1

12 0 0
                                        


Termenung duduk dengan kedua tangan masih mengenggam stang motor. Sesekali melirik kiri atas, masih ada beberapa detik lagi sebelum dia meninggalkan tempatnya sekarang. Mendesah pelan, mengerutu kepada cuaca yang kali ini tidak bersahabat dengan dirinya. Bulir – bulir itu kini membasahi setiap senti jas hujannya. Hawa dingin hanya menusuk melalui pori – pori tangan mungilnya.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin. Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunanya. Secara spontan dia memutar gas sepeda motor maticnya, melaju kencang menembus kegelapan yang kian mendekat.

“Kok sampek malem Ai” tanya wanita paruh baya sambil membukakan pintu garasi

“Iya buk, tadi Ai ke rumah Sonya dulu. Bapaknya Sonya sakit lagi.”

“Sakit apa?”

“Katanya Jantung bu, tapi kemarin udah dibawa ke rumah sakit. Sekarang udah pulang, makanya Ai jenguk di rumahnya sehabis ngajar.” Jawab Ai sambil melepas jas hujannya dan mengantungnya ditempat gantungan.

“Ibuk sudah nyiapin air anget, kamu langsung mandi aja!”

“Iya buk.”

Ai keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus rambutnya. Kemudian dia membuat susu coklat kesukaannya dan meminumnya di ruang tv sambil memperhatikan Ibunya yang sedang menonton sinetron kesukaannya. Ai tersedak ketika Ibunya menangis ketika ada adegan salah satu aktris yang dihianati kekasihnya.

“Ibuk ngapa kok nangis?”

“Ibuk kelilipen nih.”

“Ah bohong, pasti gara – gara sinetron itu kan buk?” Ucap Ai sambil menunjuk tv.

“Beneran Ai.”

“Hahahahahaha..Ibuk tuh lucu banget, masak kayak gitu aja nangis.”

“Biasa Ai, Ibukmu memang kayak gitu kalau liat yang sedih – sedih.” Timpal Bapak yang keluar dari kamar. Kemudian Ai dan Bapaknya tertawa mentertawai Ibuk Ai yang sedang mengelap air matanya.

“Makanya Buk, jangan Baperan donk.”

“Baper itu makanan apa to Ai?” jawab Ibuk yang menambah suasana rumah penuh tawa. Memang Ibu Ai suka menonton sinetron sampai menangis jika ada adegan yang sedih. Dan itu menjadi bahan bully bagi Ai dan Bapaknya. Mereka adalah keluarga kecil yang bahagia dan penuh tawa. Ai tinggal bersama kedua orangtuanya di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Kakak laki-lakinya sudah menikah dan memilih tinggal di luar kota bersama istri dan anaknya. Makanya mau tidak mau Ai menjadi sangat manja kepada orangtuanya. Toh manja dengan orangtuanya sendiri bukan sama orang lain. Itu yang selalu dipegang oleh Ai.

**
Ainun melirik jam tangannya, dia mempercepat gerakkannya dan segera memacu motornya lebih kencang. Jam sudah menunjukkan pukul 07.10 WIB, masih butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di TK tempai Ai ngajar. Dia tidak mau terlambat untuk hari ini karena sudah bebrapa kali dia terlambat dan sudah ditegur oleh Kepala Sekolah.

Braaaaaaaaaak. Tiba-tiba terdengan bunyi benturan keras. Ai sudah terjatuh dari motornya dan kakinya terjepit antara motor dan aspal. Ai mengaduh kesakitan sambil bergerak bangkit. Namun, dirinya tak kuasa mengangkat dirinya sendiri.
Orang-orang sudah berbondong-bondong membantu Ai. Menepikan motor dan mengangkat tubuh Ai ke tepian jalan. Ai tampak pucat dan lemas, tangan dan kakinya berdarah.

“Mbak saya bawa ke rumah sakit ya?” terdengar suara bariton yang kini sedang menatap Ai dengan pandangan iba.

“Saya baik-baik saja kok.” Ai masih bingung dengan kejian yang baru menimpanya. Dia tidak ingat kenapa dia terjatuh, yang dia ingat hanyalah dia sudah terjatuh dari motornya.

“Mungkin kamu masih kaget. Gini aja, motor kamu dibawa ke bengkel biar di cek ada rusak apa gag. Kamu periksa dulu ke rumah sakit biar saya yang antar.”

Ai hanya mengangguk pelan karena dia bingung mau menjawab apa. Ai masuk ke mobil dipapah oleh laki-laki yang tadi berbicara dengannya. Dia menunggu sebentar karena motornya sedang dibawa laki-laki itu ke bengkel. Bengkelnya tidak jauh dari temap Ai tadi jatuh.

“Maaf ya lama. Ini.” Laki-laki tadi menyodorkan botol air putih

“Terima kasih.”

Tak ada satu kata pun terucap dari kedua bibir mereka selama perjalanan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Ai disuruh duduk di ruang tunggu sementara laki-laki tadi mengurus administrasi. Begitu selesai laki-laki tadi duduk di sebelah Ai.

“Bentar lagi kamu dipanggil.”

“Iya.”

“Oh iya kita belum kenalan ya. Kenalin nama saya Suhail Munadi Ma’ruf panggil aja Suhail.” Laki-laki tadi mengulurkan tangan kanannya, kemudian disambut oleh tangan Ai.

“Ainun Mahya. Panggil aja Ai.”
Tidak ada luka yang serius yang diderita Ai, hanya luka lecet yang lumayan membuat dia meringis menahan perih selama dia diobati.

“Rumah kamu dimana?” Suhail bertanya sambil mengangkat tangan kanan Ai, berniat ingin memapahnya

“Perum Permata Indah No12.” Jawab Ai sambil menepis tangan Suhail dengan sopan. ”Saya bisa berjalan sendiri.”  Ai tidak suka ada laki-laki asing menyentuhnya, itu membuat dia risih. Apalagi dengan orang yang baru dikenal.

“Jadi kenapa anda membantu saya?” tanya Ai sambil memandang Suhail yang sedang konsentrasi menyetir. Itulah yang dari tadi ingin ditanyakan Ai, kenapa dia membantu Ai sampai ke rumah sakit segala.

“Karena saya menabrak anda. Tadi mobil di depan kamu ngerem mendadak, kamu juga ngerem mendadak saat itu entah pikiranku lagi kemana kemudian aku menabrak kamu. Maafkan aku, aku yang akan mengganti semua biaya kerusakan motormu.”

Pikiran Ai sekarang tertuju pada si Putih, motor kesayangannya. Bagaimana nasib si putih sekarang? Pikirannya terus berkecamuk antara kaget, perih, bingung dan sekarang dia baru ingat belum memberitahu Kepala Sekolah tentang keadaannya sekarang. Dia bergegas mengambil hp yang ada di dalam tasnya.

“Halo, Assalammualaikum. Bu Sinta.”

“…………”

“Bu maaf, hari ini saya ijin dulu. Tadi saya jatuh dari motor. Tapi sekarang saya udah tidak apa-apa.”

“Ya Allah Ai.” Terdengar suara wanita paruh baya dari hp Ai. Suhail yang mendengar itu langsung menoleh kea rah Ai.

“Insya allah besok saya sudah masuk kerja."

“…………”

“Iya bu, lain kali saya lebih hati-hati. Asslammualaikum.” Ai mematikan hp, memasukkannya ke dalam tas.

“Maaf ya, gara-gara saya kamu jadi gag bisa kerja.”

“Gag apa-apa, namanya juga musibah kita gag bisa ngehindar. Itu mas rumah saya yang cat warna biru kanan jalan.” Ai menunjuk rumah minimalis berwarna biru.

“Makasih mas udah nganter saya. Kalau masalah motor nanti biar Bapak saya aja yang ambil.”

“Kalau gitu saya minta nomor hp kamu. Biar nanti saya ngehubungi kamu buat ganti rugi motor kamu.” Ai memberikan nomornya kepada Suhail. Kemudian Suhail pamit pulang karena ada keperluan. Ai juga tidak akan mengajak Suhail mampir ke rumah karena takut ditanya-tanya Ibunya.
Ai memasuki rumah dengan langkah gontai sambil meringis menahan rasa perih dan sekarang badannya sudah mulai pegal-pegal.

“Lho Ai kamu kok udah pulang?” Tanya Ibu Ai yang baru pulang dari pasar.

“Tadi Ai ditabrak mobil dari belakang Buk.” Jawab Ai sambil mengganti channel tv

“Ya Allah Ai, mana aja yang sakit? Udah diobatin belum? Siapa yang nabrak? Tanggung jawab gag? Motormu gimana?” Ibu Ai mendekat melihat keadaan anaknya.

“Buk satu-satu kalau tanya tuh. Cuma lecet-lecet aja. Tadi yang nabrak Ai udah tanggung jawab, bawa Ai ke rumah sakit. Motor Ai juga udah dibawa ke bengkel.” Ai menunjukkan lutut dan sikunya yang lecet. Semtara ibunya melihat Ai dengan pandangan nanar.

“Ya udah sekarang kamu istirahat aja. Kalau besok masih sakit gag usah masuk kerja dulu.” Ai hanya menjawab dengan anggukan.

THE WAYWhere stories live. Discover now