Abi

76 9 0
                                        

Jalanan nampak begitu ramai, macet dimana-mana. Suara klakson terdengar memekakkan telinga. Di sebuah cafe ditengah kota yang terkenal dengan kemacetannya, nampak segerombolan murid cowok dengan pakaian SMA terfavorit di kota tersebut.

"Psssttt pssssttt, hai cantik" suara itu berasal dari cowok yang memiliki lesung pipit diwajahnya, kulitnya putih dan terlihat sangat manis, Vano.

Vano memang terkenal senang menggoda cewek-cewek yang menurutnya sexy dan menarik, contoh saja saat ini, baru saja ia menggoda salah satu pengunjung cafe yang memakai celana jeans pendek satu jengkal diatas paha, dan hanya mengenakan tanktop hitam dibalut kemeja kotak-kotak berwarna merah hitam.

"Sialan lo, masih aja ngegodain cewek, inget Hana" cowok disebelah Vano menoyor kepala Vano, Bian. Cowok terganteng setelah Vano.

Vano mendengus lalu mengusap kepalanya yang terkena toyoran dari Bian.

"Ya ya gue inget" sahut Vano dengan keki.

Disebelah Vano, cowok yang sedang memainkan handphonenya itu bernama Sanny, nama yang mirip dengan lagu BCL. Sayangnya dari mereka semua tidak ada yang tahu tentang itu.

"Sial" Sanny mengumpat dengan tatapannya yang masih terfokus pada Handphonenya.

Vano dan Bian tahu pasti apa yang sedang Sanny lakukan.

Bermain game

"Woi baca buku mulu lo, gak bosen apa?" Bian menyenggol lengan cowok disebelahnya yang sedari tadi hanya sibuk dengan bukunya. Entah sudah berapa halaman yang ia baca. Kacamata bertengger manis di hidungnya, namun bukannya terlihat cupu, cowok itu bahkan terlihat makin tampan dan tentu saja semakin manis.

Abi, nama cowok itu, si cowok pintar disekolahnya yang selalu mendapat pujian dari guru-guru dan teman-teman sekolahnya.

Selain pintar ia juga tampan, menjadikannya cowok most wanted disekolahnya, sayang sifatnya dingin dan wajahnya selalu datar. Hanya satu orang yang bisa membuatnya tersenyum selain teman-temannya, dia adalah..

"Anjriiitt" pekikan Sanny membuat Abi, Vano maupun Bian terlonjak kaget.

"Gue kalah bro" kesal Sanny seraya melempar handphonenya begitu saja ke lantai hingga layarnya retak, orang kaya.

Vano dan Bian berdecak dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sanny, sedangkan Abi kembali membaca bukunya.

Mengganggu saja,

"Orang kaya mah bebas" Bian bersuara membuat Sanny mendengus lalu ia bangkit dari kursinya setelah menyeruput cappucino miliknya.

"Mau kemana lo?" Abi bertanya tanpa mau mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya sejak tadi.

Vano dan Bian menunggu jawaban.

"Pulanglah kemana lagi?" Sanny mengendikkan bahunya lalu kembali melangkahkan kakinya tanpa mau menunggu respon dari ketiga sahabatnya.

Satu hal yang mereka tahu.

Sanny tidaklah pulang kerumahnya.

Tak selang berapa menit setelah Sanny pergi, bunyi dering ponsel Vano terdengar, segera ia merogoh ponselnya yang berada didalam saku celananya.

Ketua Kelas Kesayangan calling...

Dengan semangat 45, Vano menekan tanda hijau dilayar ponselnya dan menempelkannya pada telinga kanannya.

"Hallo Ketua"

"VANOOOO.. SIAPA YANG NGIJININ ELO BUAT PULANG DULUAN? HARI INI ELO PIKET MONYET!!"

Vano menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu sesaat kemudian kembali ponselnya di tempelkan lagi ditelinganya.

"Hehehe, sorry sayang, gue lupa kalau gue piket hari ini"

"Sayang sayang pala lo jontos, sekarang balik ke sekolah atau gue yang nyeret lo kesekolah? Gue tahu lo ada dimana"

Vano terkekeh kecil, selalu saja ia suka membuat kekasihnya sekaligus ketua kelas di kelasnya itu marah-marah, Hana nama kekasihnya itu, terlihat lucu dan menggemaskan saat marah-marah, terlebih jika wajahnya yang memerah semakin membuat Vano ingin mencubit pipi Hana.

"VANO LO DENGER GAK SIH?"

"Aduh Ketuaku sayang, gak usah teriak-teriak ya, nanti telinga abang jadi budeg kan berabe urusannya"

"Bodo!! Cepetan balik kesekolah!!"

"Siap Ketua"

Kliikkk

Sambungan telfon dimatikan begitu saja oleh Hana, Vano menggelengkan kepalanya seraya menatap ponselnya. Kemudian ia beranjak dari kursinya dan berlari keluar cafe begitu saja, tanpa memperdulikan Bian yang memanggil namanya.

"Udah biarin, paling juga kesekolah" ucap Abi datar masih fokus pada bukunya.

"Kok lo tahu?"

Abi hanya mengendikkan bahunya lalu menutup buku yang sedari tadi ia baca.

"Gue rasa gue harus balik" Abi melirik jam tangannya lalu kemudian memasukkan bukunya kedalam tas miliknya.

"Yah masak semua ninggalin gue, ya udah gue balik juga" Bian mengambil tasnya lalu mengenakannya dipunggungnya.

"Gue duluan" ucap Abi.

"Oke, hati-hati bro!!" Bian menyahut dan kemudian tak lama setelah Abi pergi ia teringat akan sesuatu.

"Anjirrrrr goblok!!!" Bian mengacak rambutnya dengan kesal.

"Maaf mas, sebelum pergi dibayar dulu pesanannya" seorang waitress tiba-tiba muncul dengan membawa bill untuk Bian.

Bian mencebikkan bibirnya kesal, lalu kemudian ia mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru.

"Nih!! Kembaliannya ambil aja" Bian menyerahkan uang tersebut lalu pergi begitu saja.

***

Bersambung
Harap Vommentnya ya..

"ABCD"Where stories live. Discover now