BEL istirahat berbunyi tepat saat Bu Andin, guru matematika paling killer di Cipta Jaya, keluar dari kelas X-2. Semua siswa di kelas itu menghela nafasnya lega karena pelajaran Bu Andin telah usai. Sebagian dari mereka langsung berhamburan keluar, sebagian memilih untuk tetap di kelas dan memakan bekal mereka masing-masing, termasuk Bintang.
"Bintang, ke kantin yuk?" ajak Lili seraya mengeluarkan dompetnya dari tas.
Bintang menggeleng. "Enggak, Li. Gue bawa bekal."
"Kayak Awan aja deh lo, bawa bekal segala. Udah gitu sebangku," Lili menggandeng teman sebangkunya, Ajeng. "Yaudah, deh. Gue ke kantin dulu ya. Yuk, Jeng."
"Gue duluan ya, Bin." ujar Ajeng. Selanjutnya ia dan Lili berjalan keluar kelas, meninggalkan Awan dan Bintang.
Walaupun ada beberapa siswa yang juga menetap di kelas, tapi tetap saja Bintang merasa kurang nyaman jika duduk dengan Awan tanpa kehadiran Lili.
Bintang melihat ke arah Awan sekilas. Cowok itu masih sibuk mencatat rumus yang ada di papan tulis. Gadis itu sampai heran mengapa cowok seperti Awan sangat rajin mencatat. Tidak sesuai dengan tingkahnya yang slengekan. Bahkan Bintang, yang notabennya adalah seorang gadis pintar, masih sering malas untuk sekedar mencatat beberapa rumus yang ada di papan tulis.
"Woh! Akhirnya selesai juga." Awan merapikan mejanya dan hendak mengeluarkan bekal makan siangnya dari tas.
Bintang mengalihkan pandangannya dari Awan dan tangannya juga mengeluarkan bekal makan siang seperti Awan.
"Lo bawa bekal juga?"
Bintang mengangguk, lalu membuka kotak makannya.
"Btw, gue gak liat lo pas MOS," Awan juga membuka kotak makan dengan tutupnya yang bergambar tokoh kartun kura-kura ninja. "Lo kenapa gak ikut MOS?"
"Males." ujar Bintang lalu menyuapkan sesendok nasi goreng buatan Mbok Ijah, asisten rumah tangga di rumahnya.
"Kok bisa?" alis matanya mengkerut.
"Ya bisa, lah. Lah ini gue bisa."
"Wah curang lo," Awan akhirnya memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Ngerti gitu gue juga gak bakalan ikut MOS."
Bintang tidak memberikan tanggapan apa-apa pada Awan. Ia sibuk memakan bekalnya karena dari tadi ia memang sudah kelaparan. Sarapan roti saja belum cukup bagi seorang Bintang. Ia butuh minimal empat piring nasi untuk mengisi tenaganya. Tapi anehnya, berat badan seorang Bintang tidak akan pernah naik lebih dari dua kilogram. Tubuhnya tetap kurus walau makannya sebakul. Bagi wanita di seluruh penjuru dunia, itu adalah anugerah yang sangat indah dari Tuhan. Dan berbahagialah Si Bintang, tidak perlu cemas badan gendut. Karena dia tidak akan pernah gendut.
Tidak ada percakapan lagi antara Bintang dan Awan hingga Lili dan Ajeng kembali ke kelas. Selesai makan, Bintang memainkan telepon genggamnya, membaca notification yang ada. Sedangkan Awan, setelah makan, ia lebih tertarik ikut berkumpul di meja guru bersama teman-temannya. Meninggalkan Bintang sendiri di meja belakang sudut kanan kelas itu.
"Woy Bintang kejora!"
Suara Lili hampir saja membuatnya lombat dari kursi. "Lili! Lo ngagetin gue!"
"Abisnya lo main hp terus. Lo nonton yang aneh-aneh ya?" tuduh Lili tanpa dosa.
Bintang memutar bola matanya malas. Tidak habis pikir dengan pertanyaan yang dilontarkan Lili untuknya. Mereka baru saja kenal dalam hitungan jam, tetapi Lili telah menuduhnya melihat hal yang 'aneh-aneh'.
"Aneh-aneh apaan coba? Gue cuma balesin chat dari temen-temen gue."
Lili mengangguk paham setelah mendengar penjelasan dari Bintang.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Awan & Bintang [Segera Terbit]
Ficção Adolescente[completed] Just keep holding her hand. Because she was so scared finding a happiness.|Hak Cipta Terlindungi © 2016|
![Awan & Bintang [Segera Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/78931229-64-k232811.jpg)