Clarita POV
Aku melihat jam yang melilit di pergelangan tangan kananku. Sudah hampir dua setengah jam aku berkeliling di toko buku ini, tapi belum ada satupun yang kupilih--ralat, sangking banyaknya buku yang menarik disini aku jadi bingung harus memilih yang mana--entah sudah berapa buku yang kuambil lalu kuletakkan kembali. Bukan karena bukunya tidak bagus, tapi aku terlalu shok melihat harga yang tertera dibalik buku-buku itu.
Hari ini adalah akhir pekan. Seharusnya aku menghabiskan akhir pekanku bersama keluargaku, atau pergi berkencan dengan pacarku. Tapi hidupku tidak selalu seindah itu.
Rumahku selalu sepi. Papa sibuk dengan pekerjaannya, mama sibuk dengan butiknya, dan kak Ryrin cuma punya waktu untuk bersenang-senang dengan pacarnya. Sementara pacarku? Ia lebih memilih bermain game daripada berkencan denganku.
Tidak ada yang spesial dalam hidupku. Bangun pagi-pagi, lalu berangkat ke sekolah, setelah itu pulang untuk makan, tidur dan belajar. Begitu seterusnya.
Akhirnya setelah berkeliling ria, aku mengambil sebuah novel tebal. Sampulnya berwarna biru, dengan gambar sebuah gitar kayu yang menurutku sangat bagus--aku tidak mengerti apa-apa soal gitar, tapi gitar itu memang benar-benar bagus--judulnya tertulis dengan tinta berwarna emas. Ditambah lagi, sinopsisnya berhasil membuatku penasaran dengan ceritanya.
Sebenarnya, hari ini aku berniat membeli 2 novel, tapi uangku tidak cukup karena harga buku yang mau kubeli hampir dua kali lipat dari novel teenlit yang biasa kubeli. Aku harus menabung berhari-hari supaya bisa membeli sebuah novel teenlit.
Setelah aku memantapkan diri, aku berjalan ke kasir dan membayar novelku. Aku sudah tidak sabar mau membacanya. Setelah transaksi jual beli selesai aku beranjak pergi.
Baru saja aku berbalik seseorang menabrakku--atau lebih tepatnya aku yang menabraknya--eh, ngak deng, dia yang salah, suruh siapa dia menghalangi jalanku dan lihat dia terjatuh.
'Dasar lemah' umpatku dalam hati. Eh, kalau dipikir-pikir aku yang seharusnya jatuh, karena tadi aku nggak benar-benar fokus dengan jalanku, aku masih sibuk menghayal. Hampir setiap pekerjaan apapun aku lakulakukan dengan berhayal dan berkutat dengan pikiranku sendiri. tuh kan, lagi-lagi aku berperang dengan otakku sendiri. Huft, sudah lupakan! Back to the real!
"Kenapa cuma lihat-lihat? Bantuin kek, apa kek. Situ yang nabrak, Situ yang bengong" Katanya dengan raut wajah kesal dan nggak berniat bangkit. Apa-apaan dia? Dia mau aku bantuin dia bangun? Cih, dia kan bisa bangun sendiri, sok lemah, atau dia mau buat aku merasa bersalah, oke aku ikutin permainannya.
Aku menarik tangannya yang dari tadi sudah terjulur, terus kulepaskan lagi pegangan tangannya.
"Ups, sorry gue nggak sengaja,"
Sumpah aku nggak sengaja, tangannya basah seperti berkeringat, aku geli jadi kulepas saja pegangan tangannya. Dan, alhasil dia terjatuh dengan bunyi gedebuk yang cukup keras. aku terkikik dalam hati. Yah, meskipun aku ngak sengaja, tetap aja itu hal yang lucu.
"Alah, muna! Kalau lo nggak mau bantuin bilang aja, lo kira pantat gue nggak sakit, huh?!" katanya dengan nada tinggi. Ya ampun, aku kan udah minta maaf, nih orang kok nyolot banget sih? Ya sudah aku tinggalin aja, sebodo amat.
Baru selangkah aku jalan, tanganku seperti ada yang menarik. Sudah pasti yang menarik tanganku, si cowok lemah tadi. tapi kayaknya dia nggak benaran lemah. Pegangannya aja kuat banget.
"Mau kemana lo hah? Mau lari? Ga bisa! Lo harus tanggung jawab!"
"Enak aja, tanggung jawab. Emangnya gue udah hamilin elo, huh?!"
Ups, aku ngomongnya terlalu keras. Aku merasa orang-orang mulai memperhatikan kami. Aku memberanikan diri melihat sekelilingku. Benar saja, semua orang disekitar kami memandangi kami dengan pandangan yang sulit kuartikan, tapi yang jelas aku sudah dipermalukan. Semua orang mulai berbisik-bisik. Entah apa yang mereka omongkan, sebodo amat! Aku sudah terlanjur malu.
Pandanganku kembali pada si cowok lemah. Si cowok lemah ini menarikku ke kasir.
"Lo bayar majalah yang mau gue beli, sekarang!" katanya sambil memindahkan tiga majalah dari tangannya ke tanganku.
Kuperhatikan majalah ini dengan teliti. Ketiga majalah ini tebalnya masing-masing sekitar 2cm, tapi bisa kurasakan kalau setiap lembarnya seperti dilapisi plastik dan kertasnya cukup tebal. Tunggu! Ini majalah dewasa. Akhh!!! Aku berbalik, tapi si cowok lemah itu sudah berdiri jauh di belakangku sambil mengacungkan novel yang ku beli tadi. Kok bisa sih novelku ada sama dia? Sial! Rutukku dalam hati.
Aku memberikan tiga majalah itu kekasir. Kulihat mbak kasir itu memandangiku lekat-lekat. Kupandangi wajahnya lebih lekat. Anggap saja kami sedang adu melotot. Sebodo amat! Aku sudah terlanjur malu.
"Semuanya 83 ribu mbak."
Kata si mbak kasir menyadarkanku. Apa? 83 ribu? Uangku mana cukup. Aduh, gimana nih. Aku membuka dompetku. Dan tanpa perlu dihitung pun uangku sudah pasti nggak cukup. Cuma ada tiga lembar uang 5 ribuan dan dua lembar uang 2 ribuan.
Aku memangkat wajahku menatap mbak kasir dengan muka memelas.
"DASAR NGGAK TAHU MALU, SUDAH TAHU NGGAK PUNYA UANG, MASIH SAJA MAKSAIN BELI MAJALAH. UDAH GITU MAJALAHNYA MAJALAH DEWASA LAGI. MEMANGNYA KAMU SUDAH CUKUP UMUR?!"
Astaga, aku dibentak! dan apa?! dia menganggap aku masih anak-anak? Oke. Tubuhku memang nggak terlalu tinggi, tapi nggak segitunya juga kali. Aku sudah 17 tahun tau! Biar gimanapun umur segitu sudah dianggap dewasa di Indonesia. Aku juga sudah punya ktp. Huft! Sebel.
Seseorang berdiri di sampingku dan memberi kartu kreditnya.
"Nih mbak, pake kartu kredit saya ajah"
Ugh.. dia lagi dia lagi. Dia ngak tau apa, dia sudah mempermalukanku sampai semalu-malunya. Atau dia sengaja? Biar dikira pahlawan? Huh, ya sudahlah! Toh, kalau dia ngak datang aku nggak tau mau gimana.
"nih, mas. Terima kasih. Silahkan datang kembali," kata mbak kasir tadi. Ihh, gayanya sok manis banget di depan nih cowok. Najis. Dan sekarang si cowok lemah itu memandangku sekilas. Pandangannya turun ke bibirku, lalu ke leherku, trus kebawah perutku, turun lagi sampai ke kaki. jantungku tiba-tiba berdetak gak karuan. Pandangan si cowok lemah ini kembali ke mataku. Tubuhku seketika lemas dibuatnya. Lama kami saling tatap, tiba-tiba si cowok lemah ini berbalik dan meninggalkanku.
"Huh! Dasar payah, dasar lemah!" gumamku pelan.
Sepertinya dia mendengar ucapanku, karena ia menghentikan langkahnya sebentar. Ia sama sekali tidak menoleh padaku. Bahkan sekarang dia kembali melangkah menjauhiku. Aku terus memandangi punggungnya yang bergerak menjauh sampai hilang dibalik kerumunan orang-orang yang berlalu lalang.
Aku berbalik hendak berjalan pulang sebelum aku menyadari sesuatu. Novelku.
"AAAAH!! SIAAAL!!" Tanpa sadar aku berteriak.
Aku kembali menjadi tontonan orang-orang. Dengan malu aku berlari keluar toko buku, mencoba mengejar cowok tadi. Sial. Dia sudah menghilang tak tahu pergi kemana. Ah, rasanya aku ingin menangis dan teriak-teriak, tapi aku masih sadar tempat. Aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri lagi. Sekarang apa? Bagaimana nasib novelku? Bagaimana nasibku? Oh tidak, uangku terbuang sia-sia.
-bersambung-
Fiuh... akhirnya selesai juga part ini. Ini cerita pertamaku. Maaf ya kalau masih ada typo. Maaf juga kalo ceritanya kurang menarik. Maklum masih amatiran. Masih baru menetas. Masih butuh kritik dan saran yang membangun. Hehe :)
Jangan lupa vomment yah, biar tambah semangat nulisnya :D
Terimakasih atas apresiasi pembaca,
With Love 💛
Anarika 12-05-16
KAMU SEDANG MEMBACA
Read
Teen FictionRemy itu seperti sebuah buku misteri. Aku tak bisa tahu apa isinya hanya dengan melihat sampulnya. Aku ingin tahu isinya, tapi aku tak bisa mengerti bahasanya. Aku tak mengerti Remy. Lalu setelah Remy, muncul lagi seorang yang tidak pernah bisa diba...
