Menyebalkan memang, mendengar kata itu. Kata yang selalu aku benci
Berawal dari mengingat sekian juta detik lalu. Mengingat lisanmu yang enggan ku dengar, mengingat tingkahmu yang enggan ku lihat. Sebagai tanda awal aku mengenalmu
Pada malam itu
Aku datang bersama kawan seperguruanku. Kedalam pondokan baru yang sama sekali tak ku kenal. Ruang penuh mimpi dan derita dengan beribu ekspektasi dan asumsi. Kami datang hanya untuk mengejar prestasi atau presitse universitas yang masih mengabu. Dengan separuh kawanku yang hilang, aku harus memperkenalkan diri dan menyambut dunia baru yang berada di depanku. Ku lihat ruang audit dalam gelap bersimpuh kain gelap yang kukenakan. Lalu seorang memulai pembicaraan menghafal nama-nama yang sama sekali asing bagiku. Kecuali..
"Rifki"
Ya kawan satu elementariku yang nampaknya asing juga. Namun aku telah masuk kedalam kolam pondokan itu dan harus berbaur dengan nikmat.
Ketika mereka sadar ada anak baru yang tiba terlambat. Lantas aku pun harus memperkenalkan diri. Benci rasa ini mengingat momen itu yang terus terpaut dalam bening kepalaku.
"perkenalkan nama saya tesa mufliha, disamping saya kawan satu pondokan, leni nurfadillah" kemudian disusul dengan 8 teman ku yang tersisa pada malam itu untuk memperkenalkan diri
"kami dari tangerang semua"
Ya semua mata seolah tertuju padaku. Momen yang aku benci. Seolah aku selalu membenci untuk beradaptasi.
Aku enggan membahas chapter ini. Perlu kau tahu pada malam itu ada seorang lelaki menyebalkan yang memiliki mata indah menarik pandanganku. Dengan kaos kuning yang ia kenakan, Nampak menyebalkan karna ia berlagak so tenang padahal matanya tak henti bercahaya. Mengingat aku telah bosan terhadap manisnya asmara dengan lelaki baru karna aku telah terikat.
Garis pendek itu terhenti tepat mengarah pukul 11. Aku pergi menghindari kerumunan awan dibalik cahaya bulan menuju kamar tempatku beristirahat. Bukan awal yang buruk bagi seorang amatir untuk melakukan perbincangan itu. Bagiku, bercakap dengan orang yang tak ku kenal dekat sulit rasanya. Namun hingga penghujung tanggal kami menikmati waktu makan malam bersama di dalam ruang gelap nan sunyi. Hingga seorang mentor datang memperingati untuk lekas tidur karna esok akan terasa lelah.
End 12:00 April 25th 2016
Aku terhempas mengingatnya. Karna memang ia begitu menjatuhkanku dalam palung rindu tak berujung. Dengan mimpi sejuta keindahan yang ditawarkan karna rasa tertanggalkan.
Hari pertama yang melelahkan
Ya, terpaut rasa mimpi semangat ku kobarkan pada rabu ini untuk menjalani aktifitas dengan begitu nikmat. Momen pertama aku mengukir kisah di berantah terujung arah. Masih dengan kostum yang sama kami beranjak bangun memberontak kenyamanan dan kemalasan yang mengatung di pelipis mata.
Mentari yang terlah menombak, berduyun siswa pengejar mimpi dan cita menuju ruangannya. Bukan kebetulan Aku dan kawan seperguruanku satu ruangan. Atas klimaksnya yang aku inginkan. Kursi depan ku rebut dari kosongnya angin, sebagai tempat favoritku untuk belajar sambil bersantai. Mengadu bahu bersama dinding untuk merebut kemanjaan dari hembusan angin.
Benci memang, ingatan itu tak kunjung padam. Nama yang kian membekas dan mendalam tak terkendalikan jika terjerembab dalam lautan kenangan. Pahitnya, aku merasakan itu dalam kesendirian.
Luar biasa terik surya ini menghantam godaanku untuk lelah. Detak rehat tehenti. Kali ini aku tak keluar kelas untuk sarapan seperti yang lain. Aku sedikit berbincang dengan sosok kawan baru. Wanita dengan tinggi semapai dan ku pikir dia anak cerdas atau anggota paskibra. Perihal nama, Aku sulit mengingatnya.
Tak perlu lah ku gambarkan perbincangan macam apa yang terjadi. Hanya sekedar basa basi pendekatan kawan baru yang sulit kuingat.
Kemudian waktu belajar kembali berlanjut. Lelah terasa mengikat kata karna aku tak biasa belajar sefokus ini. Mata yang seolah harus terbelalak memperhatikan dan mendengarkan mentor yang berdongeng, menyebalkan. Kulakukan hanya untuk sebuah kursi impian yang begitu menggiurkan, dalam ruang terbatas di wilayah perguruan tinggi negri yang didambakan banyak insane.
Cerita membosankan berlanjut setelah letihnya terik menyengat otakku seperti lebah yang menciuitkan keberanianmu untuk memukul sarangnya. Pertengahan hari ini aku berniat untuk tidur sebagai balasan karna tak berkecukupan rehat pada malam harinya. Namun nyatanya itu sulit. Migrain yang tak kunjung reda seharian yang entah karna kurang tidur atau bosan focus mendengarkan cerita menyebalkan karna aku belum mampu merasakan suatu nikmat kursi yang nyata, sekedar impian kami satu pondokan pada masa itu.
Sebenarnya cerita itu tak membosankan, hanya ku pikir mengerikan mengingat akhir yang mengenaskan.
Ya rindu yang tertuai kembali, rasa yang enggan berlabuh kepulau lain dan terhengkang dengan kenyamanan ini hanya aku yang merasakan diantara kawan sekota asalku. Mereka tak merasakan nikmatnya suasana menyebalkan ini. Dan ingin lekas beranjak dari pulau bermata mimpi dibilik unggun dan ikatan
Senja mengabarkan datangnya gelap. Purnama yang kun anti menghias atap dengan manisnya.
Malam kedua
Aku tak mengingat banyak kejadiaan pada malam ini. Yang Nampak, siswa cerdas menjawab pertanyaan kedepan yang mengecilkan mentalku untuk maju. Dalam ruang panas kami berkumpul bertukar pikiran yang entah aku tak mengerti untuk apa aku mengingat hal ini. Namun pada hari ini dua dari kawanku pergi tak pamit. Karna alasan yang terdengar klise bagi para santri. Padahal adaptasi seperti ini telah mereka lewati pada decade yang berganti lalu.
hingga pada akhirnya kami sadar, sejauh apapun jalan yang kita pilih. Jangan tepikan rasa rindu ini. Tak apa jika terpaut benci.
� �F�U
masih berlanjut
YOU ARE READING
Benci Merindu
Short Storyjangan kau baca jika khawatir bosan dengar kata Rindu .. kata ini kuberi kepada mereka yang benci mengingat rindu untuk mimpi yang terhempas jauh dan kau tetap disitu atas kata cih yang menyebalkan juga senda gurau yang terasa fana karna sadar duni...
