[BOOK ONE] Private Acak
NERD SERIES: DARIAN (My Favorite Nerd)
I like you just as you are
"Lo lebih napsu sama komik lawas gini daripada lihat gue ngomong?"
"Apa yang harus gue napsuin dari lo? Dada lo aja kecil!"
"MATI LO BESOK PUCUPU!"
Copyright...
"Dis bangun.. Ah elah kebo banget sih lo!" Diandra terus menggoyangkan bahu Diska yang sedang terlelap disampingnya. Diska tampak berguman tidak jelas lalu menutup matanya kembali dan membuat Diandra, perempuan berambut pirang itu semakin kesal.
"WOY NJING BANGUN!" kali ini teriakan Diandra terdengar sangat mengema di ruang kelas yang tampak tenang itu. Tatapan yang sedari tadi terfokus pada papan tulis kini berganti alih pada meja pojokan milik Diska dan Diandra. Butuh beberapa menit untuk Diandra mengingat bahwa dia lupa bernafas karena tatapan seluruh makhluk di kelas ini menatapnya dalam.
"Sorry guys!" Ucap Diandra dengan cengiran khas dibibirnya.
Tangannya yang sedari tadi mengenggam pena akhirnya bebas meluncur di kepala perempuan yang duduk disampinnya.
"Apa sih lo njing? Lo laper? Apa butuh gincu? Mulut lo soak bener dah." Gerutu Diska sambil mengucek kedua mata nya beberapa kali. Pandangannya yang tadi mengabur kini menjadi semakin jelas. Menguap beberpa kali lalu merentangkan tangan nya yang terasa kesemutan karena ia jadikan batal untuk tidurnya. Diska mengernyit bingung karna seluruh teman sekelasnya sedang memandanginya.
"Ra kenapa semua pada ngelihatin kita gini sih?" Merasa ditatap seperti itu Diska mendesah pelan dan kembali menatap Diandra yang sedang cengar-cengir menyebalkan.
"Sorry Dis tadi gue kelepasan." Ucap Diandra lirih namun dapat di dengar oleh Diska. Begini nih kalau punya sahabat tapi mulutnya soak. Menyebalkan bukan?
"Gue tahu gue cantik. Jadi gak usah sok pada terpesona gitu deh sama gue." Tanpa perduli tatapan orang yang ada di ruangan ini Diska mengambil cermin dan meraih gincu merahnya. Mengoleskan beberapa kali di bibir tipisnya sambil bersenandung kecil. Diandra yang ada di sebelahnya pun hanya bergeming melihat tingkah sahabatnya itu.
"Maaf sebelum nya ananda Diska Nadhira Almaira, Saya harap kamu sedang tidak lupa ingatan kalau ini kelas Kimia buka kelas Kecantikan. Jadi harap sipan gincu mu dan segera cuci bibir mu yang seperti tersengat lebah itu. Bapak tidak suka jika ada murid bapak yang berpenampilan alay layaknya bukan seorang pelajar"
Guru dengan perwakan tinggi berkulit hitam dan berambut putih yang tak lain adalah Pak Sayuti telah berdiri manis di samping meja Diandra dan Diska. Tanpa dikomando lagi suara cekikian dari penjuru ruangan itu pun terdengar syahdu hingga membuat Diska mencebikkan bibirnya kesal.
Diska mengembalikan gincu dan juga cermin itu ke dalam tas ranselnya. Diliriknya Pak Sayuti yang sekarang sedang mengeram kesal karna menahan emosi. "Maaf Pak. Tapi ini kebutuhan, saya harap bapak mengerti. Bukan kah istri bapak dirumah juga menggunakan gincu untuk mengoda bapak pada malam jum'at?" Celetukan seperti Diska emang top banget dan Gilak udah mirip cabe tu omongannya Diska semakin mengema di ruangan ini.
"Baik. Diska dan kamu Diandra pergi ke ruang BK dan tanyakan apakah hari ini ada tugas untuk kalian kerjakan." Tanpa menunggu reaksi yang diberikan kedua anak didik nya itu Pak Sayuti melenggang pergi meninggalkan meja Diska dan Diandra.
"Ah elah males banget gue Dis, pasti kita ketemu lagi sama Bu Suprapto." Cibir Diandra pada Diska saat mereka keluar dari kelas tanpa rasa malu sedikit pun. Hem mungkin mereka itu semacam makhluk setengah cabai jadi harus dimaklumi kalau tidak mempunyai urat malu sama sekali.
"Eh Dis lihat itu!"
Pandangan Diska kemudian berhenti pada sosok cupu yang tengah membawa bertumpuk- tumpuk buku tebal. Dengan kedua tangan yang menyangga buku yang hampir menutupi seluruh wajahnya itu, dia terus berjalan sambil menyeimbangkan berat buku dengan langkahnya. Sekali lagi, Diska menolehkan kembali wajahnya ke arah Diandra. Detik berikutnya senyum meremehkan muncul dikedua bibir remaja itu. Dengan sebuah angukan dari Diandra tepat saat si cupu Darian melewati kedua gadis itu, kaki jenjang Diska menjegal kaki Darian hingga membuat nya terjungkal ke depan.
Brukkk!!
"Aduh maaf ya prince pasti sakit ya? sayangnya gue sengaja ngelakuin itu, sorry banget ya! Tenang aja gue gak menyesal kok udah kayak gitu sama lo." Tutur Diska ramah dengan senyum menawan.
Dengan langkah lesu Darian bangun dan mengambil kembali tumpukan buku tebal bertuliskan KIMIA 2b itu. Pandangannya sama sekali tidak melihat Diska dan juga Diandra yang sekarang tengah tertawa mengejek nya. Merasa tidak mendapat balasan apa pun dari Darian, Diska semakin melancarkan aksinya. Diinjak nya buku tebal yang akan diambil cowok nerd itu. Senyum smrik pun tercetak jelas di wajah nya.
"Ayo katakan sesuatu, lo bisu ya gak bisa ngomong?"
Darian hanya menghirup nafas panjang. Suasana batin nya sedang memburuk dan ditambah lagi rival nya yang merupakan jelmaan cabai ini sangat membuat hatinya semakin memburuk. Dilihatnya kaki Diska yang seakan tidak mau enyah dari atas buku tebal itu. Jika bukan karena guru sialan yang menyuruh untuk mengambil buku diperpustakaan untuk kegiatan pembelajaran hari ini, dia tidak sudi capek- capek hingga berkeringat begini. Apalagi sampai di bully habis- habisan oleh rivalnya yang semua orang tahu dia merupakan biang kerok terjadinya keramainan di sekolahan ini. Darian menghirup nafas dalam dan memijat pelipisnya yang semakin terasa panas. Bahkan didalam hati terdalamnya sana dia ingin sekali mencabik- cabik mulut gadis yang ada dihadapannya sekarang.
"Gak usah sok- sokan sujud gitu deh. Gue udah maafin semua kesalahan lo kok pucupu." Ejeknya lagi hingga membuat telinga Darian kian panas.
Merasa kesabarannya sudah menipis oleh kelakuan Diska, Darian pun berdiri dan menatap Diska tepat di manik matanya. Diska yang ditatap oleh mata elang itu menjadi diam tidak bergeming. Diandra yang sedari tadi tertawa terpingkal- pingkal mendadak menutup mulutnya rapat- rapat.
Kena lo medusa!
Darian tersenyum yang entah kenapa membuat Diska semakin geram.
"Apa lo lihat- lihat? Berasa udah punya nyali ya buat ngelawan gue?" Diska mencoba melawan rasa takut di dalam hati nya karna tatapan mata elang itu. Cowok nerd itu hanya menghembuskan nafasnya dan pergi meninggalkan Diska dan Diandra. Bukan karena takut, tapi dia tidak mau menjadi bahan tontonan gratis untuk siswa yang sedang berlalu lalang melawati mereka bertiga.
"Heh cupu mau kemana lo? Oh gue tahu lo kan bisu ya jadi gak bisa ngomong." Dengan cepat Diska meraih baju si cupu hingga dia menghentikan jalannya. Darian mengertakkan giginya mencoba menahan emosinya agar tidak meledak sekarang juga.
"Segitu pengen nya ya lo denger suara gue? Udah kan? Pasang telinga lo baik-baik dan ingat suara gue. Oh ya satu lagi, buku yang dibawah itu bagian lo sama temen lo. Jangan lupa di ambil!"
Kalau saat ini Diska berada di film kartun- kartun maka dia akan menjatuhkan mulutnya ke bawah hingga menyentuh lantai. Bahkan dia baru tahu cowok nerd itu punya mulut yang sangat tajam melebihi mulutnya yang terkenal sangat bar- bar.
"Tadi itu Darian Dis? Bangke ya ternyata?"
****
TBC
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.