Midtown Manhattan, New York City.
December, 2020.
Aku duduk termangu di depan meja rias, memandangi selembar foto dan sepucuk surat yang hampir kusam. Kedua benda itu ku temukan di dalam box milikku yang ku taruh diatas lemari saat aku ingin mengemas barang-barang ku untuk dibawa pindah ke apartemen baru ku.
Di sana terlihat jelas sosok ku yang tersenyum lebar didalam rengkuhan seorang anak laki-laki yang sepantaran dengan ku masih mengenakan seragam sekolah dengan latar danau yang dihiasi bunga-bunga flamboyan yang sangat memukau.
Kenangan masa lalu kembali menyeruak masuk ke dalam ingatan ku. Bagaimana awal kami bertemu, bagaimana awal kami berkenalan, dan bagaimana awal kami tak menghubungi satu sama lainnya lagi.
Aku mengigit bibir bawah ku, sebisa mungkin menahan air mata agar tidak jatuh dan merusak riasan di wajah ku. Tapi semua seakan percuma, butiran-butiran kristal bening secara perlahan bergulir dari mata menuju pipi dan jatuh melalui dagu.
"Nad? Are you okay?" Tanya seseorang.
"Eh?" Aku yang menyadari kehadiran nya tanpa pikir panjang segera mengusap pipi ku yang mulai basah. "Yeah, i'm okay." Aku memalingkan wajah kearah nya dan memberika senyum terbaikku.
"Lo gapinter bohong, Nad. Jelas-jelas make up lo hampir luntur dan mata lo sembab. Masih mau bilang kalo lo gapapa?" Ah, Winda. Terlalu dekat dengan ku sehingga aku tak bisa membohongi nya.
"Ini bukan gara-gara cowok itu kan?" Tanya Eno yang sekarang ada di samping ku.
"Yaampun Nadya, mau sampe kapan lo kayak gini? Hari ini hari terpenting lo. Lo gabisa kayak gini terus." Kali ini suara Viola yang memenuhi ruangan.
"Gue... Gue beneran gapapa kok. Serius. Tadi gue ga sengaja keinget nyokap dan gue kangen dia. Jadi gue nangis." Bohong.
"Please, Nad."
"Gue serius, No." Ucapku sambil menatap dalam ke mata mereka satu persatu untuk meyakinkannya.
"Um,okay. Ten minutes again, kay?" Ucap Winda final.
"Okay." Setelah mereka pergi aku kembali berpaling menghadap kaca, menyimpan foto yg sejak tadi berada dalam genggamanku dan mulai merapikan riasan wajah ku yang hampir luntur karena kejadian tadi.
Waktu yang tersisa hanya tinggal enam menit. Enam menit lagi dan dengan biadabnya pikiran ku memainkan kembali kilasan-kilasan memori di masa lalu.
Oh, sial.
◆◆◆
July 24th, 2k16.
Cerita pertama, yg sebenernya udah lama ke save di netbook, tapi baru berani dipublish sekarang setelah banyak perubahan, ku harap kalian suka! Enjoy!💕
YOU ARE READING
The Story Of Us
Teen FictionAku terjebak di masa lalu dan masa kini. Kembali ditinggalkan oleh orang-orang yang ku sayang dan ku percaya. Bagaimana rasanya? Bagaimana menurut mu? Klise? Memang. Tapi mengapa tak kau coba untuk melihat kisah ku dahulu? Cover by: @DiArlos
