Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

[1] Satu

17 2 0
                                        

"Na, baju gue jadi melar kalo ditarik-tarik kayak gini.. Aduh.." Cewek berambut pendek tebal dan pirang coklat itu terus menggerutu pada seorang cewek lagi yang kini menarik-nariknya dengan sekuat tenaga.

Naas, cewek yang menariknya tadi tidak merespon amarahnya.

"Renaa! Aduuuh.." Kini ia sampai pada suatu tempat yang bisa membuat mereka berdua merasa malu.

"Ashabilla?"

Okay. Mereka sekarang ada di depan pintu kelas XI IPA 1.

"Masuk nak, kebetulan saya mau nitip tugas buat kelas kamu, jam terakhir nanti saya enggak masuk" kata Bu Yana seraya membawa setumpuk kertas folio kosong dan kertas HVS berisi soal-soal yang diyakini jawabannya sepanjang isi kitab.

Sambil tersenyum kecut, cewek yang disebut 'Ashabilla' tadi menerima tumpukan kertas itu. Dengan terpaksa ia membawa tumpukan kertas itu ke kelas mereka yang jaraknya hanya dua kelas.

"Ren, lo kok malah narik gue ke IPA satu, sih?" amarah Ashabilla meluap-luap. Ia tahu bahwa seharusnya ia dibawa paksa oleh Rena menuju ruangan OSIS untuk mengambil formulir pencalonan Ketua OSIS periode depan.

"Gue tadi kalap. Maafin, khilaf tadi" katanya dengan mata berbinar yang menandakan bahwa dia teringat hal yang sudah terjadi.

"Apaan sih. Gue jadi bawa kertas tugas, kan. Lagian, lo khilaf kenapa sih?"

"Rio tambah cakep aja sih" Ashabilla merasa ingin menampar setampar-tamparnya gadis polos nan bego disebelahnya ini.

"Bikin malu ah" Ashabilla meninggalkan Rena dengan tampang bego dan binar dimatanya.

"Udah selesai?" Ashabilla terkesiap begitu melihat Gadis datang dengan membawa secangkir teh hangat.

"S-sedikit lagi, tinggal program kerjanya" Ashabilla tidak bisa bicara dengan lancar untuk saat ini.

"Kamu harus bisa ngabulin permintaan kakak kali ini. Kakak udah nggak sanggup lihat kamu kayak gini" Gadis meneteskan air matanya yang membuat Ashabilla kagum dan kaget. Selama ini, kakaknya yang dipandangnya tegas, kuat, ternyata air matanya tidak beku. Masih ada kehangatan dimatanya.

Gadis memeluk erat adiknya yang selama ini selalu diremehkan. Ia iba dengan adiknya yang tidak di perhatikan.

"Kamu bisa menjaga kepercayaan kakak, kan'?" katanya lagi dengan senyum tipis di bibirnya. Ashabilla hanya mengangguk pelan.

°°°
Bersambung

Sekian prolog.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 12, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ImagineStories to obsess over. Discover now