BAB 1 PERTEMUAN PALING ABSURD

5.7K 189 14
                                        


BAB 1

PERTEMUAN PALING ABSURD

"Sudah kubilang aku gak mau nikah!" baru saja ia menaruh kopernya dalam kamar. Tiba-tiba saja neneknya datang menemuinya di kamar. Tanpa batasan, membuat jet-lag semakin menusuk kepalanya. Membuatnya berseru hal yang paling dibencinya berulang-ulang kali. Mendengus kesal dan memohon, memelas sampai merajuk manja pada si nenek untuk keluar dari kamarnya. Tapi, neneknya tak bergeming. Ia merasa cucu laki-lakinya sudah saatnya bertransformasi menjadi laki-laki dewasa.

"Tapi, gak harus nikah kan Eyang..." frustasi pria itu merajuk sambil memeluk neneknya.

"Pilihannya cuma nikah atau tidak dapat warisan sama sekali Radith. Itu artinya, blokir kartu kredit, perampasan mobil dan kamu harus angkat kaki dari rumah." Neneknya berkata tegas.

"Apa gak ada pilihan lain?" Radith mencoba mencari celah.

"Gusti, dosa apa anak dan menantuku sampai punya putra seperti ini," Nenek mengurut dada.

"Aish, aku kebanggaan keluarga Danendra Eyang," Radith mengecup lembut pipi neneknya.

"Siapa yang bilang?" Eyang menautkan dua alisnya.

"Ibu Kemala yang bilang," Radith mengedipkan mata kanannya. Sengaja menggoda sang nenek agar tertawa.

"Umurmu sudah 25, bersikaplah yang dewasa." Kemala tak kuasa lagi menahan tawa. Sambil mencubit daun telinga Radith.

"Jadi siapa yang beruntung mendapatkan pria super keren sepertiku Eyang," ujarnya narsis. Sambil mematut diri di cermin. Kemala benar-benar tak habis pikir, mimpi apa dia bisa memiliki cucu seperti Radith.

"Ada, dia perempuan yang tepat untukmu." Kemala memberi satu petunjuk.

Di benak Radith kini terlukis wajah gadis yang telah lama ia cintai. Gadis sempurna untuk pria tampan sepertinya. Pianis terkenal, cantik dan anggun, lulusan Julliard School. Maudy Agatha. Senyum dan matanya sanggup membuat jantung Radith berdegup kencang hanya dengan memikirkannya.

"Bukan Maudy," ujar Kemala. Membuyarkan lamunan cucunya.

Wajah Radith yang tadinya sumringah berubah cemberut. Menatap tak percaya pada neneknya yang malah tersenyum dengan entengnya. Bukannya, Kemala tahu Maudy adalah teman Radith mulai kecil. Perjodohan ini harusnya untuk mereka berdua.

"Eyang..." Radith mulai mengeluarkan jurus manjanya. Biasanya jika ia menunjukan puppy eyes di hadapan Kemala. Eyangnya itu akan luluh karena mata cokelat cucunya. Tapi tidak untuk hari ini. Kemala tetap menggeleng tegas.

"Menikah atau keluar dari rumah." Kemala beranjak dari kamar Radith. Meninggalkan cucunya itu untuk beristirahat. Sesekali mengurut dada, meminta maaf pada putra dan menantunya. Ia menghela napas, menyesal dulu sangat memanjakan Radith

"Eyang keterlaluan!" seru Radith kesal. Tapi tak berdaya. Badannya lelah, ia memilih melempar tubuh jangkungnya di atas tempat tidur ukuran king size.

***

Hari ini adalah harinya. Radith dari tadi pagi sudah dipaksa berpakaian rapi. Memakai pafrum yang paling wangi. Memakai kemeja yang dipilihkan Kemala untuk hari ini. Radith mendengus kesal, ketika Kemala memilihkan kemeja untuknya. Memaksanya mencoba seluruh pakaian yang ada di lemari. Hingga mendapatkan satu pilihan yang tepat menurut Kemala.

Kemeja bewarna biru langit, sangat pas di kulit putih Radith. Dipadu dengan celana blue jeans makin menyempurnakan tubuh jangkung cucunya. Kemala tersenyum puas dengan hasil karyanya. Tak berlangsung lama, senyumnya sirna. Cucunya ini benar-benar membuatnya sakit kepala. Beraninya dia mengenakan sandal japit sambil tersenyum manis di hadapan Kemala.

BUKAN PERMAINANWhere stories live. Discover now