PROLOG. "Pergi"

64 2 0
                                        

Aku adalah hujan. Kau cerahnya.
Kau tumbuh di sana, aku hancur di sini.
Kau berbuah di sana, aku layu di sini.
Aku mati disini. Di tempat ini. Tempat yang sama, dimana dahulu kita pernah bersama.
Kini tempat itu kosong.
Hanya ada aku sendiri.
Bersama raga yang kosong dan hati yang hampa.
Kesendirian inilah yang melahapku, menggilasku sekuat tenaga, tanpa ampun. Perih nan pilu. Lalu dimuntahkannya aku, dicampakkannya aku ke dalam jurang ketiadaan.

Jeritan panjang menyayat hati membangunkanku. Aku terduduk dengan nafas terengah-engah. Selimut melilit badanku. Sekujur tubuhku basah kuyup oleh keringat.

Aku perlu waktu untuk menyadari bahwa akulah yang berteriak. Akulah yang terluka. Akulah yang menggerakkan tangan itu meraup mukaku penuh-penuh, menyembunyikannya. Akulah mata air air mata yang terus bercucuran ini. Akulah sungai duka nestapa yang mengalir tiada henti. Aku.

Tangis ialah luapan emosi. Dan emosi mengabaikan waktu, tak punya belas kasihan. Sekerjap tekad redup menyuruh kakiku turun dari tempat tidurku. Dingin lantai menggelitik telapak kakiku yang telanjang; dingin sekali. Kepalaku menggeleng. Dunia ini jauh lebih dingin. Jauh.

Kemudian kubuka kunci kamarku, melangkah ke koridor yang diselimuti bayang-bayang. Gelap sekali. Aku nyaris tak bisa melihat jalan ke dapur andai aku tak mengenal rumah ini. Hanya ada tiga sumber cahaya: satu dari lampu tidur kamarku—yang mencetak bayangan figurku di hadapanku, satu dari lampu jalan di trotoar di depan rumah, dan yang terakhir—kutertunduk, aku tahu—dari kamarku ibuku di ujung koridor. Ibu. Sama seperti kondisi ini, kau adalah terang. Sedangkan aku? Ya, akulah gelap yang mesti disingkirkan. Aku.

Aku menyeberangi koridor dan menekan sakelar. Lampu berkedip-kedip sekarat sebelum menyala terang benderang menyingkap seisi dapur. Aku mengambil sekaleng minuman bersoda dari kulkas yang setengah kosong. Indraku sangat peka. Dingin dan kosong. Membuatku teringat mimpiku. Mimpi buruk.

Kaleng terbuka dengan bunyi desis lirih. Kubiarkan cairan itu meluncur turun saat kutegak langsung, menyulut serta merambati syarafku supaya terjaga seutuhnya. Aku duduk di meja makan. Kembali aku berlinang air mata. Dasar cengeng. Rapuh.

Telepon berdering. Aku menggerling jam dinding. Ini baru pukul 4 pagi. Siapapun yang berniat mengganggu tidur orang harus punya alasan kuat. Aku mengulurkan tangan untuk meraih gagang telepon. Sebelum kuangkat panggilan tersebut, kuberdeham memastikan suaraku tak menunjukkan jejak tangis atau bahkan membongkar emosiku.

"Halo," ujarku serak. Semoga orang di ujung sana tidak menyadarinya. "Dengan rumah keluarga Efron."

Keheningan mengikuti. Sepertinya orang di sana terkejut panggilannya ditanggapi begitu cepat. "Halo," pancingku. Entah kenapa aku memiliki perasaan tak enak, seakan ini adalah semacam tindakan iseng atau mungkin sebaliknya—seperti berita kematian atau... "Jika Anda tidak segera bicara, saya akan tutup."

Aku bisa mendengar degup jantungku atau bunyi angin beku mengetuk jendela.

"Halo?"

Aku mengenal suara itu. Aku mengenal siapa penelpon itu. Sangat mengenalnya.

Sepersekian detik kemudian aku berteriak, "PERGI!" seraya kuangkat pesawat telepon dan kubanting ke arah almari kaca di seberangku...

"PERGI!!" Prang!

Permukaan kacanya pecah dan memuntahkan isi almarinya keluar. Aku bangkit dan mendorong meja makan hingga terguling mencium lantai. Debum dan meledak.

"Pergi pergi pergi!" Aku menyepak semua benda yang bisa dijangkau angkara murka.

Aku tak merasakan rasa sakit akibat goresan dan tusukan. Aku hanya merasakan derita yang mengatasi segala rasa sakit.

Aku tak mendengar bunyi barang yang retak, pecah dan hancur lebur. Aku hanya mendengar lolongan sengsaraku, gema dari hati yang remuk redam. "P e r g i."

Aku tak mengerti bagaimana aku bisa berakhir dengan rebah di atas timbunan pecahan porselen. Aku pun tak paham tentang semuanya.

Aku menatap pantulan wajahku di cermin yang jatuh dari atas wastafel. Sepasang mata biru itu membalas menatapku. Aku meraih sebilah pisau, yang cukup tajam untuk mengiris pancake malam tadi.

Semestinya aku tak pernah mengucapkan kebenaran. Bahkan kepada satu-satunya keluarga yang kupunya, kepada dia yang kukira akan menerimaku apa adanya. Atau...

Semestinya orang itu tak menghubungiku. Apalagi di saat segalanya sedang berantakan. Dunia ini disesaki pengharapan yang berakhir sia-sia.

Kutimbang pisau itu dalam genggamanku.
Kuangkat pisau itu di depan dadaku. Kupejamkan mata. Kuhembuskan kata-kata itu. "Pergi."

Apakah aku benar-benar ingin dia pergi?
Apakah aku sanggup merelakan dia pergi? Mungkin akulah yang harus pergi. Pergi meninggalkan dunia yang keji.

Kuhujamkan ujung pisau itu dalam lengkingan panjang membelah pagi.

...

Kubuka mata. Ada yang memelukku begitu erat. Ibu. Darah menetes di lantai.

Pisau itu terpelanting jauh setelah ia menampar genggaman tanganku. Darahku bercampur dengan air mata kami. Kami berdua terisak. Ibu dan anak yang berpelukkan di lantai, di sebuah dapur yang hancur berantakan, menjelang fajar menyingsing.

STARING AT THE SUN (Menatap Matahari)Stories to obsess over. Discover now