prat 1 (menikah)

25 0 0
                                        


Bukankah ikhlas itu ibadah? Tapi mengapa menjalankannya susah?

♥♥♥

Ternyata menjalankan apa yang tak diinginkan adalah hal terberat yang harus dilalui. Apalagi jika harus berpura-pura bahagia sedangkan hati terluka.

Pasrah dan ikhlas akan takdir, ini sudah takdir Allah yang harus kau terima naura

Kalimat itu tak henti-hentinya ia rapalkan dalam hati sebagai penyemangat hatinya yang sedang kalut.
Sesekali ia memejamkan mata seraya melantunkan dzikir. Menahan airmata yang sudah jatuh.

"Naura...?"
Sontak gadis yang sejak tadi menghadap cermin itu mengalihkan pandangannya pada asal suara.
Berhambur memeluk wanita paruh baya pemilik suara tadi.

"Ibu..." lirih naura hampir tak terdengar. Airmata yang sejak tadi ditahannya merembes keluar tanpa terbendung.

Farida yang menyadari itu setelah terkejut beberapa saat  mengurai pelukan anak gadisnya yang beberapa menit lagi akan menikah itu.

"Shhh...kok calon pengantin nangis sih nak? Haduh...bisa luntur nanti riasannya. Gak cantik lagi deh anak ibu".hiburnya seraya menghapus airmata di pipi naura.

Naura hanya tersenyum tipis mendengar gurauan ibunya.

"Sudah jangan nangis nak, ayah tidak akan sembarangan memilih suami untukmu"
Ucap farida tak lupa dengan senyuman indah yang itu mampu membuat naura tenang walupun belum sepenuhnya.

"...lagi pula kamu sudah kenal betul calon suamimu itu. Fadlan kan sahabat kamu nak! Anaknya juga baik dan sholeh, dia juga deket dengan keluarga kita. Kamu pun begitu" lanjutnya.

Ya fadlan, dia sahabat sekaligus  calon suami naura beberapa menit lagi. Mereka menikah atas kesepakatan orang tua naura dan fadlan, tentunya tanpa sepengatahuan mereka. Dan salah satu alasan pernikahan ini karena permintaan dari ayahnya fadlan yang mengidap penyakit jantung. Bahkan sekarang ia masih duduk dikursi roda karena kesehatannya belum membaik. Fadlan dan naura  dikasih tahu soal pernikahan ini seminggu kemaren. Terkejut? Tentunya bahkan dari kejadian itu naura selalu menangis. Entah rasanya ia tidak bisa menerimanya waktu itu begitupun sekarang, hanya saja sudah lebih pasrah dan ikhlas. Fadlan memang pria sholeh dan baik, tapi sungguh dia mencintai pria lain begitupun fadlan ia mencintai gadis lain bahkan ia katanya akan melamar gadis itu secepatnya dan tentunya mereka baik fadln maupun naura tidak terikat dalam ikatan pacaran karena itu salah satu prinsip mereka. Yang tak mau mencari pasangan hidup lewat hubungan yang tak di ridhoi Allah.

Flashback

"...kalian seminggu lagi kalian akan menikah" ucap bapak yang tegas itu mampu memberi tamparan kasat ke tubuhku.
Syok, itulah yang aku alami. Kulirik adlan yang ada di sampingku yang juga melirikku saat itu juga. Ku lihat dia sama kagetnya dengan ku.
Apakah dia tidak tahu juga? Pikirku.

"APA...?!"ucapku.

"Yah...ada apa ini? Kenapa kalian merencanakan ini tanpa menanyakan terlebih dahulu padaku?" Lanjutku.

"Ayah pikir inilah yang terbaik. Mengapa kami harus meminta persetujuanmu?" Jawab ayah.

Ku membuang nafas kasar frustasi
"Tapi setidaknya naura dikasih tahu dahulu? Setidaknya beri kesempatan naura istikhiroh. Pernikahan bukan permainan ayah, ini menyangkut masa depan kehidupan naura! '' Ucapku dengan suara yang mulai serak menahan airmata.

"Ini kami sudah memberi tahu kamu. Ini sudah keputusan ayah naura. In Syaa Allah inilah yang terbaik nak. Lagian kamu tinggal hadir dalam pernikhan nanti. Karena kami sudah mengurusnya"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 05, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pemilik HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang