PROLOG

1.7K 63 0
                                        

Aku menerjapkan mataku, semua menjadi buram untukku. Hanya ada cahaya putih dan suara yang banyak. Aku tidak tau kenapa aku bisa berada disini, bau rumah sakit sangat terasa dihidungku dan pertanyaan yang terpenting adalah kenapa diriku lemas sekali. Semua pertanyaan hanya ada dikepalaku. Ingin aku berbicara namun entah kenapa ini tidak bisa.

Perlahan semua teriakan itu sirna, semua menjadi putih. Aku berdiri di sebuah tempat yang semuanya putih. Aku melihat diriku sendiri yang menggunakan gaun putih nan indah.

"Apa aku sekarang lagi disurga?" ucapku perlahan.

Tiba-tiba muncul seorang wanita paruh baya berbaju sama denganku.

"Ya, sepertinya aku memang sudah disurga. Kamu malaikat ya? Pasti mau jemput aku? Mana pintunya?" ucapku sambil mondar mandir mencari pintu menuju surga.

Tetapi dia hanya diam sambil tersenyum.

Aku berhenti tepat didepannya.

"Kenapa?" tanyaku.

Dia memengang kedua pundakku.

"Kamu belum meninggal, nak" ucap wanita itu.

"Lalu kenapa aku disini? Dan kenapa ada Tante....ng maksud saya Ibu disini?"

"Karena disini peran saya memberikan kemampuan untukmu yang bisa kamu gunakan untuk kebaikan"

Aku mengangkat satu alisku, aku tidak mengerti kenapa wanita ini bilang begitu.

Kemampuan? Cih! Kemampuan apa? Matematika? Fisika? Kimia? Kalo itu sih jelas gue mau.

Dia tidak menjelaskan lebih dalam lagi, tiba-tiba tangan wanita itu mulai menutup pengelihatanku dan semua gelap.



***



"Alexa?" panggil seseorang, aku mengenal suara itu. Ya itu suara Bunda dan Ayah-ku.

Aku menerjap-nerjapkan mataku, mengumpulkan cahaya yang ada untuk memperjelas pengelihatanku. Baru saja aku berusaha untuk membuka mata, tiba-tiba badanku merasakan sakit yang sangat tidak mengenakkan.

"Aww...." teriakku pelan.

Bunda mendorongku perlahan agar aku tetap pada posisi berbaringku.

"Kamu jangan banyak gerak dulu sayang, luka kamu masih belum kering" ucap Bunda yang sekarang duduk disebelahku.

Luka?

"Luka, Bun?" kataku sambil memijat pelan kedua mataku karena pusing yang sangat menganggu.

"Iya, kamu lupa kalo kamu habis kecelakaan?" tanya Bunda memastikan jika aku tidak hilang ingatan.

"Iya Bun, aku tau kalo aku habis kecelakaan. Tapi yang aku tau kan kalo aku cuman nabrak tiang lalu lintas. Masa lukanya bisa kayak gini sih Bun?" ucapku tidak percaya dengan luka yang dihasilkan oleh sebuah kecelakaan kecil.

Bunda melihatku dengan sedih. Lalu Bunda memegang tanganku dan mulai menceritakan apa yang aku alami.

"Iya kamu memang menabrak tiang lalu lintas, tetapi truck di belakang mobil kamu yang menabrakmu. Setelah kamu tidak sadarkan diri, truck mulai menabrak kamu. Itu yang diceritakan saksi mata saat itu" cerita Bunda.

Aku tidak percaya dengan apa yang aku alami, dalam hati aku sangat bersyukur karena aku masih bisa membuka mata. Kemudian aku jadi teringat lagi mimpiku dengan seorang wanita berbaju putih.

"Bunda, aku sempet mati gak?" tanyaku penasaran.

"Husshh.....kamu ngomong apa sih? Kamu waktu itu cuman gak sadarkan diri dan sempet koma beberapa hari"

"Emang aku udah pingsan berapa lama, Bun?"

"2 minggu"

"Haaa? Serius, Bun? Padahal aku baru ngerasa beberapa menit"

"Yaa, pokoknya kamu jangan bawa mobil sendiri lagi ya. Jangan tinggalin Bunda sama Ayah" ucap Bunda lalu memelukku dengan erat.

"Untung kamu udah bangun. Coba kalo enggak, Bunda kamu gak akan mau makan sama pulang" kata Ayah tiba-tiba.

"Ihh, Ayah...." kata Bunda sambil memukul Ayah-ku. Aku tertawa melihat tingkah kedua orangtuaku.

Sampai sekarang aku masih tidak mengerti apa yang dimaksud wanita itu. Apalagi dia berkata tentang kemampuan. Kemampuan apa? Kalo memang tentang pelajaran, aku akan buktikan itu nanti ketika masuk sekolah.

Ya, sebaiknya aku tidak usah cerita dulu ke Bunda tentang apa yang aku mimpikan. Biarkan aku yang menyimpan itu sendiri dulu untuk sekarang.



***



Gara-gara lukaku yang parah, aku diharuskan rawat dirumah sakit hampir seminggu lebih. Untung aja sekolah sedang libur panjang jadi aku tidak perlu repot-repot memberikan surat izin kepada sekolah.

"Alexandra Lustre, gimana kabarmu?" tanya dokter yang selalu mengkontrol segala pengobatanku selama di rumah sakit.

"Baik, dok" kataku

"Bagaimana lukamu? Masih sakit?" tanya dokter kepadaku.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku.

"Tidak terlalu dok. Paling enggak gak sesakit dulu"

"Baiklah kalo begitu, mari berbaring. Saya akan memeriksa kamu secara keseluruhan" kata dokter dan aku mengikutinya.

Setelah selesai diperiksa, aku kembali kerumah. Ya semenjak kecelakaan itu, aku tidak bisa mengendarai mobil sendiri. Walaupun aku sudah cukup umur tetapi tetap saja, kecelakaan itu membuat trauma keluargaku terutama Bunda.

"Gimana Lexa?" kata Bunda pertama kali saat aku baru masuk ke dalam rumah.

"Hmm....bagus Bun kata dokter. Aku cuman perlu check-up sebulan sekali katanya biar perubahannya kelihatan" kataku lalu duduk disebelah Bunda.

Bunda tersenyum kearahku dan memelukku dengan lembut.

"Bunda, aku ke kamar dulu ya. Ngantuk nih" kataku lalu melesat meninggalkan Bunda yang seakan mau mengomeliku karena tidur terlalu cepat.

Setelah mengganti baju pergiku dengan piyama, aku langsung mengambil posisi di kasur kesayanganku.

Ahh aku rindu kasur empukku ini.

Baru saja aku menikmati kasur empukku, tiba-tiba secara perlahan mataku mulai terpejam. Entah kenapa aku langsung bisa masuk ke dalam sebuah dunia.

Dunia mimpi.

Aku dapat merasakannya.

Seperti nyata.

Badanku mulai menghangat dan mengeluarkan keringat yang begitu banyak.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuka mataku. Tapi itu sulit. Aku berharap bisa membuka mata ini segera.

Dan akhirnya aku dapat membukanya dengan wajah penuh keringat dan nafas yang memburu.

Mimpi apa aku barusan?

ALEXA DREAMSWhere stories live. Discover now