Hari ini hujan kembali turun.
Masih sama seperti hari sebelumnya. Nadila menahan nafas, saat dirasakan dingin mulai memeluk setiap jengkal tubuhnya. Yang terjadi selanjutnya, ia memejamkan mata dengan nafas menderu. Membuat beberapa murid lain, mengamati saat melewatinya.
"Di, mau bareng gak?"
Nadila langsung menggeleng saat mendengar tawaran itu. Tawaran dari seseorang yang sudah sangat amat terbiasa di tolak oleh si gadis gelap.
Si gadis gelap. Hiyap, nama panggilan itu kerap di dengungkan oleh si wakil ketua tim basket sekolah. Indra tersenyum maklum, kemudian menepuk pelan puncak kepala Nadila. Sedangkan sang empunya masih sibuk menikmati hujan.
"Kalau berubah pikiran, gue masih ada di ruang sekretariat Di. Kalau sampe sore hujannya belum reda, elo gue anter sampe rumah. Gue gak nerima penolakan." Nadila masih bungkam, ia sudah terbiasa mendengar ucapan memaksa Indra.
Menganggap Indra sudah pergi, Nadila mengerjap. Kepalanya mendongak menatap rintik hujan yang masih betah menari-nari di saksikan alam semesta yang luas ini. Lantai basah yang ia pijak menjadi bukti, bahwa Nadila menangis saat kepalanya tertunduk.
"Mau gue anter balik, Di?"
Nadila menggeleng cepat--sedikit terlalu cepat sehingga senyuman Indra memudar. Merasa urusannya sudah selesai, Nadila berbalik meninggalkan Indra yang masih mencoba menerima sekali lagi.
Seolah di tolak Nadila sudah biasa ia alami, wajah Indra kembali cerah seperti pelangi. Di detik selanjutnya, cowo jangkung itu sudah berlari menyusul Nadila yang berjalan dengan lambat akibat bawaannya yang terlalu berat untuk ukuran tubuh mungilnya.
"Gue anter balik." ketika Nadila hendak protes, mata elang Indra sudah menatapnya tajam. Siap menghujam Nadila, tidak mau sampai menjadi korban kekejaman cowok jangkun ini Nadila segera memberikan bawaannya kepada Indra. Sementara Indra menerima dengan senyuman lebarnya.
"Nah gini kek daritadi. Kok tumben elu balik sendiri, si Ilham kemana?"
"Ada futsal angkatan."
"Trus, elo gak nonton dia main?" Nadila menggeleng.
"Gak di bolehin."
Indra mengangguk-anggukan kepalanya, entah mengerti atau tidak Nadila tidak peduli.
°°°
Dengan sedikit enggan, Nadila turun dari motor. Lampu teras rumahnya sudah dinyalakan, tanda salah satu orang tuanya sudah ada di rumah.
Nadila menyungingkan senyumnya, membuat sepasang lesung pipinya terlihat.
"Makasih ya udah nganter sampai rumah."
"Sama-sama, lain kali kalau gak ada yang jemput atau nganter elo. Suruh gue aja, gue siap sedia buat lo kok." Indra tersenyum manis, menampilkan deretan giginya yang rapih dan putih.
Hanya dari situ, semuanya berawal. Sebuah kesempatan tentu saja bagi Indra, menjadi bencana untuk Nadila dan Ilham? Mereka semua tidak tahu. Tapi takdir dan waktu sudah mulai mempermainkan perasaan mereka.
Hai hai haii daku hadir, semoga suka yaa sama cerita Nadila-Indra-Ilham yang baruu.
YOU ARE READING
Berteman dengan Luka
Teen FictionSejak kanak-kanak aku seolah sudah berjodoh dengan luka. Sudah terbiasa dengan tangis, sudah lekat dengan kecewa. Lucunya lukaku tidak hanya sampai di situ ternyata, aku kembali terluka di setiap pertambahan umurku. Dikecewakan, dikhianati, dibohon...
