Mood Booster

60 4 2
                                        

"Lou, aku ada kelas drama. Kamu tunggu sebentar ya! Just a few minutes." pinta Vanka memohon kepadaku.

"Oh iya, tidak masalah. Tetapi jangan terlalu lama. Kita nanti ada jadwal les musik." Aku menjawab dengan berat.

~

Vanka melangkah pergi ke ruang drama yang terletak di timur aula atas. Kini tinggal aku dan beberapa murid ekskul ballet yang tengah berlatih di depan kelas mereka.

Aku meneruskan langkahku melewati koridor. Suara derap kaki terdengar jelas dari sepasang sepatu boots milikku. Di ujung koridor, duduk seorang lelaki yang sedikit asing bagiku.

Hanya berjarak 10 meter, aku mulai mengenali wajah si lelaki.

"Hhh.. Karell. Dia belum berangkat? Santai sekali." tanyaku dalam hati.

Karell yang menyadari keberadaanku segera berpaling menatap notebook orange berukuran sedang. Aku berjalan pelan melewati Karell dengan memandang halaman sekolah dan berpura-pura tidak mengenalinya.

Mengapa terasa aneh? Di lain tempat kami bisa akrab, namun baru saja, entah mengapa sepatah kata pun tak terucap dari mulut kami. Aku dan Karell terasa canggung dan saling bungkam. Bahkan sekedar untuk menyapa satu sama lain.

~

Selang beberapa waktu, aku pun sampai di pintu gerbang dan memutuskan untuk duduk sembari menunggu Vanka menyelesaikan kelas dramanya. 30 menit berlalu sudah. Akhirnya Vanka muncul dengan teman sesama ekskul cheerleadernya-Dianne.

"Loura, I'm truly sorry. Kamu pasti sudah lama menunggu. Tapi, aku harus pulang lebih awal. I think I can't go with you right now. I'm apologize, Dear." Vanka memohon dengan mimik wajah gelisah andalannya. Ia memutuskan untuk pulang bersama Dianne.

"Kita duluan ya, Ra!" senyum sinis Dianne merekah di antara pipi Bakpaonya. Aku dapat mencium bau kelicikan.

"Oh iya, Van. Tidak apa-apa. I can go by myself. Kamu pulang saja, kasihan Dianne menunggu." jawabku meyakinkan Vanka agar diriku tetap terlihat tenang.

Perlahan, bayangan keduanya menghilang di tikungan, sekitar 15 m dari tempatku berpijak. Kini, hanya tersisa diriku yang tengah duduk seorang diri. Sekelebat ingatan akan rutinitas selanjutnya, mengalihkan perhatianku sejenak. Mengingat aku yang masih diharuskan mendatangi suatu tempat.

~

Menghabiskan setengah hari di luar rumah sangatlah melelahkan. Mulai dari sekolah, mengikuti les bahasa inggris, les biola, dan beberapa les private lainnya.

"Tuut.. tuutt.." bunyi klakson mobil yang sangat kukenal terdengar spontan di telinga.

"Ah, Pak Salim akhirnya tiba." ujarku dalam hati. Kujinjing sekotak biola di sebelahku dan berjalan menuju mobil.

"Ughh.. aku capek banget. Tuhaan, kuatkanlah aku." desahku pelan sembari memejamkan sepasang kelopak mataku.

Kupalingkan wajahku ke luar jendela dan menatap jauh dengan pandangan kosong. Tanpa sadar, seketika itu pula aku terfokuskan pada seorang lelaki yang tengah menduduki scooter klasik merah-hitam di samping gerbang sebelah barat.

"Jeremy..?" aku tak mampu menahan bahagia yang bergejolak di hati. Ingin rasanya melompat keluar dan menghampirinya.

Dalam balutan seragam klub basket SMA Maria Nusantara, ia terlihat sangat keren dan menggemaskan dibanding anggota lainnya. Jeremy tengah asyik mengobrol dengan kawannya, sesekali ia kedapatan tertawa kecil. Segurat senyum manis tampak menawan diantara kedua lesung pipitnya. Sekejap saja, moodku yang tadinya down langsung membaik. Meski hanya dapat memandangnya dari kejauhan, itu sudah cukup bagiku.

Oh, Tuhan. Aku tidak meminta lebih. Hentikan waktu meski hanya satu detik, agar aku bisa lebih lama melihatnya tersenyum.

Bayangan Jeremy menemaniku dalam perjalanan menuju tujuan selanjutnya.

[]






Hi, thanks udah nyempetin buat baca cerita pertamaku. Jangan lupa kasih vomment juga, ya. Maaf kalau ceritanya kurang memuaskan. Maklum masih kurang pengalaman. Wkwk.. :D

Salam hangat,
-penulis-

NEARESTStories to obsess over. Discover now