Air turun tiba-tiba dari atas cakrawala yang tak menandakan kedatangan hujan. Belum bersiap lindungi diri akhirnya air itu tumpah basahi semuanya. Segera berlari ke halte kosong untuk berteduh. Semuanya basah dan make up ku pun luntur oleh hujan, bagaimana nanti saat dia melihat penampilanku ini. Gagal rencanaku untuk tampil sempurna didepannya.
Sekarang hanya bisa menunggu hujan mereda. Handphone berdering, satu pesan darinya yang mengatakan bahwa kali ini pertemuanku dengannya tidak bisa terlaksana karena hujan turun sangat deras, dia membatalkan rencana tanpa memikirkan apakah aku sudah siap, apakah aku menunggunya menjemputku disuatu tempat, tanpa basa-basi dia membatalkan itu lewat pesan singkat pula. Itu membuatku sangat jengkel, hujan menemani kekecewaanku saat ini.
Hujan semakin deras seakan tak mau mereda seperti persaanku saat ini.
Dengan hati yang dongkol aku melangkah pulang menerobos derasnya hujan, jalan yang sepi dan becek kulalui tanpa payung yang melindungi. Tak terasa sudah diujung jalan, berhenti melihat sekeliling untuk menyebrang. Tak sengaja mataku melihat orang yang mengirim pesan singkat tadi bersama orang lain yang tak asing bagiku, awalnya kupikir itu hanya salah lihat. ku pertajam penglihatanku dan itu meyakinkanku bahwa apa yang ku lihat itu benar-benar terjadi, di café seberang jalan itu mereka terlihat seru berbincang satu sama lain, memperlihatkan kemesraannya bagai sepasang kekasih. Dia membatalkan pertemuannya denganku dan jalan dengan orang yang kukenal yang tidak lain adalah adik ibuku sendiri. Mengapa harus seseorang yang dekat denganku, dan seseorang yang telah bersuami. Ternyata orang yang kuterima sebagai kekasih adalah simpanan wanita bersuami. Apa yang sudah terjadi selama ini, kenapa baru hari ini aku mengetahui itu.
Ada apa dengan semua ini, suhu yang sangat dingin diluar sini sudah tak terasa lagi. Yang pasti kurasakan saat ini adalah api yang terus menyala besar yang tak bisa padam oleh air, dua orang yang sangat kukenal itu menusukku dari belakang, membuat luka yang menganga dalam hati. Pedih, sesaat dadaku terasa sesak, bibir gemetar menahan pilu, tak terbendung lagi air mata langsung mengalir deras ke pipi bercampur dengan air hujan. Tak habis pikir memang. Setengah jam berdiri dibawah hujan terus memandangi mereka berdua dari seberang jalan ini. Dengan raut muka penuh muak.
Seketika mantel tebal hitam menyelimutiku dari belakang memberiku kehangatan sesaat, sampai akhirnya mantel itu pun ikut basah karena hujan. Berbalik kebelakang ingin mengetahui siapa yang meletakan mantel dibahuku. Seorang pemuda dengan senyum menyambut pandanganku, pemuda yang baik hati, ya dia orang yang kukenal. Dia yang selalu ada disaat-saat aku membutuhkannya, dia yang mengerti perasaanku saat itu, dia menghapus air mataku, memelukku dan memberikan ketenangan. Sesaat hatiku terasa damai.
Di bawah hujan, pembawa hangat, engkaulah yang kucari selama ini. Kenapa aku begitu tolol dan bodoh baru mengetahui dan menyadari kehadiranmu yang sungguh berarti. Aku bersyukur hujan yang membawamu padaku saat ini. Kau menepati janjimu beberapa waktu yang lalu. Janji bahwa suatu saat nanti aku akan mencari cintamu. Dan saat ini aku katakan kepadamu, aku mengakui hatiku untukmu. Aku memiliki sesuatu yang berharga saat ini. Aku merasakan air mataku jatuh, aku mengingat semua memori yang pernah kita lalui.
Saat pertama kali kita bertemu. Saat aku melukaimu dengan kesalahanku memilih dia, tapi kau tak pernah sekalipun menyalahkanku. Dan kau berikanku kekuatan, tersenyum dan semuanya akan baik-baik saja. Aku sangat egois jika aku berharap hatimu akan tetap sama selamaya, saat kamu terus menungguku. Bolehkah aku mengatakan lagi. Aku mencintaimu lebih dari semua kata yang ada, tolong jangan pernah lupakan ini.
Tersenyum lega mendengar semua pengakuanku, dia yang adalah cinta sejatiku memelukku erat seakan tak mau melepaskannya. Dia berkata aku selalu menepati janjiku, aku akan terus mengunggumu sampai kau sendiri yang menyatakan perasaanmu padaku. Tak akan kulepaskan bidadari cintaku. Berjanjilah kau akan bahagia bersamaku. Aku akan menemanimu disetiap musim hidupmu. Yakinilah, setiap hujan turun seperti hari ini kau akan mengingat kisah ini, mengingat janji kita berdua. Lupakanlah yang lalu, mulailah lagi bersamaku.
Mungkin saat ini aku sudah terlalu tua untuk mengingat itu, hanya itu yang dapat kuingat dimasa tuaku. Hari ini hujan yang mengingatkanmu sayang. Peristiwa bersejarah kita saat itu, sangat detail ku mengingatnya. Lima tahun sudah kau meninggalkanku sendirian dibumi ini, apa kau tenang disana? Aku tak akan menyalahkanmu karena pergi mendahuluiku dan meninggalkanku, karena aku percaya hanya badanmu yang tak akan pernah kulihat lagi tapi jiwamu masih ada bersamaku, tinggal dalam hatiku. Hujan yang mengingatkan ku tentang semua itu, hujan meyakinkanku akan janjimu, dan janjiku padamu saat ini adalah aku akan menyusulmu kesana. Pasti kau telah menyiapkan tempat terindah untuk kita berdua disurga. Aku tetap mencintaimu, tunggu aku sekali lagi !!
Original, by : irna wulansari budiman
