Angin tengah malam yang kubenci, selalu datang bersama ingatan yang menyakitkan . Mengingatkan tentang rasa bersalah pada cinta yang aku tak mengerti apa. Menghukumku pada sudut ruang gelap tanpa pengampunan dan meninggalkanku dengan sayatan di hati yang tak tersembuhkan.
Aku tak tahu bagaimana cinta bisa datang, menyentuh hatiku tanpa izin. Dan aku sadari itu saat aku telah kehilangannya.
Kehilangan cinta yang sangat aku cintai.
September empat tahun lalu, saat aku menjadi begitu bodoh. Kubayangkan kembali saat-saat kepergianku. Dengan banyaknya alasan yang kubuat agar aku bisa mutuskan hubungan kita. Ada kebanggaan tersendiri bagiku saat membuat seorang pria menangis.
Hahaha wanita bodoh.
Tawaku terdengar begitu menyakitkan. Telah kau berikan seluruh cintamu dan kubalas dengan meninggalkanmu. Tak pernah terpikir bahwa aku akan menjadi penyebab kehancuran sebuah hubungan.
Dalam pikiran aku yakin akan bahagia ketika aku terbebas darimu.
Seyakin bintang-bintang di langit yang bersinar dalam gelap.
Ternyata aku salah kebebasan tidak ada artinya jika aku merindukanmu.
Aku tak akan bisa terbang, jika sayapku tinggal bersama mu.
Maaf.
Aku tak bisa menebusnya, miliaran cincin takan bisa gantikan, sepasang cincin yang terbuang itu. Semua uang yang ini tidak akan bisa membayar air mata yang terjatuh karna egoku .
Sisa umur hidupku dan penyesalanku ini takan bisa gantikan waktu kita. Berikan aku hukuman yang pantas atas kesalahanku. Andai dulu aku tau, apa yang sekarang aku tau. Semua ini tidak akan pernah terjadi. Takan kuhancurkan sebuah tebing batu, jika aku tau puingnya akan menimpaku sendiri.
Bagaimana bisa aku begitu bodoh ??
Bagaimana bisa aku begitu salah ??
Aku salah membaca bintang-bintang.
Aku bergantung pada bulan yang bergantung pada matahari.
Aku mengikuti bulan yang bahkan tak selalu sama.
Aku terlalu banyak menyakiti mu.
Aku terlalu banyak membuatmu menangis.
Guncangan yang kuat membalikkan duniaku. Bola penghancur menabrakku, menghantamku. Sebilah pisau merobek hatiku.
Aku terlalu buta, sulit untuk kumelihat.
Ada seseorang yang mengatakan,
kamu hanya akan mengenal cintamu saat kau membiarkan cinta itu pergi dan itu semua berlaku padaku.
Kau adalah "Cintaku" itu.
Karma itu selalu ada, Tuhan itu maha adil.
Karma yang memakan habis hatiku dengan buas.
Saat aku tertelan ludahku sendiri.
Apa yang aku lakukan dengan hidupku? Aku hancurkan hidupku dan hidup orang yang menyangiku. Aku mencoba menutup telingaku, menutup mataku, menutup hatiku.
Aku tinggalkan diriku dalam sebuah buku diary di rak.
Buku yang tak ingin aku baca.
Tak ingin kuingat wanginya.
Tak ingin kugoreskan lagi tinta di atasnya, ku anggap diriku telah mati.
Aku berakting, aku bersandiwara.
Untuk hidup menjadi orang lain.
Berjalan santai di atas serpihan kaca tanpa isakan, getaran, keringat, dan air mata yanag menahan rasa sakit. Ini jalan yang aku pilih, aku malu untuk mengakui kesalahanku.
Aku malu.
Berputar dalam ingatan masalalu itu menyakitkan. Terjebak dalam waktu yang menuntut terus berlari tidak mudah. Kita tak bisa kembali. Andai ada kesempatan untuk kukembali akan kuperbaiki dan kuluruskan segalanya, tapi aku tak bisa. Jika kesempatan itu adalah pintu maafmu aku mengerti. Aku tahu kesalahanku.
Aku telah belajar dari kerasnya hidup.
Aku pahami gelap dan terangnya dunia.
Kebisingan dan Keheningan hari telah aku jalani.
Aku sudah tahu.
Kukenang kembali musim panas saat bahagia kita. Di sana aku mencintaimu. Saat kau buat aku tersenyum bahagia dengan sepasang cincin. Saat aku terbiasa ada dirimu mengisi hari-hariku. Kau tangkap aku saat akan terjatuh. Kau temani aku dalam kesendirian. Tapi aku tak memperlakukan mu selayaknya kau memperlakukanku.
Maaf.
YOU ARE READING
Sorry
Non-FictionMungkin aku hanyalah manusia bodoh yang terus terperangkap dalam penyesalan.
