Prolog

14 0 0
                                        

Matanya berwarna hitam pekat. Saat mata kami bersinggungan, aku bersumpah dapat melihat kegelapan dari matanya. Namun, bibirnya membentuk senyuman tulus meski hanya membentuk garis tipis.

"Gapapa kan?" Dia bertanya dengan suara berat yang indah.

Aku tak mampu menjawab, jadi aku hanya menganggukan kepala dengan takjub.

Dia menepuk kepalaku dengan lembut dan bangkit sembari tersenyum.

Setelahnya, ia langsung berlalu begitu saja. Tangannya ia masukkan kedalam saku celananya. Dari posisi dudukku aku bersumpah melihat luka melintang yang mengeluarkan darah. Panjang sekali.

Aku beranikan diriku untuk memanggilnya. "Eh bentar! Tangan kamu itu berdarah! Hey!"

Sia-sia saja, ia sudah jauh dan tidak mendengarku.

Malaikat maut.

Atau kah iblis yang rupawan?

Siapapun ia, aku berhutang nyawa padanya.

Dan ia, berhutang hatiku karena dalam sekejap, hatiku diambil olehnya.

Double GameWhere stories live. Discover now