Part 1

12.6K 249 4
                                        

(disebuah taman dekat rumah)

"mang baksonya satu" lalu prily duduk sambil mengelap keringat dilehernya. Prily menikmati hari pertamanya libur sekolah di akhir smester dengan joging dipagi hari. Tapi prily melihat bakso yang begitu memikat diujung jalan, betapa Prily menginginkannya. Prily terpaksa membuat lari paginya sia sia.

"woy" teriak bima sambil menepuk bahu Prily pelan. Mengagetkan Prily hingga Prily pun tersedak karenanya. "ehh maaf maaf, nih minum" bima menyerahkan air mineral kepada Prily. "joging gak ngajak ngajak! Terus enak enakan makan bakso lagi lo"

Bima itu tetangga Prily, mereka udah sahabatan dari kecil. Tapi mereka beda sekolah sejak lulus smp. Dia lebih memilih sekolah di SMU 2. Dimana semua orang menginginkan sekolah disana. Tapi jauh banget dari rumah Prily, jadi Prily lebih memilih sekolah yang lebih dekat dari rumah.

"Ya elah, sejak kapan lo suka joging?" jawab Prily sambil mendorong pipinya dengan satu jari telunjuk.

"bagi dong!" Bima menyeruput bakso ditangan Prily. Prily tidak kaget, karena ini bukan pertama kalinya dia merebut makanan ditangan Prily. Prily melihat jam dijam tangannya menunjukkan pukul 06:45 "tumben pagi gini lo udah bangun? Ngapain kesini?"

"Tiara minta anter kesekolahnya, katanya mau ada outbond gitu" Tiara itu adiknya Bima. Dia masuk ke sipala (siswa pecinta alam) disekolahnya. Sering melakukan kegiatan kegiatan yang harus bepergian kesuatu tempat diluar jam sekolah.

"wah rajin yah edek lo! Gak kayak lo!" ejek Prily sambil tertawa. "eh ehh yaaaah diabisin." Bima menghabiskan bakso milik Prily dengan secepat kilat seperti orang yang tidak makan selama satu minggu.

"udah elo diet aja, ngapain abis lari pagi makan bakso!" jawab Bima sambil mengunyah makanan dimulutnya. Prily hanya bisa memanyunkan bibirnya sambil menatap mangkuk bakso.

...

"mah! Prily berangkat dulu ya" Prily cium tangan ibunya.

"mau kemana kamu sayang?" tanya Dilara,ibunya, sambil mengusap rambut Prily.

"mau ke toko buku mah, baca baca buku! Dari pada tidur dirumah." kata Prily cengengesan.

"sama Bima?" tanya Dilara singkat.

"Iya yah dari pada sendiri!" jawab Prily sambil menepuk jidadnya.

"yaudah sana, hati hati ya"

Prily masuk kerumah Bima tanpa mengetuk pintu. Prily melihat Bi Na sedang membersihkan ruang tamu. "Bi Na, bimanya ada?" tanya Prily sambil membantu merapikan barang pajangan yang dilap Bi Na.

"Ada non, didapur lagi masak." Yaaaa si chef abal abal sedang memasak. Entah bereksperimen seperti apa, namun masakan Bima yang walaupun selalu aneh, dia tidak pernah gagal membuat orang yang mencicipi jatuh cinta dengan masakannya. Batin Prily.

"wah pas banget!" Prily langsung pergi kedapur.

Sreng.. Sreng..
Bunyi persatuan peralatan dapur itu membuat Prily semakin merasa lapar.

"Ehh ada nona Prilyna Tasya!!" kata Bima saat menyadari kedatangan Prily. "Sebenernya gue mau kerumah lo buat nganter nih makanan, sebagai pengganti bakso lo tadi pagi" Bima masih mengayunkan tangannya diatas penggorengan.

"Wahh serius!! Kalo gitu kebetulan banget dong." Mendengar perkataan Bima tadi, Prily langsung mengambil piring dan sendok.

"Lo doyan makan, tapi badan lo gak gede gede!!" Perkataan Bima menusuk perasaan Prily hingga jantung.

"Ah lo mah gitu!" Kata Prily memanyunkan bibirnya. "Tapi bener sih!" sambungnya sambil menyubit tangan Bima.

Bima menuangkan nasi goreng buatannya kepiring ditangan Prily. Prily langsung melahapnya. "Bim, wmeni we.." Prily kesusahan berbicara karena sambil mengunyah makanan.

"Makan dulu baru ngomong." Bima menyodorkan segelas es jeruk buatannya.

"temenin gue ke toko buku dong!" ucap Prily sekali lagi setelah menghirup es jeruk dihadapannya.

"oke, gue ganti baju sebentar. Lo makan aja ntar cuci piringnya ya!" katanya sambil tertawa.

...

Brukk..
Lelaki berpakaian rapi memakai jas dan dasi menabrak Prily secara tidak sadar. Prily dan lelaki itu sama sama sedang mengamati buku masing masing sambil berjalan. "maaf" kata Prily tanpa melihat wajahnya.

"Hey!" katanya memanggil Prily.

Lalu Prily menatap wajahnya. Sungguh tampan lelaki dihadapannya ini batin Prily. Lelaki itu terlihat seperti pengusaha muda.

"Maaf ya!" kata lelaki itu pada Prily.

"Eh lo dicari kemana mana juga!" Bima datang lalu langsung menarik tangan Prily. "Noh gue nemuin komik kesukaan lo"

...

"udah jam satu siang nih. Pulang yu!" kata Prily pada Bima yang masih membaca buku.

"oke!!" Bima langsung menutup buku yang dibacanya dan beranjak dari tempat duduknya. "Lo ada buku yang dibeli?"

"Gak bim."

Kami meninggalkan toko dan mampir ke toko bunga.

Ngapain bima ketoko bunga batin Prily.

Bima meminta Prily tetap menunggu dimobil. Bima bukan tipe orang yang romantis, dia tidak pernah terlihat berpacaran atau mendekati wanita. Tapi Prily memilih tidak memikirkannya.

Bima masuk ke dalam mobil lalu menyerahkan bunga yang dibelinya kepada Prily. "Nih buat lo!" katanya. Prily langsung bingung setengah mati. Berasa ini bukan Bima yang Prily kenal.

"Bim!!" Prily mendekat dan memperhatikan wajahnya sambil menempelkan telapak tangannya tepat di dahi Bima. "Lo gak kesurupankan?" Prily menepuk nepuk pipi Bima. "Lo sadar?"

Bima tidak memperhatikan ekspresi Prily sama sekali, dia hanya memperhatikan setir dan melajukan mobilnya kejalanan. "Gue suka sama lo,!" katanya.

Ini membuat Prily semakin merasa yakin Bima benar benar sedang kerasukan makhluk astral.

"Bim sadar bim." Prily menggoyang goyangkan tubuhnya.

Bima meminggirkan mobilnya ke tepi jalan, lalu menatap dalam mata Prily.

"Lo mau jadi pacar gue?" katanya singkat. Spontan ini membuat Prily menjadi merasa sangat aneh. "Gue serius!" sambungnya dengan nada sedikit lebih tinggi.

"Bim, gue harap lo gak bener bener serius." Prily menyandarkan tubuhnya sambil menatap jalan membuang wajahnya dari tatapan Bima.

Prily menyadari Bima masih memandangnya. "Gimana bisa lo mau ngerusak persahabatan ini?" tolak Prily.

.
.

Bintang Dilangit SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang