[01]. Insiden

38.7K 1.1K 105
                                        

Vote dulu sebelum baca.

***

Matahari bersinar terang di ujung timur. Meskipun jam baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi, namun sepertinya sang raja siang begitu semangat menunaikan tugasnya. Sinar hangatnya membuat beberapa murid kelas XII IPA 2 yang tengah olahraga tampak kepanasan. Beberapa dari mereka terlihat mengusap peluh yang bercucuran.

Salah satunya cewek berkuncir kuda ini yang tengah membungkukkan badan. Salah satu tangannya ia gunakan untuk memegangi perutnya yang terasa sakit akibat berhenti tiba-tiba saat berlari. Sementara tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap peluh yang bercucuran di dahi, sesekali ia mengibaskan tangan guna mengurangi kegerahan.

"Payah! Gitu aja capek!" cibir seorang pemuda yang melintas di sampingnya.

Alyn -cewek ini- menegakkan tubuhnya setelah mendengar cibiran salah seorang teman kelasnya. Ia mengerucutan bibir, tidak terima dengan spekulasi Aldre.

"Gue ngga payah! Gue cuma istirahat, tau!"

"Alynsa! Siapa yang menyuruh kamu berhenti? Cepat lari!"

Alyn menoleh pada pria paruh yang tengah berdiri di tepi lapangan basket tempat ia dan teman-temannya berolahraga.

"Iya, Pak," pasrah Alyn yang kemudian melanjutkan larinya. Dalam hati, ia merutuki guru olahraga bertopi merah menyala tersebut.

Alyn menghadap ke depan dan mendapati Aldre yang berlari beberapa meter di depannya dengan posisi berbalik menghadapnya.

"Mampus!" Aldre mencibir pelan, lengkap dengan senyum miringnya yang membuat Alyn ingin memakannya hidup-hidup saat ini juga.

"Baik anak-anak, larinya cukup. Sekarang kumpul di depan saya!"

Alyn bernapas lega. Akhirnya olahraga yang ia benci selesai juga. Lantas Alyn mengikuti teman-temannya yang berkumpul di depan Pak Dhirga. Ia menoleh ke kanan. Seketika ia merasa menyesal telah mengambil posisi di barisan depan, karena berjarak dua dari kanannya berdiri Aldre yang tampak konsentrasi mendengar penjelasan dari Pak Dhirga.

"Jelas semuanya?"

"Jelas, Pak!" serentak murid XI IPA 2 kecuali Alyn. Cewek itu justru melongo bingung, tidak mengerti dengan penjelasan Pak Dhirga karena sedari tadi ia memang tak mendengarkan.

"Pak Dhirga ngomong apa, De?" tanya Alyn dengan berbisik pada cewek berdagu tirus yang berdiri di belakangnya.

"Hari ini pengambilan nilai basket."

"Apa?!" Seketika bahu Alyn meluruh. Basket adalah salah satu olahraga yang tidak ia sukai. Oh, tidak. Sebenarnya ia tidak menyukai semua jenis olahraga. Makannya tak jarang ia mendapatkan nilai kurang dari KKM ketika harus melaksanakan praktik. Dan pada akhirnya Alyn harus mengerjakan tugas remedial. Baginya, itu jauh lebih baik daripada harus praktik yang membuat badan banyak mengeluarkan keringat, tentu saja menguarkan bau yang tidak sedap.

Alyn duduk-duduk malas bersama teman-temannya yang lain di tepi lapangan guna menunggu giliran untuk pengambilan nilai. Tentu saja ia tak berminat sedikitpun. Malah dengan senang hati ia akan menerima tugas remedial dari Pak Dhirga dengan tangan terbuka. Alyn sama sekali tak berniat untuk mendribble dan menshooting bola basket. Ia justru berharap tiba-tiba turun hujan sehingga tidak mengharuskan praktik olahraga dilanjutkan. Alyn sadar harapannya tidak mungkin terkabul. Bagaimana mungkin hujan turun disaat matahari bersinar dengan teriknya.

Alyn mengamati Selly -temannya yang bertubuh gempal- yang sedang mendribble bola. Selly berhenti di garis penalthy, lantas tak lama kemudian melempar si orange bundar ke dalam ring. Bola itu pun masuk dengan mulus. Semua orang yang menyaksikan bertepuk tangan kagum, membuat Selly tersenyum malu-malu lantas ikut bergabung ke tepi lapangan.

Marrying EnemyWhere stories live. Discover now