1

24 0 0
                                        

Gigi POV

Duh, wajahku kok jadi begini sih, kalau dilihat-lihat mirip boneka Annabelle atau mungkin cerminya tidak kuat memantulkan wajah orang cantik. Aku terpaksa dandan karena malam ini aku dan sahabatku akan Hangout  bersama sebagai perpisahan aku akan pindah ke Bandung. Aku sih maunya ke bioskop nonton film horror. Setelah adu mulut yang begitu panjang akhirnya kami memutuskan pergi ke restoran mie. 

Aku sudah berdiri di depan restoran. Untung saja mereka memilih restoran yang bukan berbintang, bisa-bisa aku hanya minum teh hangat lalu berbohong sudah kenyang atau tidak nafsu makan. Aku masuk ke Restoran sambil memandangi deretan kursi mencari keberadaan para perompak uangku. Ternyata mereka sudah berkumpul. Sahabatku memang tidak banyak hanya tiga orang tapi jika teman, seluruh sekolah adalah temanku, itupun kalau mereka mau.

"Lama banget datangnya," ujar Raya sewot.

"Bilang aja mau makan tapi yang bayarin masih belum datang." Udah ketebak perut karet di depanku memang suka makan karung beras. Raya memang suka makan tapi dia selalu bingung kalau gemukan. Tapi menurutku dia gak bisa gemuk.

Pletak.

"Sttt, aib woyy," bisik Raya lirih.

"Sttt, kepalaku sakit woy." Balasku tak mau kalah. Aku dan Raya memang sering bercanda, orang yang tidak tahu pasti mengira aku sedang bertengkar denganya.

"Bentar lagi pasti berantem, dasar kalian selalu begitu." Tebak Yunda diantara keempat orang ini yang otaknya benar hanya Yunda. Sedangkan, lainya otaknya pantas disebut otak udang.

"Raya duluan tuh," ujarku pura-pura sewot.

"Hey, kamu duluan ya" teriaknya.

"Sudah-sudah mau pisah juga kayak gini, pesan makanan yuk" sela Gina.

"Hayuk." Aduh biyung, kantong cucumu ini sebentar lagi kering.

Aku pesan mie  level 3 dan jeruk hangat. Bodoh banget aku ini, makan pedas tapi minumnya jeruk hangat. Alhasil lidahku ini rasanya seperti terbakar. Minuman Yunda pun jadi korbanya aku seruput es jeruknya sampai dangkal. Restoran Mie disini memang yang paling pedas tak heran jika level 3 sudah pedas padahal aku tergolong penggila sambal.

Seketika Suasana Restoran menjadi menyedihkan seperti upacara pemakaman ketika Gina mengeluarkan suaranya.

" Gigi kamu gak bakal lupain kita kan?" Tanya Gina nada bicaranya berubah sedih.

"Kamu pikir aku bakal lupain kalian? Ya enggaklah, kita dari SMP bareng-bareng terus,sampai guru-guru bilang kita kayak lem. Kita selalu saling mendukung. Kita gak pernah biarin diantara kita ada yang jatuh, kita pasti saling menyokong, kita senang sedih bareng- bareng. Mungkin ngga ada sosok yang seperti kalian di Bandung kalian satu-satunya." Jawabku entah kenapa mataku terasa panas.

"Aku bakalan kangen berantem sama kamu, ngga ada yang bakal nangisin aku lagi saat aku gagal. Intinya aku nolak buat pisah sama kamu." Buliran bening kini mendarat mulus di pipi Raya.

"Iya gi, jangan pernah lupain kita padahal cita-cita kita buat sekolah bareng di SMA favorit udah tercapai kamu malah pergi." Tangan Yunda memegang erat tanganku kurasakan tanganya gemetar.

"Intinya aku gak bakal ngelupain kalian dan aku akan selalu ke sini tiap liburan semester." Jawabku menenangkan mereka dengan sura bergetar.

"Sumpah, aku gak bisa bicara apa-apa, maaf." Suara gina berubah serak.

"Udah deh aku bakal kembali kok, rumahku masih di sini, ngga usah pada lebay gitu," jawabku menguatkan sahabatku. Padahal aku sendiri gak rela pisah sama mereka. Raga kita memang berpisah tapi hati kita masih melekat bukankah seperti itu arti sahabat?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 25, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RebeccaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang