Cuaca begitu cerah, mentari bersinar dengan senang hati, awan beriringan berbondong-bondong mengejar dedaunan yang turut berlari bersama angin. Sungguh, hari ini adalah hari yang indah.
Merah padam. Setidaknya itulah kesan pertama yang akan kau temui saat menatap ekspresi sosok mungil yang tengah menggerutu dalam perjalannya.
Ia begitu kesal hari ini, kesialan entah bagaimana seolah menghampiri dirinya dalam sekali rengkuh.
Ia menendang sebuah batu kerikil yang tergeletak lepas dan mengerang kesal saat-
"Hey!"
-batu itu mengenai seseorang.
Sial yang kesekian kalinya. Rasanya ia ingin menggigiti trotoar yang terpampang saat ini.
"Hey kau!" Oh shit. Pura-puralah kau tak mendengarnya, Min Yoongi. Beraktinglah seolah itu bukanlah dirinya.
Berpura gila, tertawalah terbahak-bahak. Berpura-pura pingsan! Dan bayangan-bayangan ia melakukan hal itu membuatnya bergidik ngeri.
Dan selagi ia membayangkan hal itu, tanpa ia sadari seorang pemuda tinggi yang nampaknya lebih muda darinya menatap sosok Yoongi dengan bingung.
"Kau baik-baik saja?" Suaranya yang terkesan polos membuat kesan mudanya makin nampak.
Yoongi mengerjap beberapa kali dan mengangguk cepat. "A-aku- baik.."
"Kau kelihatan pucat, mau kutraktir minuman?" Sebuah senyum kelinci tergambar di wajah tampan pemuda itu.
ㅡ
Bertemu dengan sosok Jungkook mungkin termasuk sebuah keberuntungan tersendiri bagi Yoongi.
Sosok ramah nan ceria yang dengan cepat bisa meluluhkan hati Yoongi yang sedikit sulit bersosialisasi.
Namun dengan cepat pikirannya beralih pada kejadian sebelumnya. Saat seorang gadis yang tak ia kenal tiba-tiba menariknya menuju ke depan kerumunan dan mengungkapkan rencana pembunuhan.
Gila! Sungguh ini terlampau gila bagi Yoongi yang lebih menyukai kehidupan biasa-biasa saja yang telah ia jalani seumur hidup.
Bahkan ia tak pernah berpikiran akan terjadi hal seperti ini dalam cerita novelnya. Sayangnya, ini bukan cerita novel yang bisa ia karang sesuka hati. Ia benar-benar terlibat masalah besar.
Yoongi mengerang setelah mengacak rambutnya sendiri, menjatuhkan tubuhnya dengan pasrah ke atas pelukan sang kasur tercinta.
Beberapa menit ia menatap langit-langit kamarnya sendiri dalam posisi seperti itu hingga dering ponselnya sendiri menginterupsi kenyamanannya.
"Siapa.." ia menggumam sejenak saat melihat nomor tak dikenal muncul pada layar ponsel dalam genggamnya.
"Halo?" Mungkinkah ini Jungkook?
"Halo" suara wanita. Tepatnya, suara sang antifans bernama Yoo Yeonjoo, gadis yang menariknya siang tadi tanpa alasan.
Yoongi mengerang, tak perduli jika lawan bicaranya mendengar.
"Uhm- maaf, Yoongi-ssi. Kau pasti sangat marah padaku. Aku minta maaf, aku butuh bantuan dan-"
"Nona, kau baru saja memasukkan diriku pada sebuah masalah besar, apa kau tahu hal itu?" Tegas Yoongi dingin.
"Ugh- a-aku tahu- tapi-"
"Kita bahkan TAK SALING MENGENAL." potong Yoongi dengan penekanan pada tiga kalimat terakhir.
"Baiklah baiklah! Tolong jangan memotong ucapanku sebelum aku selesai, oke?"
Yoongi mengangguk, yang tentunya tak dapat terlihat. Namun gadis itu melanjutkan kalimatnya.
"Aku hanya harus menjalankan rencanaku, membunuh orang itu, dan tada~ aku akan mengatakan pada polisi bahwa kau tak bersalah, bagaimana?"
"Kau tahu, kata membunuh terdengar mengerikan." Lawan bicara Yoongi tertawa, tawa lepas yang akan keluar saat kau melemparkan sebuah candaan lama.
"Kenapa kau tertawa?"
"Oh Yoongi-ssi, membunuh adalah hobiku."
Kini Yoongi benar-benar merinding. Ia mematikan sambungan secara sepihak.
Beberapa menit kemudian, ponsel itu berdering kembali. Ia mengangkatnya dengan terburu-buru.
"Dengar, aku tak perduli pada apapun yang akan kau perbuat, tapi tolong jangan libatkan aku dalam masalah, oke?" Yoongi bicara dengan cepat.
"Huh? Kau ini bicara apa, Hyung?"
Oh- ini bukan Nona Yoo itu lagi.
"J-Jungkook! Ah- maaf tadi aku kira kau salah seorang-"
Terdengar suara kekehan disana. "Tak apa, meskipun aku sedikit kaget, sih. Nah, aku sudah menapati janjiku, benar?" Jungkook tertawa.
Yoongi tersenyum dan mengangguk. "Yup, tapi sayangnya aku sedang sangat lelah sekarang."
"Baiklah, aku akan meneleponmu lagi besok, selamat tidur, Yoongi Hyung!"
"Selamat tidur, Jung Bunny!"
ㅡ
Suara nyaring alarm ponsel yang memperdengarkan 'fur elise' sebagai ringtone dengan paksa membuat sosok pemuda berkulit pucat yang masih terlelap dalam tidurnya itu menggeliat terbangun.
Diraihnya ponsel pengganggu itu, hampir melemparnya jika saja notifikasi itu tak muncul di layar.
'[Sch] Park Jimin fan meet, Ilsan, jam 11'
Dengan seketika pemuda itu bangkit dan berlari menuju kamar mandinya, bersiap untuk melakukan jadwal rutinnya : memotret sosok sempurna seorang Park Jimin.
.
"Jam berapa sekarang?"
"8.37 pagi."
Yoongi mengangguk, memalingkan wajahnya keluar jendela, menampilkan pemandangan yang kabur dengan cepat seiring dengan lajunya bus yang kian cepat.
"Kenapa kita harus menonton orang ini?" Jungkook bertanya, menatapi foto Jimin miliknya yang telah ia cetak diatas kertas.
"Karena ini pekerjaanku."
"Apa kau dibayar untuk ini?"
'Sejujurnya sih, tidak.' Yoongi terdiam sejenak. "T-tentu saja!"
Jungkook mengangguk. Menatapi Yoongi yang nampak begitu cemas seakan ia tak akan pernah lagi bertemu dengan si Jimin itu.
"Tenangkan dirimu, kita akan sampai jam sepuluh." Ia menarik tangan Yoongi dan meremasnya pelan.
Yoongi hanya tersenyum tipis sebagai balasan. "Baguslah, aku masih punya satu jam tersisa nantinya."
.
TBC or FIN ||
Ayo!!!
Lumayan dapet ide dari mimpi wkwk kadang mimpi saya yg aneh itu berguna :")))
Btw, sebenernya masih kurang puas sama judulnya. Kira-kira bagusnya apa? Saran juseyo :" Lelah nih mikirin judul!!?!!!1!!!
Muehehe yaudah itu aja
Salam!
ㅡ렌
YOU ARE READING
Chaotic
Random"Aku antifansnya!" . "Faktanya, aku tak mengenal gadis itu." . "Aku bisa menuntutmu, kau tahu?" - Kehidupan seorang selebriti memang tak bisa lepas dari pro dan kontra, Kim Taehyung, salah seorang aktor terkenal yang diancam secara terang-terangan b...
