Chapter 1

33 2 0
                                        

Cinta itu seperti angin. Hembusannya lembut menyentuh hati.

Terlambat!! Adalah hal yang biasa bagi Pelangi. Begitupun pagi ini, tak ada yang berubah dan sudah jadi kebiasaan di pagi hari yang sibuk. Dengan langkah tergesa-gesa ia menuju ruang makan. Minum susu, menyomot roti, dan berjalan cepat menuju SMA CITA TIRTA yang berjarak tidak telalu jauh dari rumahnya, sudah menjadi rutinitas kesehariannya. Sekalipun suara omelan Mama selalu menjadi lagu pengantar paginya, Pelangi tampak acuh tak acuh. Setelah berpamitan, ia pun bergegas berangkat ke sekolah.

Setibanya di sekolah, sudah pasti gerbang sekolah telah ditutup. Tapi itu bukanlah akses masuk sekolah satu2nya bagi siswa-siswi SMU CITA TIRTA, tidak terkecuali Pelangi. Pelangi menyelinap ke belakang sekolah. Disana ada pagar besi yang salah satunya sudah rapuh dan dengan mudah dapat dilepas dan dipasang kembali. Pelangi masuk melewati celah pagar itu dan memasangnya kembali. Setelah memastikan sudah terpasang dengan benar dan tak ada yang memperhatikan perbuatannya, ia mengendap-endap berjalan menyusuri koridor menuju lapangan tempat para siswa-siswi dan guru-guru membentuk barisan rapi upacara bendera.
Beruntung baginya, karena letak kelasnya diujung koridor pagar belakang sekolah. Teman-teman sekelasnya tersenyum melihat ulah Pelangi. Dengan cepat ia menjatuhkan tasnya ke dalam kelas melalui salah satu jendela yang terbuka, dan segera bergabung dalam barisan kelasnya.
Namun tiba-tiba, suara seorang siswa memecah hikmatnya upacara yang berlangsung.

(Berteriak sambil mengacungkan sebelah tangan) "Pak!! Disini ada yang terlambat." (Sembari menujuk ke arah Pelangi)
Dan semua mata pun terbelalak ke arah si empunya suara, tak terkecuali Pelangi. Kali ini Pelangi tak lagi dapat menghindar dari hukuman.

Kkrrriiinnggg..!!!!!
Bel istirahat berbunyi. Guru pengajar pun keluar dari kelas diikuti para siswa-siswi.

Dalam kelas Pelangi..

"Bbbrraaaaakkk..!!!"
Pelangi menggebrak keras meja dengan kedua telapak tangannya.
"Siapa sih tug cowok? Cari mati ya??" Pelangi berkata setengah berteriak dengan penuh emosi.

Bintang adalah cowok yang berani mengusik hidup Pelangi. Dia adalah murid pindahan yang masuk saat Pelangi izin seminggu kemarin. Kelasnya tepat di sebelah kelas Pelangi. Menurut gosip yang beredar selain wajahnya yang sudah dapat dipastikan ketampananya, hidung mancung, alis hitam tebal, dengan potongan rambut cepak rapi membuat pemilik wajah itu semakin sempurna. Pandangan mata teduh tajam mempesona, senyum menawan yang sopan, siapa yang ingin melewatkan indahnya pemandangan itu?
Semakin sempurna dengan otaknya yang cerdas, terutama dalam pelajaran matematika yang sudah pasti banyak yang menghindar dengan pelajaran sulit nomor wahid bagi para pelajar itu.

Salah seorang teman sekelas Pelangi menyeletuk, memecah ketegangan kelas saat itu.
"Apa jadinya kalau bintang ketemu Pelangi?"
Sontak siswa-siswi yang saat itu tinggal di dalam kelas tertawa tak peduli dengan Pelangi yang memasang wajah gusar. Tak terkecuali Vela sahabat Pelangi. Pelangi pun memelototinya dengan wajah cemberut sinis.

Sementara itu, Bintang juga sangat penasaran dengan Pelangi. Sedari tadi teman2nya membicarakan kenekatannya mengusik Pelangi.
"Sebenarnya, siapa sih Pelangi itu?"
Tanyanya penuh heran.
Teman sebangkunya Andre menjawab, "Pelangi itu cewek paling disegani di sekolah ini, anak donatur terbesar di yayasan sekolah. Selain itu otaknya yang encer dalam SAINS dan Bahasa Inggris membuatnya menjadi salah satu siswi yang sering mewakili sekolah dalam lomba pelajaran terkait dan sukses menyabet banyak piala untuk sekolahnya. Dia juga ketua redaksi mading sekolah. Tapi... Jutek plus galaknya gila abis."
Andre berhenti sejenak mengambil nafas panjang setelah bicara panjang lebar tanpa jeda.
Kemudian meneruskan,
"Dan yang paling penting, JANGAN CARI MASALAH dengan dia (Pelangi). HABIS!!"
Andre berkata di akhir kalimatnya dengan penekan di kata terakhir.

Bintang hanya mengerutkan dahi mendengar penjelasan Andre. Dalam hatinya bertanya-tanya,
"Apa sih yang bisa dilakukan cewek kaya manja yang mungkin hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya?"

Hari itu Pelangi kehilangan selera untuk membuat ulah di sekolah lantaran kejadian saat upacara sudah membuatnya cukup malu.
"Anak baru sialan."
Pikirnya dalam hati.
Raut wajahnya menunjukkan kekesalannya, namun tetap mencoba menguasai emosinya.

Tanpa terasa waktu pulang sekolah pun tiba. Di pintu gerbang tampak Pak Diman, supir pribadi Pelangi sudah menunggunya. Pelangi menarik napas panjang. Ia kesal jika Mamanya meminta Pak Diman untuk menjemputnya, menurutnya, berangkat sendiri, ya pulang sendiri. Begitulah keinginannya. Namun mamanya nampaknya tak tega dengan anak tunggalnya itu, jika harus berpanas2an pulang dari sekolah. Menurut perjanjian, Pelangi hanya diizinkan berangkat sendiri, bukan berangkat dan pulang sendiri.

Pelangi menatap Pak Diman dengan wajah datar.
"Kunci." (Pelangi berkata seraya menengadahkan tangannya).

"Biar aku yang nyetir. Pak Diman duduk manis aja!"
Lanjutnya dengan ekspresi datar yang sama.

Melihat nonanya dengan wajah seperti itu, Pak Diman mengerti betul apa yang harus dilakukannya, maka segera diserahkannya kunci mobil pada nonanya itu.

Ditengah perjalannya, Pelangi melihat sosok Bintang yang mengendarai motornya perlahan. Niat isengnya untuk membalas Bintang muncul sesaat menatap kubangan bekas hujan semalam. Tepat saat Bintang melintasinya, Pelangi menggas mobilnya, hingga muncratlah air kubangan itu ketubuh Bintang.

Yupp!! Basah maksimal.

Seketika itu juga Bintang yang terkejut menghentikan laju motornya. Pelangi pun demikian, menghentikan mobilnya dan segera keluar.

"Maaf!!" Ia berkata dengan nada mengejek dan berlalu begitu saja meninggalkan Bintang yang masih terpaku.






Chapter 1: Well done!! ☺😊😆
Kritik dan saran sangat diharapkan readers.
Yakin banget masih banyak kekurangan. So, i'm waiting for you, hehehehe..
Coret2 ya readers.
See yaa in Chapter 2.

Kalau Bintang Ketemu PelangiStories to obsess over. Discover now