Keadaan masih sangat ramai sekarang. Maklum, sudah pukul 10 pagi, ditambah lagi musim liburan. Jalan Braga dipenuhi banyak wisatawan dari daerah lain, kebanyakannya sih dari Jakarta.
Diantara orang-orang yang kulihat, pasangan suami istri yang berjalan santai berdua sambil berpegangan tangan mesra, ada yang sibuk memotret sana-sini dengan kamera DSLR, ada juga yang asyik mengobrol ramai-ramai, juga yang sedang menyeberang jalan. Aku tak terlalu memedulikan mereka semua. Hanya saja, seseorang yang menyeberang itu sempat menoleh ke belakang dan langsung membuatku terguncang.
Aku cepat-cepat melangkah ke sisi jalan tanpa memedulikan apapun – selain punggung pria itu. Fokusku mengabur. Gara-gara tak bisa bergerak lebih gesit, aku tak bisa melewati pejalan kaki yang memenuhi badan trotoar.
Dimana pria itu? Aku sama sekali tak melihat punggung yang terbungkus jaket kulit coklat itu.
Dia – mungkinkah dia…
Aku terus mencari punggung dengan jaket kulit coklat itu sambil berharap bahwa apa yang kulihat tadi benar.
Tidak! Tidak mungkin! Aku menghentikan pencarianku dan menyadarkan diriku bahwa ini tidak benar. Bagaimana mungkin itu dia? Ini pasti tidak nyata.
Itu hanya halusinasi!
Baru saja aku hendak mempercayai akal sehatku, mataku kembali menemukan punggung itu. Pria itu baru saja berbelok melewatiku, dan kini berjalan didepanku dengan langkah lebar.
Aku baru saja melangkahkan kaki kananku dan mencoba menggapai pria itu, sebelum akhirnya terdiam ditempat. Bagaimana ini? Apakah ini nyata? Apakah pria itu memang benar-benar dia?
Mulutku menggumamkan sesuatu, yang kuyakin itu adalah sebuah nama yang dari tadi muncul dipikiranku. Aku tidak yakin pria itu bisa mendengarnya. Dan kalaupun pria itu dapat mendengarnya, kurasa dia tidak akan merespon apapun, karena itu bukan namanya.
Rasa pusing tiba-tiba menyergapku. Pandanganku mulai mengabur. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Sinar matahari pagi sempat membuatku silau. Kelopak mataku membuka perlahan. Awalnya, aku melihat banyak orang yang semuanya buram dimataku. Lantas satu detik kemudian, pandanganku mulai membaik dan aku melihat pria itu berbalik sambil memandangiku.
Ada apa dengan pria itu? Kenapa pria itu memiliki wajah yang mirip dengan dia? Mungkinkah pria itu adalah…
Tidak! Bagaimana mungkin? Bagaimana dia bisa berdiri dihadapanku, sementara aku tahu dia sudah meninggal lebih dari 10 tahun lalu?
YOU ARE READING
Upside Down
Romance"Gue kasih tawaran, lo terima, kita pacaran." Riki dan Ami pacaran. Itu hal yang mustahil, seperti mustahilnya air menyatu dengan minyak. Persaingan tak kasat mata antara siswa jurusan IPA dan IPS justru tak menggentarkan langkah Riki untuk tetap be...
