi luka yang melebihi dulu.
Mengapa luka ini begitu dalam ditorehkan olehnya, kenapa tuhan.
Kenapa aku tersakiti lagi karna cinta.
-End-
Pagi-pagi udah dikasih yang sedih-sedih gapapa kali ya.
Pengen nangis cari cerita sedih tapi gak nemu gini.
Xoxo
21 DESEMBER 2016
YOU ARE READING
Hurt me
Short StoryDia dekat tapi tetap terasa jauh.... Dia bisa membuatku bahagia dan bisa membuatku menangis karna luka dan lagi aku tersakiti karna cinta.. ~Arnita gravriella~
