"Lo bohong kan?" Retta membantah perkataan Hilda.
"Ngapain gue bohong sama luuu." Hilda mengelak.
"Gimana mau percaya? Itu tuh udah kayak di Imagine aja." Retta membantah.
"Ebuset. Kok gak percaya sih sama gue? Rett, Ini sebagian dari mimpi yang pernah lo ceritain juga kan sama gue."
"Well, Iyasih, mirip. Walaupun belum tau juga jadi pacar bias apa gak? Tapi yakali, da?" Retta meminum minumannya.
Hilda hanya terdiam menatap teman dekatnya yang masih saja tidak percaya akan ceritanya. Retta pun juga hanya sibuk dengan minuman dan cheesecake yang ia pesan.
Author : Hilda sabar ya
Hilda : hiks. Iya thor. Orang cantik memang harus sabar
Author : heh. Sapa yang bilang lo cantik?! (ˋ△ˊ)
Hilda : hehe
"Astaga! Masih gak percaya?" Ucap Hilda yang masih berusaha agar Retta percaya pada perkataannya.
*flashback*
"Hilda! BANGUNN!!"
"Kenapa sih, kak?!" Hilda terbangun karena guncangan dari kakaknya
Airis menarik selimut yang dipakai Hilda. "Heh. Bukannya mandi."
"Hari libur. Mager." Hilda kembali mengurung dirinya di dalam selimut
"Apa-apaan nih anak." Airis mulai mendekati pintu kamar Hilda untuk mengeluari kamar, tapi sebelumnya.. "Gak jadi kakak kasih surprise yaa~"
Hilda beranjak bangun "Eh Eh! Tunggu! Kejutan apaan?!!"
Pertanyaaan Hilda tidak dijawab oleh sang kakak. Melainkan, sang kakak langsung keluar dari kamar Hilda.
"Akhh!! OKAY!! OKAY!! AKU AKAN MANDIII!! Happy now?" Sebelum ia mengambil handuknya, Hilda sempat mendekati pintu kamarnya "Oya, aku tau kakak masih di depan pintu kamarku, menunggu jawaban pasrahku." Airis hanya menertawai kelakuan adiknya
~•~
"Mana surprise ku?" Hilda menagih perkataan kakaknya
"Cih. Siapa yang mau kasih kamu surprise?" Airis hanya santai membaca majalahnya.
"IHH!! KAKAKK!!"
"Hilda! Bisakah kamu tidak teriak-teriak? Adikmu sedang tidur!" Bentak bunda pelan.
"Maaf bun." Ucap Hilda dengan pelan.
"Wlee." Airis meledek adiknya dengan menjulurkan lidahnya.
"Hey!" Lanjut emosi Hilda
"Bisakan tidak ganggu kakak? Kamu lihat kan kakak sedang baca majalah?"
"Aku tidak mau pergi sampai kakak minta maaf" Hilda menyilangkan kedua tangannya.
"Iya, iya, aku minta maaf. And.. sebenarnya kamu dapat surat dan paket. Makanya kubilang ada surprise, mungkin saja dari secret admirer? Uhm, walaupun sepertinya gak mungkin kamu ada secret admirer."
"Apa? Sekarang dimana paketnya?" Hilda menghiraukan kalimat terakhir yang diucapkan Airis
"Aku biarkan di tempat surat. Ambil saja." Airis hanya sibuk membalik-balik halaman majalah yang ia baca.
"Ooh, okay." Hilda bergegas pergi ke tempat surat itu berada.
"Ah! Ini dia." Hilda mengambil paket itu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"AAAAAAA!!!"
Author : okay readers, jika hari ini gempa, kurasa itu karena Hilda
Hilda segera menelpon Retta untuk ketemuan. Berlanjut keatas, dimana Retta tidak percaya dengan perkataan Hilda.
Author : muehehe~ sorry kalo prolog nya gaje 😅
Hilda : Author nya aja gaje
Author : heh! Diem lu!
Author : oh, ya, Idol School sebelumnya aku unpublish dan sekarang author publish lagi yeayy ^^
Hilda : ... (translate : akhirnya di publish lagi, makasih thor)
Hilda : oii translate nya belom di uninstall apa?!! (Dialog sebelumnya ada di "Him? or Him?" Chapter 23)
Author : anyway, semoga senang dengan ceritanya yaaa~ 😍 sorry kalo misalnya lama update dan kurang seru,
1. Kalo lama update, itu gara-gara aku punya banyak cerita yang belum kuselesain
2. Kalo kurang seru, aku tidak tau.. yang jelas, aku akan berusaha lagi. And kalau misalnya ada kekurangan comment aja 😁 tapi baik-baik yaa
Hilda : Sampai jumpa di part selanjutnya.
YOU ARE READING
Idol School
RandomApa jadinya jika kamu bisa debut tanpa audisi di dunia hallyu? Bahkan, kamu sampai diperebutkan oleh banyak agensi Author usahakan update setiap hari Minggu :) Jangan lupa tinggalkan jejak kalau sudah membaca :) seperti vote or vomment :) was #1 H...
